Sabtu, 29 Agustus 2020

Serial Hadist Arbain#23

๐Ÿ’๐Ÿ’ฅ๐Ÿ’ซSERI HADISTS SHAHIH

Hadits Arbain #23: Keutamaan Bersuci, Shalat, Sedekah, Sabar, Shahibul Quran

Oleh Ustadz  Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

https://almanhajsalafiy.blogspot.com/?m=1

Keutamaan bersuci, shalat, sedekah, sabar, dan shahibul Quran akan diterangkan dalam hadits Arbain #23 kali ini.
ุงู„ุญَุฏِูŠْุซُ ุงู„ุซَّุงู„ِุซُ ูˆَุงู„ุนِุดْุฑُูˆْู†َ

ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ู…َุงู„ِูƒٍ ุงู„ุญَุงุฑِุซِ ุจْู†ِ ุนَุงุตِู…ٍ ุงู„ุฃَุดْุนَุฑِูŠِّ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู†ْู‡ُ ู‚َุงู„َ: ู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ:) ุงู„ุทُّู‡ُูˆุฑُ ุดَุทْุฑُ ุงู„ุฅِูŠْู…َุงู†ِ، ูˆَุงู„ุญَู…ْุฏُ ู„ู„ู‡ِ ุชَู…ْู„ุฃُ ุงู„ู…ِูŠْุฒَุงู†َ، ูˆَุณُุจْุญَุงู†َ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆุงู„ุญَู…ْุฏُ ู„ู„ู‡ِ ุชَู…ْู„ุขู†ِ – ุฃَูˆ ุชَู…ْู„ุฃُ – ู…َุง ุจَูŠْู†َ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ ูˆَุงู„ุฃَุฑْุถِ، ูˆَุงู„ุตَّู„ุงุฉُ ู†ُูˆุฑٌ، ูˆุงู„ุตَّุฏَู‚َุฉُ ุจُุฑْู‡َุงู†ٌ، ูˆَุงู„ุตَّุจْุฑُ ุถِูŠَุงุกٌ، ูˆَุงู„ู‚ُุฑْุขู†ُ ุญُุฌَّุฉٌ ู„َูƒَ ุฃَูˆْ ุนَู„َูŠْูƒَ، ูƒُู„ُّ ุงู„ู†َّุงุณِ ูŠَุบْุฏُูˆ ูَุจَุงุฆِุนٌ ู†َูْุณَู‡ُ ูَู…ُุนْุชِู‚ُู‡َุง ุฃَูˆ ู…ُูˆْุจِู‚ُู‡َุง ุฑَูˆَุงู‡ُ ู…ُุณْู„ِู…ٌ.

 ๐Ÿ“ŒHadits Ke-23

Dari Abu Malik Al-Harits bin ‘Ashim Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Bersuci itu sebagian dari iman, ucapan alhamdulillah (segala puji bagi Allah) itu memenuhi timbangan. Ucapan subhanallah (Mahasuci Allah) dan alhamdulillah (segala puji bagi Allah), keduanya memenuhi antara langit dan bumi. Shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti nyata, kesabaran adalah sinar, Al-Qur’an adalah hujjah yang membelamu atau hujjah yang menuntutmu. Setiap manusia berbuat, seakan-akan ia menjual dirinya, ada yang memerdekakan dirinya sendiri, ada juga yang membinasakan dirinya sendiri.’” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 223]

๐Ÿ“ŒPenjelasan Hadits

Bersuci yang dimaksudkan adalah meninggalkan kesyirikan, dosa, dan maksiat serta berlepas diri darinya. Bisa pula diartikan bersuci di sini dengan wudhu untuk shalat karena wudhu adalah syarat sah shalat. Sedangkan penyebutan iman kadang dimaksudkan untuk shalat seperti dalam ayat,

ูˆَู…َุง ูƒَุงู†َ ุงู„ู„َّู‡ُ ู„ِูŠُุถِูŠุนَ ุฅِูŠู…َุงู†َูƒُู…ْ

“Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Ath-thuhur artinya perbuatan untuk bersuci, sedangkan ath-thohur artinya air yang digunakan untuk bersuci. Sama seperti kata al-wudhu artinya perbuatan berwudhu, sedangkan al-wadhu artinya air yang digunakan untuk berwudhu.

Bacaan alhamdulillah memenuhi timbangan. Sedangkan bacaan subhanallah dan alhamdulillah memenuhi langit dan bumi, bisa jadi dengan dua bacaan tersebut bersama-sama atau salah satunya.

Tasbih berarti menyucikan Allah dari berbagai kekurangan. Sedangkan tahmid adalah menyifatkan Allah dengan berbagai sifat kesempurnaan.

Shalat adalah cahaya, yaitu cahaya pada hati dan cahaya pada wajah. Cahaya ini adalah hidayah dan juga akan menjadi cahaya pada hari kiamat.

Sedekah adalah bukti benarnya iman seseorang karena biasanya jiwa bersifat pelit dengan harta. Sifat orang munafik biasa beramal atas dasar riya’. Ia sulit bersedekah karena pelitnya pada harta.

Sabar sendiri mencakup tiga hal, yaitu sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar dalam menghadapi takdir yang menyakitkan. Orang bisa bersabar menandakan akan kuatnya iman dan pandangannya yang bagus (bercahaya), sehingga disebutlah sabar itu dhiya’ (cahaya).

Al-Qur’an itu bisa jadi pendukung kita atau akan menuntut kita. Al-Qur’an bisa menjadi pendukung jika kita membenarkan, menjalankan perintah, dan menjauhi larangan yang ada di dalamnya, serta membacanya dengan benar. Sebaliknya Al-Qur’an akan menuntut kita ketika kita berpaling darinya dan tidak menjalankan sebagaimana yang dituntut.

Kita bisa mengambil pelajaran dari hadits berikut.

، ุฃู†َّ ู†َุงูِุนَ ุจู†َ ุนุจุฏِ ุงู„ุญَุงุฑِุซِ، ู„َู‚ِูŠَ ุนُู…َุฑَ ุจุนُุณْูَุงู†َ، ูˆَูƒุงู†َ ุนُู…َุฑُ ูŠَุณْุชَุนْู…ِู„ُู‡ُ ุนู„َู‰ ู…َูƒَّุฉَ، ูَู‚ุงู„َ: ู…َู†ِ ุงุณْุชَุนْู…َู„ْุชَ ุนู„َู‰ ุฃَู‡ْู„ِ ุงู„ูˆَุงุฏِูŠ، ูَู‚ุงู„َ ุงุจْู†َ ุฃَุจْุฒَู‰، ู‚ุงู„َ: ูˆَู…َู†ِ ุงุจู†ُ ุฃَุจْุฒَู‰؟ ู‚ุงู„َ: ู…َูˆْู„ًู‰ ู…ِู† ู…َูˆَุงู„ِูŠู†َุง، ู‚ุงู„َ: ูَุงุณْุชَุฎْู„َูْุชَ ุนู„ูŠู‡ู… ู…َูˆْู„ًู‰؟ ู‚ุงู„َ: ุฅู†َّู‡ ู‚َุงุฑِุฆٌ ู„ِูƒِุชَุงุจِ ุงู„ู„ู‡ِ ุนَุฒَّ ูˆَุฌَู„َّ، ูˆุฅู†َّู‡ ุนَุงู„ِู…ٌ ุจุงู„ูَุฑَุงุฆِุถِ، ู‚ุงู„َ ุนُู…َุฑُ: ุฃَู…ุง ุฅู†َّ ู†َุจِูŠَّูƒُู…ْ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนู„ูŠู‡ ูˆَุณَู„َّู…َ ู‚ุฏْ ู‚ุงู„َ: ุฅู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูŠَุฑْูَุนُ ุจู‡ุฐุง ุงู„ูƒِุชَุงุจِ ุฃَู‚ْูˆَุงู…ًุง، ูˆَูŠَุถَุนُ ุจู‡ ุขุฎَุฑِูŠู†َ.

Nafi’ bin ‘Abdul Harits pernah bertemu ‘Umar di ‘Usfan dan ketika itu ‘Umar menugaskan Nafi’ untuk mengurus kota Makkah.

Umar pun bertanya, “Kalau begitu siapa yang mengurus penduduk Al-Wadi?”

“Ibnu Abza”, jawab Nafi’.

Umar balik bertanya, “Siapa Ibnu Abza”.

Ketika itu dijawab, “Dia adalah di antara bekas budak kami.”

Umar terheran dan berkata, “Kenapa bisa yang engkau tugaskan adalah bekas budak?”

Nafi’ menjawab, “Ia itu paham Al Qur’an dan memahami ilmu faraidh (waris).”

Umar berkata, “Sesungguhnya nabi kalian itu bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seseorang dengan kitab ini (Al-Qur’an) dan merendahkan yang lain dengan kitab ini.” (HR. Muslim, no. 817)

Maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Setiap manusia berbuat, seakan-akan ia menjual dirinya, ada yang memerdekakan dirinya sendiri, ada juga yang membinasakan dirinya sendiri, manusia terbagi menjadi dua. Pertama, manusia yang menjual dirinya pada Allah dengan melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat, maka ia bebas dari neraka dan selamat dari godaan setan. Kedua, manusia yang menjatuhkan dirinya dalam maksiat dan dosa, ia terjatuh dalam syahwat yang terlarang, itulah yang mengantarkan ia pada neraka.

๐Ÿ“ŒFaedah Hadits

1.Hadits ini menunjukkan keutamaan bersuci.
2.Hadits ini menunjukkan keutamaan tahmid (ucapan alhamdulillah) dan tasbih (subhanallah).
3.Adanya mizan (timbangan) pada hari kiamat, dan amalan akan ditimbang.
4. Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat, shalat adalah cahaya di dunia dan akhirat.
5.Hadits ini menunjukkan keutamaan sedekah, yaitu jadi bukti benarnya iman seseorang.
6.Hadits ini menunjukkan keutamaan sabar karena akan jadi cahaya bagi pemiliknya.
7.Kita dimotivasi untuk perhatian pada Al-Qur’an dengan cara belajar, merenungkannya (tadabbur), dan mengamalkannya, supaya Al-Qur’an bisa mendukung kita pada hari kiamat.
8.Kita diingatkan agar tidak lalai dari memperhatikan Al-Qur’an karena Al-Qur’an bisa menuntut kita pada hari kiamat.
9.Setiap amal saleh akan membebaskan jiwa seseorang dari kesulitan dunia dan akhirat.
10.Setiap amal kejelekan akan menjadikan seseorang sebagai wali setan dan mengantarkannya pada neraka.

Wallahul muwaffiq. Semoga Allah memberi taufik.

Referensi:Fath Al–Qawi Al-Matin fi Syarh Al-Arba’in wa Tatimmat Al-Khamsin li An-Nawawi wa Ibnu Rajab rahimahumallah. Cetakan kedua, Tahun 1436 H. Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamad Al-‘Abbad Al-Badr.Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.

Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

 ๐Ÿ”€ Chanel Grup WA Al Manhaj Salafiy GMS

Fanspage:https://www.facebook.com/AlManhajSalafiy/
Telegram :http://t.me/Salafiyyah_GMS
Website:https://almanhajsalafiygms.wordpress.com
*join grup khusus wanita Grup Manhaj salaf 4️⃣* 
https://chat.whatsapp.com/5vHaP7zfQHrHjTCZiYLe4R
Kunjungi websit kami
Bagi anda yang berminat  membeli buku2 cara menulis arab untuk anak2 tercinta di usia dini 4,5 tahun klik link⬇️
https://www.metodeabana.com/p/arin_25.html

✅ Silakan di-share

Jumat, 28 Agustus 2020

Serial Hadist Arbain#22

*๐Ÿ’๐Ÿ’ฅ๐Ÿ’ซSERIAL HADISTS SHAHIH*

*Hadits Arbain #22: Shalat, Puasa, Menghalalkan yang Halal, Mengharamkan yang Haram*

Oleh Ustad Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

https://almanhajsalafiy.blogspot.com/?m=1

Jalan menuju surga, yaitu dengan shalat, puasa, menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang haram.

ุงู„ุญَุฏِูŠْุซُ ุงู„ุซَّุงู†ِูŠ ูˆَุงู„ุนِุดْุฑُูˆْู†َ

ุนَู†ْ ุฃَุจูŠْ ุนَุจْุฏِ ุงู„ู„ู‡ِ ุฌَุงุจِุฑِ ุจู†ِ ุนَุจْุฏِ ุงู„ู„ู‡ِ ุงู„ุฃَู†ْุตَุงุฑِูŠِّ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู†ْู‡ُ ุฃَู†َّ ุฑَุฌُู„ุงً ุณَุฃَู„َ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูَู‚َุงู„َ: “ุฃَุฑَุฃَูŠْุชَ ุฅِุฐุง ุตَู„َّูŠْุชُ ุงู„ู…َูƒْุชُูˆุจَุงุชِ، ูˆَุตُู…ْุชُ ุฑَู…َุถَุงู†َ، ูˆَุฃَุญْู„َู„ْุชُ ุงู„ุญَู„ุงَู„َ، ูˆَุญَุฑَّู…ْุชُ ุงู„ุญَุฑَุงู…َ، ูˆَู„َู…ْ ุฃَุฒِุฏْ ุนَู„ู‰ ุฐَู„ِูƒَ ุดَูŠุฆุงً ุฃَุฏْุฎُู„ُ ุงู„ุฌَู†َّุฉَ؟ ู‚َุงู„َ: ู†َุนَู…ْ”ุฑَูˆَุงู‡ُ ู…ُุณْู„ِู…ٌ

ูˆَู…َุนْู†َู‰ ุญَุฑَّู…ْุชُ ุงู„ุญَุฑَุงู…َ ุงِุฌْุชَู†َุจْุชُู‡ُ، ูˆَู…َุนْู†َู‰ ุฃَุญْู„َู„ْุชُ ุงู„ุญَู„ุงู„َ ูَุนَู„ْุชُู‡ُ ู…ُุนْุชَู‚ِุฏุงً ุญِู„َّู‡ُ

๐Ÿ“ŒHadits Ke-22

Dari Abu ‘Abdillah Jarir bin ‘Abdillah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Bagaimana pendapat Anda (kabarkan padaku), apabila aku mengerjakan shalat-shalat fardhu, puasa di bulan Ramadhan, menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, dan aku tidak menambahnya sedikit pun dari itu, apakah aku akan masuk surga?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.” (HR. Muslim). [HR. Muslim, no. 15]

Makna “Aku mengharamkan yang haram”, ialah aku menjauhinya. Dan makna “Aku menghalalkan yang halal” ialah aku menghalalkannya lalu melakukannya dengan meyakini kehalalannya. Wallahu a’lam.

๐Ÿ“ŒPenjelasan Hadits

Shiyam secara bahasa berarti menahan diri dari sesuatu. Menurut istilah syariat, shiyam adalah menahan diri dari berbagai pembatal dari terbit fajar hingga terbenam matahari dalam rangka beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla.

Menghalalkan yang halal maksudnya adalah: (1) meyakini kehalalannya, (2) mengamalkannya.

Mengharamkan yang haram maksudnya adalah menjauhi yang haram dengan meyakini keharamannya.

Surga adalah negeri yang penuh kenikmatan yang Allah sediakan bagi orang bertakwa. Tentang surga disebutkan dalam ayat,

ูَู„َุง ุชَุนْู„َู…ُ ู†َูْุณٌ ู…َุง ุฃُุฎْูِูŠَ ู„َู‡ُู…ْ ู…ِู†ْ ู‚ُุฑَّุฉِ ุฃَุนْูŠُู†ٍ ุฌَุฒَุงุกً ุจِู…َุง ูƒَุงู†ُูˆุง ูŠَุนْู…َู„ُูˆู†َ

“Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17)

Dalam hadits qudsi, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

ุฃَุนْุฏَุฏْุชُ ู„ِุนِุจَุงุฏِู‰ ุงู„ุตَّุงู„ِุญِูŠู†َ ู…َุง ู„ุงَ ุนَูŠْู†َ ุฑَุฃَุชْ ، ูˆَู„ุงَ ุฃُุฐُู†َ ุณَู…ِุนَุชْ ، ูˆَู„ุงَ ุฎَุทَุฑَ ุนَู„َู‰ ู‚َู„ْุจِ ุจَุดَุฑٍ

ูَุงู‚ْุฑَุกُูˆุง ุฅِู†ْ ุดِุฆْุชُู…ْ ( ูَู„ุงَ ุชَุนْู„َู…ُ ู†َูْุณٌ ู…َุง ุฃُุฎْูِู‰َ ู„َู‡ُู…ْ ู…ِู†ْ ู‚ُุฑَّุฉِ ุฃَุนْูŠُู†ٍ )

“Aku telah sediakan pada hambaku yang saleh, sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik dalam hati manusia. Bacalah jika kalian mau: Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang.” (HR. Bukhari, no. 3244 dan Muslim, no. 2824)

Ada juga hadits yang menyebutkan bahwa sedikit amalan saja bisa membuat seseorang masuk surga yaitu ketika mencukupi dengan yang wajib.

Thalhah bin ‘Ubaidilah radhiyallahu ‘anhu berkata,

ุฌَุงุกَ ุฑَุฌُู„ٌ ุฅِู„َู‰ ุฑَุณُูˆู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ู…ِู†ْ ุฃَู‡ْู„ِ ู†َุฌْุฏٍ ، ุซَุงุฆِุฑُ ุงู„ุฑَّุฃْุณِ ، ูŠُุณْู…َุนُ ุฏَูˆِู‰ُّ ุตَูˆْุชِู‡ِ ، ูˆَู„ุงَ ูŠُูْู‚َู‡ُ ู…َุง ูŠَู‚ُูˆู„ُ ุญَุชَّู‰ ุฏَู†َุง ، ูَุฅِุฐَุง ู‡ُูˆَ ูŠَุณْุฃَู„ُ ุนَู†ِ ุงู„ุฅِุณْู„ุงَู…ِ ูَู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ – – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – « ุฎَู…ْุณُ ุตَู„َูˆَุงุชٍ ูِู‰ ุงู„ْูŠَูˆْู…ِ ูˆَุงู„ู„َّูŠْู„َุฉِ » . ูَู‚َุงู„َ ู‡َู„ْ ุนَู„َู‰َّ ุบَูŠْุฑُู‡َุง ู‚َุงู„َ « ู„ุงَ ، ุฅِู„ุงَّ ุฃَู†ْ ุชَุทَูˆَّุนَ » . ู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – « ูˆَุตِูŠَุงู…ُ ุฑَู…َุถَุงู†َ » . ู‚َุงู„َ ู‡َู„ْ ุนَู„َู‰َّ ุบَูŠْุฑُู‡ُ ู‚َุงู„َ « ู„ุงَ ، ุฅِู„ุงَّ ุฃَู†ْ ุชَุทَูˆَّุนَ » . ู‚َุงู„َ ูˆَุฐَูƒَุฑَ ู„َู‡ُ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ุงู„ุฒَّูƒَุงุฉَ . ู‚َุงู„َ ู‡َู„ْ ุนَู„َู‰َّ ุบَูŠْุฑُู‡َุง ู‚َุงู„َ « ู„ุงَ ، ุฅِู„ุงَّ ุฃَู†ْ ุชَุทَูˆَّุนَ » . ู‚َุงู„َ ูَุฃَุฏْุจَุฑَ ุงู„ุฑَّุฌُู„ُ ูˆَู‡ُูˆَ ูŠَู‚ُูˆู„ُ ูˆَุงู„ู„َّู‡ِ ู„ุงَ ุฃَุฒِูŠุฏُ ุนَู„َู‰ ู‡َุฐَุง ูˆَู„ุงَ ุฃَู†ْู‚ُุตُ . ู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – « ุฃَูْู„َุญَ ุฅِู†ْ ุตَุฏَู‚َ»

“Ada seorang lelaki yang beruban kepalanya dari Ahli Najd datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami dapat mendengar gema suaranya tetapi tidak memahami apa yang ia katakan, sampai ia berada dekat dengan beliau.

Ternyata ia bertanya tentang Islam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Islam itu mengerjakan shalat lima waktu sehari semalam.”

Laki-laki tersebut bertanya lagi, “Apakah ada kewajiban lain selain itu untukku?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin menambah dengan yang sunnah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan lagi, “Islam juga mengerjakan puasa di bulan Ramadhan.”

Laki-laki tersebut bertanya lagi, “Apakah ada kewajiban lain selain itu untukku?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin menambah dengan yang sunnah.”

Thalhah melanjutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan lagi tentang masalah zakat. Laki-laki tersebut bertanya lagi, “Apakah ada kewajiban lain selain itu untukku?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin menambah dengan yang sunnah.”

Lalu lelaki tersebut berbalik pergi lalu berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menambahkan dan juga mengurangi sedikit pun darinya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Beruntunglah orang tersebut jika ia jujur.” (HR. Bukhari, no. 46 dan Muslim, no. 11)

 

๐Ÿ“ŒFaedah Hadits

1.Para sahabat semangat dalam bertanya.
2.Tujuan para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah masuk surga, itu tujuan utamanya. Tujuan utama mereka hidup bukanlah untuk memperbanyak harta, memiliki banyak anak, tidak untuk bermegah-megahan dalam hal dunia.
3.Dalam hadits ini disebutkan empat macam ibadah yaitu shalat lima waktu, puasa Ramadhan, menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang haram.
4.Manusia jika mencukupkan dengan shalat lima waktu, maka ia dimudahkan masuk surga.
5.Shalat lima waktu dan puasa merupakan sebab masuk surga. Ada hadits yang menyebutkan bahwa siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan ihtisaban (berharap pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
6.Pengertian masuk surga karena sebagian amalan yang dikerjakan punya dua kemungkinan makna: (1) ia masuk surga selama terpenuhinya syarat dan tercegah dari penghalang; (2) ia masuk surga selama bertauhid karena tauhidlah yang membuat shalat, zakat, puasa, serta amalan lain diterima.
7.Pengertian masuk surga juga ada dua makna–menurut Syaikh Shalih Alu Syaikh hafizhahullah–yaitu masuk surga untuk pertama kali, atau yang penting masuk surga walaupun tertunda.
8.Tidak boleh mencegah seseorang dari yang halal.
9.Definisi Imam Nawawi rahimahullah, mengharamkan yang haram adalah menjauhi yang haram. Yang tepat adalah meyakini haramnya dan menjauhinya. Karena kalau tidak diyakini keharamannya berarti tidak meyakini hukum syar’i. Begitu pula menghalalkan yang halal adalah meyakini halalnya dan melakukan yang halal tersebut. Berarti pengertian dari Imam Nawawi ada kekurangan.
10.Zakat dan haji tidak disebutkan dalam hadits ini dan ia beramal hanya terbatas pada empat amalan saja membuatnya masuk surga. Ada dua alasan untuk menjawab hal ini: (1) zakat dan haji jika tidak dikerjakan sudah masuk dalam kalimat “mengharamkan yang haram”; (2) yang dimaksud masuk surga adalah jika terpenuhi syarat dan terlepas dari penghalang, atau masuk surganya tertunda.

Wallahul muwaffiq. Semoga Allah memberi taufik.

Referensi:Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Azzi bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh. Penerbit Darul ‘Ashimah.

Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

 ๐Ÿ”€ Chanel Grup WA Al Manhaj Salafiy GMS

Fanspage:https://www.facebook.com/AlManhajSalafiy/
Telegram :http://t.me/Salafiyyah_GMS
Website:https://almanhajsalafiygms.wordpress.com
*join grup khusus wanita Grup Manhaj salaf 4️⃣*
https://chat.whatsapp.com/5vHaP7zfQHrHjTCZiYLe4R
Kunjungi websit kami
Bagi anda yang berminat  membeli buku2 cara menulis arab untuk anak2 tercinta di usia dini 4,5 tahun klik link⬇️
https://www.metodeabana.com/p/arin_25.html

✅ Silakan di-share

Selasa, 25 Agustus 2020

Serial Hadist Arbain#21

๐Ÿ’๐Ÿ’ฅ๐Ÿ’ซSERI HADIS SHAHIH

Hadits Arbain #21: Beriman kepada Allah dan Istiqamahlah

Oleh Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

https://almanhajsalafiy.blogspot.com/?m=1

Ada dua kalimat yang jadi nasihat berharga dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu berimanlah kepada Allah dan istiqamahlah.

ุงู„ุญَุฏِูŠْุซُ ุงู„ุญَุงุฏِูŠ ูˆَุงู„ุนِุดْุฑِูŠْู†َ

ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠْ ุนَู…ْุฑٍูˆ، ูˆَู‚ِูŠْู„َ، ุฃَุจِูŠْ ุนَู…ْุฑَุฉَ ุณُูْูŠَุงู†َ ุจْู†ِ ุนَุจْุฏِ ุงู„ู„ู‡ِ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู†ْู‡ُ ู‚َุงู„َ: ู‚ُู„ْุชُ ูŠَุงุฑَุณُูˆْู„َ ุงู„ู„ู‡ِ ู‚ُู„ْ ู„ِูŠْ ูِูŠ ุงู„ุฅِุณْู„ุงู…ِ ู‚َูˆْู„ุงً ู„ุงَ ุฃَุณْุฃَู„ُ ุนَู†ْู‡ُ ุฃَุญَุฏَุงً ุบَูŠْุฑَูƒَ؟ ู‚َุงู„َ: “ู‚ُู„ْ ุขู…َู†ْุชُ ุจุงู„ู„ู‡ِ ุซُู…َّ ุงุณุชَู‚ِู…ْ” ุฑَูˆَุงู‡ُ ู…ُุณْู„ِู…ٌ

๐Ÿ“ŒHadits Ke-21

Dari Abu ‘Amr—ada yang menyebut pula Abu ‘Amrah—Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Beliau bersabda, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 38]

๐Ÿ“ŒPenjelasan Hadits

Kalimat “katakanlah suatu perkataan dalam Islam” yaitu dalam syariat Islam.

Kalimat “suatu perkataan yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu”, maksudnya kalimat tersebut sangat berbeda, kalimat tersebut sudah jadi definisi, sifat kalimat tersebut jaami’ dan maani’. Jaami’ dan maani’ artinya memasukkan semua yang tercakup di dalamnya dan mengeluarkan yang tidak tercakup di dalamnya.

Beriman kepada Allah itu terkait dengan amalan hati, sedangkan “kemudian istiqamahlah” berarti istiqamah dalam ketaatan termasuk amalan jawarih (anggota badan).

๐Ÿ“ŒFaedah Hadits

Para sahabat sangat semangat dalam mencari ilmu. Hal ini dibuktikan dengan semangatnya mereka dalam bertanya.Sufyan bin ‘Abdillah Ats-Tsaqafi menanyakan perkara yang penting karena sudah cukup tanpa perlu ditanyakan kepada selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Sufyan bin ‘Abdillah Ats-Tsaqafi mungkin saja bertanya kepada sahabat lainnya dalam masalah ilmu, dan ada di antara mereka yang bisa berfatwa. Namun karena begitu pentingnya masalah ini, hanyalah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diharapkan menjawabnya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dikaruniakan jawaami’ul kalim, yaitu kalimat yang ringkas namun sarat makna. Dan ini tercakup dalam dua kalimat dalam hadits ini yaitu “aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah”.

Allah Ta’ala berfirman,

ุฅِู†َّ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ู‚َุงู„ُูˆุง ุฑَุจُّู†َุง ุงู„ู„َّู‡ُ ุซُู…َّ ุงุณْุชَู‚َุงู…ُูˆุง ูَู„َุง ุฎَูˆْูٌ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ูˆَู„َุง ู‡ُู…ْ ูŠَุญْุฒَู†ُูˆู†َ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” (QS. Al-Ahqaf: 13)

ุฅِู†َّ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ู‚َุงู„ُูˆุง ุฑَุจُّู†َุง ุงู„ู„َّู‡ُ ุซُู…َّ ุงุณْุชَู‚َุงู…ُูˆุง ุชَุชَู†َุฒَّู„ُ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ُ ุงู„ْู…َู„َุงุฆِูƒَุฉُ ุฃَู„َّุง ุชَุฎَุงูُูˆุง ูˆَู„َุง ุชَุญْุฒَู†ُูˆุง ูˆَุฃَุจْุดِุฑُูˆุง ุจِุงู„ْุฌَู†َّุฉِ ุงู„َّุชِูŠ ูƒُู†ْุชُู…ْ ุชُูˆุนَุฏُูˆู†َ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu“.” (QS. Fushshilat: 30)

ูَุงุณْุชَู‚ِู…ْ ูƒَู…َุง ุฃُู…ِุฑْุชَ ูˆَู…َู†ْ ุชَุงุจَ ู…َุนَูƒَ ูˆَู„َุง ุชَุทْุบَูˆْุงุۚฅِู†َّู‡ُ ุจِู…َุง ุชَุนْู…َู„ُูˆู†َ ุจَุตِูŠุฑٌ

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112)

Istilah istiqamah lebih tepat dibanding dengan iltizam. Sehingga orang yang istiqamah disebut mustaqim, bukan multazim.Siapa saja yang kurang dalam melakukan yang wajib, berarti ia tidak istiqamah, dalam dirinya terdapat penyimpangan. Ia semakin dikatakan menyimpang sekadar dengan hal wajib yang ditinggalkan dan keharaman yang dikerjakan.Sekarang tinggal kita koreksi diri, apakah kita benar-benar istiqamah ataukah tidak. Jika benar-benar istiqamah, maka bersyukurlah kepada Allah. Jika tidak istiqamah, maka wajib baginya kembali kepada jalan Allah.Istiqamah itu mencakup segala macam amal. Siapa yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya, maka ia tidak istiqamah. Siapa yang enggan bayar zakat, maka ia tidak istiqamah. Siapa yang menjatuhkan kehormatan orang lain, ia juga tidak istiqamah. Siapa yang menipu dan mengelabui dalam jual beli, juga dalam sewa-menyewa, maka ia tidak disebut istiqamah.

๐Ÿ’ฅBagaimana cara istiqamah?


⛔Ada tiga kiat utama yang bisa diamalkan.

๐Ÿ“ŒPertama: Mencari teman bergaul yang saleh.

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ู…َุซَู„ُ ุงู„ْุฌَู„ِูŠุณِ ุงู„ุตَّุงู„ِุญِ ูˆَุงู„ْุฌَู„ِูŠุณِ ุงู„ุณَّูˆْุกِ ูƒَู…َุซَู„ِ ุตَุงุญِุจِ ุงู„ْู…ِุณْูƒِ ، ูˆَูƒِูŠุฑِ ุงู„ْุญَุฏَّุงุฏِ ، ู„ุงَ ูŠَุนْุฏَู…ُูƒَ ู…ِู†ْ ุตَุงุญِุจِ ุงู„ْู…ِุณْูƒِ ุฅِู…َّุง ุชَุดْุชَุฑِูŠู‡ِ ، ุฃَูˆْ ุชَุฌِุฏُ ุฑِูŠุญَู‡ُ ، ูˆَูƒِูŠุฑُ ุงู„ْุญَุฏَّุงุฏِ ูŠُุญْุฑِู‚ُ ุจَุฏَู†َูƒَ ุฃَูˆْ ุซَูˆْุจَูƒَ ุฃَูˆْ ุชَุฌِุฏُ ู…ِู†ْู‡ُ ุฑِูŠุญًุง ุฎَุจِูŠุซَุฉً

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101)

๐Ÿ“ŒKedua: Rajin hadiri majelis ilmu.

Dari Hanzhalah Al-Usayyidiy–beliau adalah di antara juru tulis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam–, ia berkata, “Abu Bakr pernah menemuiku, lalu ia berkata padaku, “Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?” Aku menjawab, “Hanzhalah kini telah jadi munafik.” Abu Bakr berkata, “Subhanallah, apa yang engkau katakan?” Aku menjawab, “Kami jika berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami teringat neraka dan surga sampai-sampai kami seperti melihatnya di hadapan kami. Namun ketika kami keluar dari majelis Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami bergaul dengan istri dan anak-anak kami, sibuk dengan berbagai urusan, kami pun jadi banyak lupa.” Abu Bakr pun menjawab, “Kami pun begitu.”

Kemudian aku dan Abu Bakr pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, jika kami berada di sisimu, kami akan selalu teringat pada neraka dan surga sampai-sampai seolah-olah surga dan neraka itu benar-benar nyata di depan kami. Namun jika kami meninggalkan majelismu, maka kami tersibukkan dengan istri, anak dan pekerjaan kami, sehingga kami pun banyak lupa.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

ูˆَุงู„َّุฐِู‰ ู†َูْุณِู‰ ุจِูŠَุฏِู‡ِ ุฅِู†ْ ู„َูˆْ ุชَุฏُูˆู…ُูˆู†َ ุนَู„َู‰ ู…َุง ุชَูƒُูˆู†ُูˆู†َ ุนِู†ْุฏِู‰ ูˆَูِู‰ ุงู„ุฐِّูƒْุฑِ ู„َุตَุงูَุญَุชْูƒُู…ُ ุงู„ْู…َู„ุงَุฆِูƒَุฉُ ุนَู„َู‰ ูُุฑُุดِูƒُู…ْ ูˆَูِู‰ ุทُุฑُู‚ِูƒُู…ْ ูˆَู„َูƒِู†ْ ูŠَุง ุญَู†ْุธَู„َุฉُ ุณَุงุนَุฉً ูˆَุณَุงุนَุฉً ». ุซَู„ุงَุซَ ู…َุฑَّุงุชٍ

“Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya kalian mau kontinu dalam beramal sebagaimana keadaan kalian ketika berada di sisiku dan kalian terus mengingat-ingatnya, maka niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidurmu dan di jalan. Namun Hanzhalah, lakukanlah sesaat demi sesaat.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. (HR. Muslim no. 2750).

๐Ÿ“ŒKetiga: Memperbanyak doa kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

ุฑَุจَّู†َุง ู„َุง ุชُุฒِุบْ ู‚ُู„ُูˆุจَู†َุง ุจَุนْุฏَ ุฅِุฐْ ู‡َุฏَูŠْุชَู†َุง ูˆَู‡َุจْ ู„َู†َุง ู…ِู†ْ ู„َุฏُู†ْูƒَ ุฑَุญْู…َุฉً ุฅِู†َّูƒَ ุฃَู†ْุชَ ุงู„ْูˆَู‡َّุงุจُ

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran: 8)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ู…ُุตَุฑِّูَ ุงู„ู‚ُู„ُูˆْุจِ ุตَุฑِّูْ ู‚ُู„ُูˆْุจَู†َุง ุนَู„َู‰ ุทَุงุนَุชِูƒَ

“ALLOHUMMA MUSHORRIFAL QULUUB SHORRIF QULUUBANAA ‘ALA THOO’ATIK (artinya: Ya Allah, Sang Pembolak-balik hati, balikkanlah hati kami untuk taat kepada-Mu).” (HR. Muslim, no. 2654)

Dalam riwayat selengkapnya disebutkan,

ุฅِู†َّ ู‚ُู„ُูˆุจَ ุจَู†ِู‰ ุขุฏَู…َ ูƒُู„َّู‡َุง ุจَูŠْู†َ ุฅِุตْุจَุนَูŠْู†ِ ู…ِู†ْ ุฃَุตَุงุจِุนِ ุงู„ุฑَّุญْู…َู†ِ ูƒَู‚َู„ْุจٍ ูˆَุงุญِุฏٍ ูŠُุตَุฑِّูُู‡ُ ุญَูŠْุซُ ูŠَุดَุงุกُ

“Sesungguhnya hati manusia seluruhnya di antara jari jemari Ar-Rahman seperti satu hati, Allah membolak-balikkannya sekehendak-Nya.” (HR. Muslim, no. 2654)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin mengajarkan faedah yang bagus tentang doa ini di mana kalimat ‘ALA THOO’ATIK mempunyai makna sangat dalam. Artinya, kita minta kepada Allah supaya hati kita terus berada pada ketaatan dan tidak beralih kepada maksiat. Hati jika diminta supaya balik pada ketaatan, berarti yang diminta adalah beralih dari satu ketaatan pada ketaatan lainnya, yaitu dari shalat, lalu beralih pada dzikir, lalu beralih pada sedekah, lalu beralih pada puasa, lalu beralih pada menggali ilmu, lalu beralih pada ketaatan lainnya. Maka sudah sepantasnya doa ini diamalkan.

Wallahul muwaffiq. Semoga Allah memberi taufik.

Referensi:Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.Syarh Riyadh Ash–Shalihin. Cetakan ketiga, Tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Kutub Al-‘Alamiyyah.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

 ๐Ÿ”€ Chanel Grup WA Al Manhaj Salafiy GMS

Fanspage:https://www.facebook.com/AlManhajSalafiy/
Telegram :http://t.me/Salafiyyah_GMS
Website:https://almanhajsalafiygms.wordpress.com
*join grup khusus wanita Grup Manhaj salaf 4️⃣* 
https://chat.whatsapp.com/5vHaP7zfQHrHjTCZiYLe4R
Kunjungi websit kami
Bagi anda yang berminat  membeli buku2 cara menulis arab untuk anak2 tercinta di usia dini 4,5 tahun klik link⬇️
https://www.metodeabana.com/p/arin_25.html

✅ Silakan di-share

Senin, 24 Agustus 2020

SERIAL HADIST ARBAIN#20

๐Ÿ’๐Ÿ’ฅ๐Ÿ’ซSERI HADIST SHAHIH

Hadits Arbain #20: Keutamaan Memiliki Sifat Malu

Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

https://almanhajsalafiy.blogspot.com/?m=1

Hadits Arbain #20 berikut berisi bahasan keutamaan memiliki sifat malu, karena ini jadi warisan dari nabi sebelum nabi kita.

ุงู„ุญَุฏِูŠْุซُ ุงู„ุนِุดْุฑُูˆْู†َ

ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ู…َุณْุนُูˆْุฏٍ ุนُู‚ْุจَุฉَ ุจْู†ِ ุนَู…ْุฑٍูˆ ุงู„ุฃَู†ْุตَุงุฑِูŠ ุงู„ุจَุฏْุฑِูŠ – ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู†ْู‡ُ – ู‚َุงู„َ: ู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆْู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ: “ุฅِู†َّ ู…ِู…َّุง ุฃَุฏْุฑَูƒَ ุงู„ู†َّุงุณُ ู…ِู†ْ ูƒَู„ุงَู…ِ ุงู„ู†ُّุจُูˆَّุฉِ ุงู„ุฃُูˆْู„َู‰: ุฅِุฐَุง ู„َู…ْ ุชَุณْุชَุญْูŠِ ูَุงุตْู†َุนْ ู…َุง ุดِุฆْุชَ” ุฑَูˆَุงู‡ُ ุงู„ุจُุฎَุงุฑِูŠ.

Hadits Ke-20

Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, ‘Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang diketahui manusia ialah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!’”

(HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 3484, 6120]

๐Ÿ“ŒPenilaian Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari dari riwayat Manshur bin Al-Mu’tamar dari Rib’iy bin Hirasy dari Abu Mas’ud dari Hudzaifah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ada perbedaan dalam sanad hadits ini. Namun, sebagian besar ahli hadits mengatakan bahwa ini adalah perkataan Abu Mas’ud. Yang mengatakan demikian adalah Al-Bukhari, Abu Zur’ah, Ar-Raziy, Ad-Daruquthniy, dan lain-lain. Yang menunjukkan kebenaran hal ini adalah bahwa telah diriwayatkan dengan jalan lain, dari Abu Mas’ud pada riwayat Masruq. Dikeluarkan pula oleh Ath-Thabraniy dari hadits Abu Ath-Thufail dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga. Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:496.

๐Ÿ“ŒFaedah Hadits

๐Ÿ“ŒPertama: Sifat malu adalah warisan para nabi terdahulu.

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan mengenai perkataan dalam hadits tersebut “Sesungguhnya perkataan yang diwarisi oleh orang-orang dari perkataan nabi-nabi terdahulu.”

“Hadits ini menunjukkan bahwa sifat malu adalah sisa (atsar) dari ajaran Nabi terdahulu. Kemudian manusia menyebarkan dan mewariskan dari para Nabi tersebut pada setiap zaman. Maka hal ini menunjukkan bahwa kenabian terdahulu biasa menyampaikan perkataan ini sehingga tersebarlah di antara orang-orang hingga perkataan ini juga akhirnya sampai pada umat Islam.” (Jami’ Al-‘ulum wa Al-Hikam, 1:497)

Yang dimaksudkan dengan (ุงู„ู†ُّุจُูˆَّุฉِ ุงู„ุฃُูˆْู„َู‰) adalah kenabian terdahulu yaitu (mulai dari) awal Rasul dan Nabi: Nuh, Ibrahim dan lain-lain. Lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Syaikh Shalih Alu Syaikh, hlm. 112.

Perkataan umat terdahulu bisa saja dinukil melalui jalan wahyu yaitu Al-Qur’an, As-Sunnah (hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) atau dinukil dari perkataan orang-orang terdahulu. Lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Syaikh Shalih Alu Syaikh, hlm. 207.

Karena hal ini adalah perkataan Nabi terdahulu maka hal ini menunjukkan bahwa perkataan ini memiliki faedah yang besar sehingga sangat penting sekali untuk diperhatikan.

๐Ÿ“ŒKedua: Ada pelajaran penting yang patut dipahami. Syariat sebelum Islam atau syariat yang dibawa oleh nabi sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terbagi menjadi tiga:

Ajaran yang dibenarkan oleh syariat Islam, maka ajaran ini shahih dan diterima.Ajaran yang dibatalkan oleh syariat Islam, maka ajaran ini bathil dan tertolak.Ajaran yang tidak diketahui dibenarkan atau disalahkan oleh syariat Islam, maka sikap kita adalah tawaqquf (berdiam diri, tidak berkomentar apa-apa). Namun, apabila perkataan semacam ini ingin disampaikan kepada manusia dalam rangka sebagai nasihat dan semacamnya maka hal ini tidaklah mengapa, dengan syarat tidak dianggap bahwa perkataan itu multak benar. (Lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, hlm. 231-232)

Keterangan lainnya diberikan oleh Syaikh Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdil ‘Aziz Asy-Syatsri bahwa syar’un man qablanaa (syariat sebelum kita) ada dua macam:

๐Ÿ“ŒPertama: Syariat yang disebutkan oleh umat sebelum kita, semisal ini tidak dijadikan hukum karena tidak terpercayanya pembawa berita.

๐Ÿ“ŒKedua:  Syariat yang disebutkan oleh syariat kita dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, hal ini dibagi tiga:

Jika dihapus oleh syariat kita, maka tidak bisa dijadikan hukum. Seperti disebutkan dalam hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dihalalkan ghanimah (harta rampasan perang) dan tidak dihalalkan pada orang sebelum nabi.Jika disetujui oleh syariat kita, maka dijadikan hukum. Seperti syariat puasa diwajibkan bagi kita sebagaimana diwajibkan pula pada orang sebelum kita.Jika tidak diketahui dihapus oleh syariat kita ataukah disetujui, inilah yang terjadi perselisihan pendapat di antara para ulama. Madzhab Malikiyah dan Hambali menyatakan bisa dijadikan hukum, hal ini berbeda dengan madzhab Hanafiyah dan Syafi’iyah. Lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah Al-Mukhtashar, hlm. 153.

๐Ÿ“ŒKetiga: Rasa malu merupakan bentuk keimanan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

ุงู„ْุญَูŠَุงุกُ ุดُุนْุจَุฉٌ ู…ِู†َ ุงู„ุฅِูŠู…َุงู†ِ

”Malu merupakan bagian dari keimanan.” (HR. Muslim, no. 161)

๐Ÿ“ŒRasa malu ini juga dipuji oleh Allah.๐Ÿ“Œ

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ุนَุฒَّ ูˆَุฌَู„َّ ุญَูŠِู‰ٌّ ุณِุชِّูŠุฑٌ ูŠُุญِุจُّ ุงู„ْุญَูŠَุงุกَ ูˆَุงู„ุณَّุชْุฑَ ูَุฅِุฐَุง ุงุบْุชَุณَู„َ ุฃَุญَุฏُูƒُู…ْ ูَู„ْูŠَุณْุชَุชِุฑْ

”Sesungguhnya Allah itu Mahamalu dan Maha Menutupi, Allah cinta kepada sifat malu dan tertutup, maka jika salah seorang di antara kalian itu mandi maka hendaklah menutupi diri.” (HR. Abu Daud, no. 4014, dikatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani).

๐Ÿ“ŒKeempat: Malu ada dua macam yang berkaitan dengan hak Allah dan berkaitan dengan hak sesama.

Pertama, malu yang berkaitan dengan hak Allah. Seseorang harus memiliki rasa malu ini, dia harus mengetahui bahwa Allah mengetahui dan melihat setiap perbuatan yang dia lakukan, baik larangan yang diterjangnya maupun perintah yang dilakukannya.

Kedua, malu yang berkaitan dengan hak manusia. Seseorang juga harus memiliki rasa malu ini, agar ketika berinteraksi dengan sesama, ia tidak berperilaku yang tidak pantas (menyelisihi al-muru’ah) dan berakhlak jelek.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah memberi contoh, dalam majelis ilmu, jika seseorang berada di shaf pertama, lalu dia menjulurkan kakinya, maka dia dinilai tidak memiliki rasa malu karena dia tidak menjaga al-muru’ah (kewibawaan). Jika dia duduk di antara teman-temannya, kemudian dia menjulurkan kaki, maka ini tidaklah meniadakan al-muru’ah. Namun, lebih baik lagi jika dia meminta izin pada temannya, “Bolehkah saya menjulurkan kaki?”. (Lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, hlm. 233-234).

๐Ÿ“ŒKelima: Malu juga ada yang merupakan bawaan, dan ada malu yang mesti diusahakan.

Sebagian manusia telah diberi kelebihan oleh Allah Ta’ala rasa malu. Ketika dia masih kecil saja sudah memiliki sifat demikian. Dia malu berbicara kecuali jika ada urusan mendesak atau tidak mau melakukan sesuatu kecuali jika terpaksa, karena dia adalah pemalu.

Sedangkan malu jenis kedua adalah malu karena hasil dilatih. Orang seperti ini biasa cekatan dalam berbicara, berbuat. Kemudian ia berteman dengan orang-orang yang memiliki sifat malu dan dia tertular sifat ini dari mereka. Rasa malu yang pertama di atas lebih utama dari yang kedua ini. (Lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, hlm. 234)

๐Ÿ“ŒBagaimana memupuk sifat malu?

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah dalam Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam menerangkan bahwa malu yang mesti diusahakan bisa diperoleh dari mengenal Allah, mengenal keagungan Allah, merasa Allah dekat dengannya. Inilah tingkatan iman yang paling tinggi, bahkan derajat ihsan yang paling tinggi. Sifat malu bisa muncul pula dari Allah dengan memperhatikan berbagai nikmat-Nya dan melihat kekurangan dalam mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Jika rasa malu yang diusahakan ini pun tidak bisa diraih, maka seseorang tidak akan bisa tercegah dari melakukan keharaman, seakan-akan iman tidak ia miliki, wallahu a’lam.

Hal yang sama juga diterangkan oleh Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah Al-Mukhtashar, hlm. 155-156.

๐Ÿ“ŒKeenam: Perlu diketahui bahwa malu adalah suatu akhlak yang terpuji kecuali jika rasa malu tersebut itu muncul karena enggan melakukan kebaikan atau dapat terjatuh dalam keharaman. Maka jika seseorang enggan untuk melakukan kebaikan seperti enggan untuk nahi mungkar (melarang kemungkaran) padahal ketika itu wajib, maka ini adalah sifat malu yang tercela.

Jadi ingat! Sifat malu itu terpuji jika seseorang yang memiliki sifat tersebut tidak menjadikannya meninggalkan kewajiban atau melakukan yang haram. Lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, hlm. 234.

๐Ÿ“ŒKetujuh: Jika tidak malu, lakukanlah sesukamu.

Para ulama mengatakan bahwa perkataan ini ada dua makna :

๐Ÿ“ŒPertama:

Kalimat tersebut bermakna perintah dan perintah ini bermakna mubah. Maknanya adalah jika perbuatan tersebut tidak membuatmu malu, maka lakukanlah sesukamu. Maka makna pertama ini kembali pada perbuatan.

๐Ÿ“ŒKedua:

Kalimat tersebut bukanlah bermakna perintah. Para ulama memiliki dua tinjauan dalam perkataan kedua ini:

1. Kalimat perintah tersebut bermakna ancaman. Jadi maknanya adalah: Jika kamu tidak memiliki rasa malu, maka lakukanlah sesukamu (ini maksudnya ancaman). Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

ุงุนْู…َู„ُูˆุง ู…َุง ุดِุฆْุชُู…ْ ุฅِู†َّู‡ُ ุจِู…َุง ุชَุนْู…َู„ُูˆู†َ ุจَุตِูŠุฑٌ

”Lakukanlah sesukamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu lakukan.” (QS. Fushilat: 40).

Maksud ayat ini bukanlah maksudnya agar kita melakukan sesuka kita termasuk perkara maksiat. Namun, maksud ayat ini adalah ancaman: Jika kamu tidak memiliki rasa malu, lakukanlah sesukamu. Pasti engkau akan mendapatkan akibatnya.

2. Kalimat perintah tersebut bermakna berita. Jadi maknanya adalah: Jika kamu tidak memiliki rasa malu, maka lakukanlah sesukamu. Dan penghalangmu untuk melakukan kejelekan adalah rasa malu. Jadi bagi siapa yang tidak memiliki rasa malu, maka dia akan terjerumus dalam kejelekan dan kemungkaran. Dan yang menghalangi hal semacam ini adalah rasa malu. Kalimat semacam ini juga terdapat dalam hadits Nabi yang mutawatir,

ู…َู†ْ ูƒَุฐَุจَ ุนَู„َู‰َّ ู…ُุชَุนَู…ِّุฏًุง ูَู„ْูŠَุชَุจَูˆَّุฃْ ู…َู‚ْุนَุฏَู‡ُ ู…ِู†َ ุงู„ู†َّุงุฑِ

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka silakan ambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari, no. 110 dan Muslim, no. 3).

Kalimat ini adalah perintah, namun bermakna khabar (berita). Jadi jika tidak memiliki sifat malu, pasti engkau akan terjerumus dalam kemungkaran. Itu maksud perintah di sini bermakna berita. (Lihat Tawdhih Al-Ahkam, 4:794, Darul Atsar; Syarh Arba’in Syaikh Shalih Alu Syaikh, hlm. 113; Syarh Arba’in Al-Utsaimin, hlm. 207; Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, hlm. 255)

Semoga Allah beri taufik agar kita dihiasi dengan rasa malu.

Referensi:Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah Al-Mukhtashar. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syatsri. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya.Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh. Penerbit Darul ‘Ashimah.

Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

๐Ÿ”€ Chanel Grup WA Al Manhaj Salafiy GMS

Fanspage:https://www.facebook.com/AlManhajSalafiy/
Telegram :http://t.me/Salafiyyah_GMS
Website:https://almanhajsalafiygms.wordpress.com
*join grup khusus wanita Grup Manhaj salaf 4️⃣*
https://chat.whatsapp.com/5vHaP7zfQHrHjTCZiYLe4R
Kunjungi websit kami
Bagi anda yang berminat  membeli buku2 cara menulis arab untuk anak2 tercinta di usia dini 4,5 tahun klik link⬇️
https://www.metodeabana.com/p/arin_25.html

✅ Silakan di-share

Kamis, 20 Agustus 2020

12 Lafaz istighfar sesuai sunnah

➡ 12 Macam Bacaan Istighfar Dan Kapan Disunnahkan Membaca Istighfar

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

Istighfar memiliki beberapa redaksi yang termaktub di dalam al-Qur’an dan Sunnah. Di antara redaksi istighfar yang disebutkan dalam al-Qur’an;

➡ Pertama:

“ุฑุจَّู†َุง ุงุบْูِุฑْ ู„َู†َุง ุฐُู†ُูˆุจَู†َุง ูˆَุฅِุณْุฑَุงูَู†َุง ูِูŠ ุฃَู…ْุฑِู†َุง، ูˆَุซَุจِّุชْ ุฃَู‚ْุฏَุงู…َู†َุง، ูˆุงู†ุตُุฑْู†َุง ุนَู„َู‰ ุงู„ْู‚َูˆْู…ِ ุงู„ْูƒَุงูِุฑِูŠู†َ“.

“Robbanรขghfirlanรข dzunรปbanรข wa isrรดfanรข fรฎ amrinรข, wa tsabbit aqdรขmanรข, wanshurnรข ‘alal qoumil kรขfirรฎn”.

Artinya: “Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan (dalam) urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami. Serta tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”. QS. Ali Imran (3): 147.

➡ Kedua:

“ุฑَุจَّู†َุง ุฅِู†َّู†َุง ุขู…َู†َّุง ูَุงุบْูِุฑْ ู„َู†َุง ุฐُู†ُูˆุจَู†َุง ูˆَู‚ِู†َุง ุนَุฐَุงุจَ ุงู„ู†َّุงุฑِ“.

“Robbanรข innanรข รขmannรข faghfirlanรข dzunรปbanรข wa qinรข ‘adzรขbannรขr”.

Artinya: “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari siksaan neraka”. QS. Ali Imran (3): 16.

➡ Ketiga:

“ุฑَุจَّู†َุง ุฅِู†َّู†َุง ุณَู…ِุนْู†َุง ู…ُู†َุงุฏِูŠًุง ูŠُู†َุงุฏِูŠ ู„ِู„ุฅِูŠู…َุงู†ِ ุฃَู†ْ ุขู…ِู†ُูˆุง ุจِุฑَุจِّูƒُู…ْ ูَุขู…َู†َّุง، ุฑَุจَّู†َุง ูَุงุบْูِุฑْ ู„َู†َุง ุฐُู†ُูˆุจَู†َุง ูˆَูƒَูِّุฑْ ุนَู†َّุง ุณَูŠِّุฆَุงุชِู†َุง، ูˆَุชَูˆَูَّู†َุง ู…َุนَ ุงู„ุฃุจْุฑَุงุฑِ“.

“Robbanรข innanรข sami’nรข munรขdiyan yunรขdรฎ lil รฎmรขni an รขminรป birabbikum fa รขmannรข. Robbanรข faghfir lanรข dzunรปbanรข wa kaffir ‘annรข sayyi’รขtinรข, wa tawaffanรข ma’al abrรดr”.

Artinya: “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman, (yaitu), “Berimanlah kalian kepada Rabbmu”, maka kami pun beriman. Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti”. QS. Ali Imran (3): 193.

➡ Keempat:

“ุฑَุจَّู†َุง ุขู…َู†َّุง ูَุงุบْูِุฑْ ู„َู†َุง ูˆَุงุฑْุญَู…ْู†َุง ูˆَุฃَู†ุชَ ุฎَูŠْุฑُ ุงู„ุฑَّุงุญِู…ِูŠู†َ“.

“Robbanรข รขmannรข faghfir lanรข warhamnรข wa Anta khoirur rรดhimรฎn”.

Artinya: “Wahai Rabb kami, sungguh kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, Engkau adalah pemberi rahmat yang terbaik”. QS. Al-Mu’minun (23): 109.

➡ Kelima:

“ุฑَุจَّู†َุง ุฃَุชْู…ِู…ْ ู„َู†َุง ู†ُูˆุฑَู†َุง ูˆَุงุบْูِุฑْ ู„َู†َุง، ุฅِู†َّูƒَ ุนَู„َู‰ ูƒُู„ِّ ุดَูŠْุกٍ ู‚َุฏِูŠุฑٌ“.

“Robbanรข atmim lanรข nรปronรข waghfirlanรข, innaka ‘alรข kulli syai’in qodรฎr”.

Artinya: “Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”. QS. At-Tahrim (66): 8.

Pada pertemuan lalu kita telah membahas beberapa redaksi istighfar yang termaktub di dalam al-Qur’an. Berikut ini beberapa redaksi istighfar yang disebutkan dalam Hadits;

➡ Keenam:

“ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฃَู†ْุชَ ุฑَุจِّูŠ ู„َุง ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْุชَ ุฎَู„َู‚ْุชَู†ِูŠ، ูˆَุฃَู†َุง ุนَุจْุฏُูƒَ، ูˆَุฃَู†َุง ุนَู„َู‰ ุนَู‡ْุฏِูƒَ ูˆَูˆَุนْุฏِูƒَ ู…َุง ุงุณْุชَุทَุนْุชُ. ุฃَุนُูˆุฐُ ุจِูƒَ ู…ِู†ْ ุดَุฑِّ ู…َุง ุตَู†َุนْุชُ، ุฃَุจُูˆุกُ ู„َูƒَ ุจِู†ِุนْู…َุชِูƒَ ุนَู„َูŠَّ ูˆَุฃَุจُูˆุกُ ู„َูƒَ ุจِุฐَู†ْุจِูŠ، ูَุงุบْูِุฑْ ู„ِูŠ ูَุฅِู†َّู‡ُ ู„َุง ูŠَุบْูِุฑُ ุงู„ุฐُّู†ُูˆุจَ ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْุชَ”

“ALLร”HUMMA ANTA RABBรŽ Lร‚ ILร‚HA ILLร‚ ANTA KHOLAQTANรŽ, WA ANA ‘ABDUKA, WA ANA ‘ALร‚ ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHO’TU. A’ร›DZU BIKA MIN SYARRI Mร‚ SHONA’TU, ABร›`U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABร›`U BIDZANBรŽ, FAGHFIRLรŽ FA INNAHU Lร‚ YAGHFIRUDZ DZUNร›BA ILLร‚ ANTA”

(Ya Allรขh, Engkau adalah Rabbku, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau).

Ini merupakan redaksi istighfar yang paling istimewa, biasa diistilahkan dengan Sayyidul Istighfar. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan keutamaannya, “Barangsiapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore; maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi; maka ia termasuk penghuni surga”. HR. Bukhari dari Syaddad bin Aus radhiyallahu’anhu.

➡ Ketujuh:

“ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฅِู†ِّูŠ ุธَู„َู…ْุชُ ู†َูْุณِูŠ ุธُู„ْู…ًุง ูƒَุซِูŠุฑًุง ูˆَู„َุง ูŠَุบْูِุฑُ ุงู„ุฐُّู†ُูˆุจَ ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْุชَ؛ ูَุงุบْูِุฑْ ู„ِูŠ ู…َุบْูِุฑَุฉً ู…ِู†ْ ุนِู†ْุฏِูƒَ ูˆَุงุฑْุญَู…ْู†ِูŠ، ุฅِู†َّูƒ ุฃَู†ْุชَ ุงู„ْุบَูُูˆุฑُ ุงู„ุฑَّุญِูŠู…ُ”.

“ALLร”HUMMA INNรŽ DZOLAMTU NAFSรŽ DZULMAN KATSรŽRON, WA Lร‚ YAGHFIRUDZ DZUNร›BA ILLร‚ ANTA FAGHFIRLรŽ MAGHFIROTAN MIN ‘INDIKA WARHAMNรŽ, INNAKA ANTAL GHOFร›RUR ROHรŽM”

(Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku sendiri dan tidak ada yang bisa mengampuni dosa melainkan hanya Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari-Mu dan sayangilah aku. Sesungguhnya Engkau Mahapengampun lagi Mahapenyayang).

Redaksi di atas diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam kepada Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu saat beliau meminta diajari doa untuk dibaca di dalam shalatnya. HR. Bukhari dan Muslim.

➡ Kedelapan:

ุฃَุณْุชَุบْูِุฑُ ุงู„ู„َّู‡َ ุงู„ْุนَุธِูŠู…َ ุงู„َّุฐِูŠ ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ู‡ُูˆَ ุงู„ْุญَูŠُّ ุงู„ْู‚َูŠُّูˆู…ُ ، ูˆَุฃَุชُูˆุจُ ุฅِู„َูŠْู‡ِ

“ASTAGHFIRULLร”HAL ‘ADZรŽM ALLADZรŽ Lร‚ ILร‚HA ILLร‚ HUWAL HAYYUL QOYYร›M WA ATร›BU ILAIHI”.

(Aku memohon ampunan kepada Allah yang Mahaagung. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia Yang Mahahidup dan Maha berdiri sendiri).

Barang siapa mengucapkannya, niscaya akan diampuni dosa-dosanya walaupun ia lari dari medan pertempuran. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau juga al-Albany.

Pada pertemuan lalu kita telah membahas beberapa redaksi istighfar yang termaktub di dalam Hadits. Berikut kelanjutannya;

➡ Kesembilan:

“ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุงุบْูِุฑْ ู„َู†َุง ูˆَุงุฑْุญَู…ْู†َุง ูˆَุชُุจْ ุนَู„َูŠْู†َุง ุฅِู†َّูƒَ ุฃَู†ْุชَ ุงู„ุชَّูˆَّุงุจُ ุงู„ุฑَّุญِูŠْู…ُ“

“ALLร”HUMMAGH FIRLANร‚ WAR HAMNร‚ WA TUB ‘ALAINร‚, INNAKA ANTAT TAWWร‚BUR ROHรŽM”

(Ya Allรขh, ampunilah kami dan sayangilah kami, serta terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). HR. An-Nasa’iy dalam al-Kubra.

➡ Kesepuluh:

“ุฃَุณْุชَุบْูِุฑُ ุงู„ู„ู‡َ ูˆَุฃَุชُูˆุจُ ุฅِู„َูŠْู‡ِ”

“ASTAGHFIRULLร”H WA ATร›BU ILAIH”.

(Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya).

Dalam HR. Bukhari, Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihiwasallam dalam sehari membacanya lebih dari tujuhpuluh kali.

➡ Kesebelas:

“ุฑَุจِّ ุงุบْูِุฑْ ู„ِู‰ ูˆَุชُุจْ ุนَู„َู‰َّ ุฅِู†َّูƒَ ุฃَู†ْุชَ ุงู„ุชَّูˆَّุงุจُ ุงู„ุฑَّุญِูŠู…ُ”

“ROBBIGHFIRLรŽ WA TUB ‘ALAYYA INNAKA ANTAT TAWWร‚BUR ROHรŽM”

(Ya Rabbi ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang).

Dalam HR. Abu Dawud yang dinilai sahih oleh al-Albany, Ibn Umar radhiyallahu’anhuma menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sering membaca istighfar di atas dalam sekali duduk sebanyak seratus kali.

Dalam berbagai redaksi di atas, istighfar digandengkan dengan permohonan taubat. Ibn al-Qayyim dalam Madรขrij as-Sรขlikรฎn menjelaskan bahwa jika istighfar disebutkan secara bersamaan dengan taubat, maka yang dimaksud dari istighfar adalah meminta perlindungan dari keburukan dosa yang telah terjadi. Sedangkan taubat adalah kembali dan meminta perlindungan dari keburukan yang dikhawatirkan terjadi di masa yang akan datang, berupa kejelekan amal yang dia perbuat. Maka istighfar adalah menghilangkan keburukan, sedangkan taubat adalah meminta adanya manfaat (kebaikan). Ampunan  akan melindungi diri kita dari keburukan dosa yang telah terjadi. Adapun taubat, setelah adanya perlindungan tersebut, maka terwujudlah apa yang dia cintai atau dia harapkan berupa maslahat atau kebaikan.

➡ Keduabelas:

“ุฃَุณْุชَุบْูِุฑُ ุงู„ู„ู‡َ”

“ASTAGHFIRULLร”H”.

(Aku memohon ampun kepada Allah).

Redaksi di atas dibaca antara lain setiap selesai shalat fardhu, sebanyak tiga kali. Sebagaimana dalam HR. Muslim dari Tsauban radhiyallahu’anhu.

=

➡ Pahala Istighfar

✅ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ,

๏ปญَ๏บ๏ปŸَّ๏บฌِ๏ปฏ ๏ปงَ๏ป”ْ๏บดِ๏ปฐ ๏บ‘ِ๏ปดَ๏บชِ๏ปฉِ ๏ปŸَ๏ปฎْ ๏ปŸَ๏ปขْ ๏บ—ُ๏บฌْ๏ปงِ๏บ’ُ๏ปฎ๏บ ๏ปŸَ๏บฌَ๏ปซَ๏บَ ๏บ๏ปŸ๏ป َّ๏ปชُ ๏บ‘ِ๏ปœُ๏ปขْ ๏ปญَ๏ปŸَ๏บ َ๏บŽ๏บ€َ ๏บ‘ِ๏ป˜َ๏ปฎْ๏ปกٍ ๏ปณُ๏บฌْ๏ปงِ๏บ’ُ๏ปฎ๏ปฅَ๏ป“َ๏ปดَ๏บดْ๏บ˜َ๏ปْ๏ป”ِ๏บฎُ๏ปญ๏ปฅَ ๏บ๏ปŸ๏ป َّ๏ปชَ ๏ป“َ๏ปดَ๏ปْ๏ป”ِ๏บฎُ ๏ปŸَ๏ปฌُ๏ปขْ

“ Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak pernah berbuat dosa, niscaya Allah akan mengganti kalian dengan mendatangkan suatu kaum yang kemudian kaum tersebut berbuat dosa, kemudian mereka meminta ampun kepada Allah, dan Allah akan mengampuni mereka” (HR. Muslim)

=

➡Kapan Disunnahkan Membaca Istighfar

Sejatinya seorang hamba disyariatkan untuk memperbanyak istighfar kapan saja. Al-Hasan al-Bashry menjelaskan, “Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di meja makan kalian, di jalan-jalan kalian, di pasar dan di majlis-majlis kalian. Sungguh kalian itu tidak tahu kapankah ampunan Allah turun”.

Jadi, istighfar itu disyariatkan untuk dibaca kapan pun. Hanya saja hukumnya menjadi wajib saat kita melakukan perbuatan dosa. Dan hukumnya sunnah setelah kita selesai melakukan amal salih. Fungsinya adalah untuk menyempurnakan berbagai kekurangan yang ada di dalamnya.

Namun di sana ada beberapa momen yang mendapatkan penekanan khusus untuk kita baca di dalamnya istighfar. Antara lain:

➡ Pertama: Setelah berwudhu

Selain doa yang sudah makruf, kita juga disunnahkan untuk membaca doa yang termaktub dalam hadits berikut ini:

“ู…َู†ْ ุชَูˆَุถَّุฃَ ูَู‚َุงู„َ: ุณُุจْุญَุงู†َูƒَ ุงู„ู„ّู‡ُู…َّ ูˆَุจِุญَู…ْุฏِูƒَ ุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†ْ ู„ุงَ ุฅِู„ู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุฃَู†ْุชَ ุฃَุณْุชَุบْูِุฑُูƒَ ูˆَุฃَุชُูˆْุจُ ุฅِู„َูŠْูƒَ؛ ูƒُุชِุจَ ูِูŠ ุฑَู‚ٍّ ุซُู…َّ ุทُุจِุนَ ุจِุทَุงุจِุนٍ ูَู„َู…ْ ูŠُูƒْุณَุฑْ ุฅِู„َู‰ ูŠَูˆْู…ِ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ“.

“Barangsiapa berwudhu lalu ia mengucapkan, “Subhรขnakallรขhumma wa bihamdika asyhadu allรข ilรขha illรข Anta, astaghfiruka wa atรปbu ilaik”; niscaya akan ditulis di suatu lembaran lalu distempel dan tidak akan dihapus hingga hari kiamat”. HR. An-Nasa’i dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah dan al-Hakim. Hadits ini dinilai sahih oleh al-Albany.

➡ Kedua: Setelah shalat

ุนَู†ْ ุซَูˆْุจَุงู†َ -ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู†ْู‡ُ- ู‚َุงู„َ: ูƒَุงู†َ ุฑَุณُูˆْู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุฅِุฐَุง ุงู†ْุตَุฑَูَ ู…ِู†ْ ุตَู„ุงَุชِู‡ِ ุงุณْุชَุบْูَุฑَ ุซَู„ุงَุซًุง، ูˆَู‚َุงู„َ: “ุงู„ู„ّู‡ُู…َّ ุฃَู†ْุชَ ุงู„ุณَّู„ุงَู…ُ، ูˆَู…ِู†ْูƒَ ุงู„ุณَّู„ุงَู…ُ، ุชَุจَุงุฑَูƒْุชَ ูŠَุง ุฐَุง ุงู„ْุฌَู„َุงู„ِ ูˆَุงู„ْุฅِูƒْุฑَุงู…ِ”، ู‚ุงَู„َ ุงู„ْูˆَู„ِูŠْุฏُ: ูَู‚ُู„ْุชُ ู„ِู„ْุฃَูˆْุฒَุงุนِูŠ: ูƒَูŠْูَ؟ ู‚َุงู„َ: ุชَู‚ُูˆْู„ُ:”ุฃَุณْุชَุบْูِุฑُ ุงู„ู„ู‡َ، ุฃَุณْุชَุบْูِุฑُ ุงู„ู„ู‡َ“.

Dari Tsauban radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bila selesai shalat beliau beristighfar tiga kali, lalu membaca, “Allรดhumma Antas salรขm wa minkas salรขm, tabรขrokta yรข Dzal jalรขli wal ikrรดm”. Al-Walid (salah satu perawi hadits) bertanya kepada al-Auza’i, “Bagaimanakah cara istighfarnya?”. Beliau menjawab, “Ucapkanlah astaghfirullah, astaghfirullah”. HR. Muslim.

➡ Ketiga: Setelah selesai wukuf di Arafah

✅ Allah ta’ala berfirman,

“ุซُู…َّ ุฃَูِูŠุถُูˆุง ู…ِู†ْ ุญَูŠْุซُ ุฃَูَุงุถَ ุงู„ู†َّุงุณُ ูˆَุงุณْุชَุบْูِุฑُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ุบَูُูˆุฑٌ ุฑَุญِูŠู…ٌ“

Artinya: “Kemudian berangkatlah kalian meninggalkan Arafah sebagaimana orang lain berangkat meninggalkannya dan beristighfarlah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. QS. Al-Baqarah (2): 199.

Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang beberapa momen khusus disunnahkan membaca istighfar. Berikut kelanjutannya:

➡ Keempat: Di waktu sahur

Ini adalah salah satu waktu yang amat dianjurkan bagi kita untuk memperbanyak bacaan istighfar. Allah ta’ala menjelaskan salah satu sifat kaum mukminin, “Di waktu sahur mereka memohon ampunan (kepada Allah)”. QS. Adz-Dzariyat (51): 18.

Waktu sahur menurut sebagian ulama adalah akhir malam menjelang waktu subuh. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa waktu sahur dimulai dari sepertiga malam terakhir hingga terbitnya fajar. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

“ูŠَู†ْุฒِู„ُ ุฑَุจُّู†ุงَ -ุชَุจَุงุฑَูƒَ ูˆَุชَุนَุงู„َู‰- ูƒُู„َّ ู„َูŠْู„َุฉٍ ุฅِู„َู‰ ุณَู…َุงุกِ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง، ุญِูŠْู†َ ูŠَุจْู‚َู‰ ุซُู„ُุซُ ุงู„ู„َّูŠْู„ِ ุงู„ْุฃَุฎِูŠْุฑِ، ูَูŠَู‚ُูˆْู„ُ: “ู…َู†ْ ูŠَุฏْุนُูˆْู†ูŠِ ูَุฃَุณْุชَุฌِูŠْุจُ ู„َู‡ُ؟ ู…َู†ْ ูŠَุณْุฃَู„ُู†ِูŠ ูَุฃُุนْุทِูŠَู‡ُ؟ ู…َู†ْ ูŠَุณْุชَุบْูِุฑُู†ูŠِ ูَุฃَุบْูِุฑ ู„َู‡ُ؟”.

“Allah tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia setiap malam saat tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, “Adakah yang berdoa pada-Ku; niscaya akan Kukabulkan? Adakah yang meminta pada-Ku; niscaya akan Kuberi? Adakah yang beristighfar pada-Ku, niscaya akan Kuampuni?”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

➡ Kelima: Di akhir majlis

✅ Nabi shallallahu’alaihiwasallam menerangkan,

“ู…َู†ْ ุฌَู„َุณَ ูِูŠ ู…َุฌْู„ِุณٍ ูَูƒَุซُุฑَ ูِูŠู‡ِ ู„َุบَุทُู‡ُ ูَู‚َุงู„َ ู‚َุจْู„َ ุฃَู†ْ ูŠَู‚ُูˆู…َ ู…ِู†ْ ู…َุฌْู„ِุณِู‡ِ ุฐَู„ِูƒَ: “ุณُุจْุญَุงู†َูƒَ ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ูˆَุจِุญَู…ْุฏِูƒَ، ุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†ْ ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุฃَู†ْุชَ ุฃَุณْุชَุบْูِุฑُูƒَ ูˆَุฃَุชُูˆุจُ ุฅِู„َูŠْูƒَ”؛ ุฅِู„ุงَّ ุบُูِุฑَ ู„َู‡ُ ู…َุง ูƒَุงู†َ ูِูŠ ู…َุฌْู„ِุณِู‡ِ ุฐَู„ِูƒَ”.

“Barang siapa duduk di suatu majlis dan di dalamnya banyak hal-hal yang tidak bermanfaat, lalu sebelum meninggalkan majlis tersebut ia membaca “Subhรขnakallรขhumma wa bihamdika, asyhadu allรข ilรขha illรข anta astaghfiruka wa atรปbu ilaik” (Maha suci Engkau ya Allah dan pujian hanya untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat pada-Mu); niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang ada di majlis tersebut”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany.

Doa ini bukan hanya disunnahkan untuk dibaca di majlis yang banyak kenegatifannya saja, namun di majlis kebajikan, seperti pengajian pun, disunnahkan untuk membacanya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,

“ู…َู†ْ ู‚َุงู„َ: “ุณُุจْุญَุงู†َ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุจِุญَู…ْุฏِู‡ِ، ุณُุจْุญَุงู†َูƒَ ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ูˆَุจِุญَู…ْุฏِูƒَ، ุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†ْ ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุฃَู†ْุชَ ุฃَุณْุชَุบْูِุฑُูƒَ ูˆَุฃَุชُูˆุจُ ุฅِู„َูŠْูƒَ”؛ ูَู‚َุงู„َู‡َุง ูِูŠ ู…َุฌْู„ِุณِ ุฐِูƒْุฑٍ ูƒَุงู†َุชْ ูƒَุงู„ุทَّุงุจِุนِ ูŠُุทْุจَุนُ ุนَู„َูŠْู‡ِ، ูˆَู…َู†ْ ู‚َุงู„َู‡َุง ูِูŠ ู…َุฌْู„ِุณِ ู„َุบْูˆٍ ูƒَุงู†َุชْ ูƒَูَّุงุฑَุฉً ู„َู‡ُ”.

“Barang siapa mengucapkan “Subhรขnallah wa bihamdih, subhรขnakallรขhumma wa bihamdika, asyhadu allรข ilรขha illรข anta astaghfiruka wa atรปbu ilaik” (Maha suci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya. Maha suci Engkau ya Allah dan pujian hanya untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat pada-Mu), bila ia mengucapkannya di majlis dzikir niscaya kalimat tersebut akan menjadi stempel majlis tersebut. Bila ia mengucapkannya di majlis yang tak berguna; niscaya kalimat tersebut akan menghapuskan dosa-dosa”. HR. Al-Hakim dari Jubair bin Muth’im dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga al-Albany.

➡ Keenam: Di akhir hidup menjelang wafat

Dalam Madarij as-Sรขlikรฎn, Imam Ibn al-Qayyim menjelaskan, “Taubat adalah penutup hidup orang-orang yang mengenal Allah. Sebagaimana istighfar diperlukan di awal, ia juga diperlukan di akhir. Malah kebutuhan terhadap istighfar di akhir lebih tinggi dibandingkan di awal. Bahkan ia merupakan kebutuhan mendesak di akhir hidup. Perhatikan apa perintah Allah kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam di akhir-akhir hidup beliau. Lalu lihatlah bagaimana beliau di akhir hidupnya semakin memperbanyak istighfar”.

✅ Allah ta’ala berfirman,

“ูَุณَุจِّุญْ ุจِุญَู…ْุฏِ ุฑَุจِّูƒَ ูˆَุงุณْุชَุบْูِุฑْู‡ُ ุฅِู†َّู‡ُ ูƒَุงู†َ ุชَูˆَّุงุจًุง“

Artinya: “Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh Dia Maha Penerima tobat”. QS. An-Nashr (110): 3.

Ayat di atas merupakan penutup surat an-Nashr. Sebuah surat yang berisikan pemberitaan mengenai kemenangan kaum muslimin atas musuh-musuhnya. Ayat terakhirnya berisi perintah untuk memperbanyak tasbih, tahmid dan istighfar. Hikmahnya antara lain: peringatan bahwa manakala datang pertolongan besar Allah, penaklukan kota Mekah dan berbondong-bondongnya umat manusia untuk masuk Islam, maka itu pertanda bahwa ajal Nabi shallallahu’alaihiwasallam telah dekat. Yang tersisa adalah memperbanyak kalimat-kalimat mulia tersebut di atas; tasbih, tahmid dan istighfar.[1]

Jadi, surat ini merupakan isyarat akan semakin dekatnya ajal beliau. Penaklukan kota Mekah terjadi di bulan Ramadhan tahun 8 H, sedangkan beliau shallallahu’alaihi wasallam wafat pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 10 H.[2]

Perintah Allah ta’ala kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam untuk memperbanyak istighfar dalam waktu itu, merupakan pertanda bahwa kehidupannya akan berakhir. Maka hendaklah beliau bersiap untuk menemui Rabbnya serta menutup umurnya dengan amalan yang paling mulia, yakni tasbih, tahmid dan istighfar.[3] Makanya setelah turunnya surat ini, Nabi shallallahu’alaihiwasallam semakin memperbanyak membaca tasbih, tahmid dan istighfar.[4]

✅ Aisyah radhiyallahu’anha bercerita, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memperbanyak membaca di ruku’ dan sujud beliau “Subhรขnakallรดhumma robbanรข wa bihamdika allohummaghfirlรฎ (Maha suci Engkau ya Allah Rabb kami dan segala pujian untuk-Mu. Ya Allah ampunilah aku)”. Beliau mengamalkan perintah al-Qur’an”. HR. Bukhari dan Muslim.

✅ Beliau juga menuturkan,

“ุณَู…ِุนْุชُ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูˆَุฃَุตْุบَูŠْุชُ ุฅِู„َูŠْู‡ِ ู‚َุจْู„َ ุฃَู†ْ ูŠَู…ُูˆْุชَ -ูˆَู‡ُูˆَ ู…ُุณْู†ِุฏٌ ุฅِู„َูŠَّ ุธَู‡ْุฑَู‡ُ- ูŠَู‚ُูˆْู„ُ: “ุงู„ู„ّู‡ُู…َّ ุงุบْูِุฑْ ู„ِูŠ ูˆَุงุฑْุญَู…ْู†ِูŠ، ูˆَุฃَู„ْุญِู‚ْู†ِูŠ ุจِุงู„ุฑَّูِูŠْู‚ِ ุงู„ْุฃَุนْู„َู‰”.

 “Aku mendengar Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan memperhatikan beliau sebelum wafatnya sambil menyandarkan pundaknya ke tubuhku, beliau mengucapkan, “Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku dan pertemukan aku dengan para nabi dan rasul di atas sana”. HR. Bukhari dan Muslim.

Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ dengan beberapa tambahan.

[1] Lihat: Tafsรฎr Juz ‘Amma (hal. 340-341).

[2] Tafsรฎr al-Jalรขlain (hal. 614).

[3] Baca: Tafsรฎr Sรปrah an-Nashr (hal. 75, 90-91) dan Tafsรฎr as-Sa’dy (hal. 866).

[4] Tafsรฎr Sรปrah an-Nashr (hal. 86)
Di nukil dari

•••••••••••••••••••••••
๐Ÿ”€ Chanel Grup WA Al Manhaj Salafiy GMS

Fanspage:https://www.facebook.com/AlManhajSalafiy/
Telegram :http://t.me/Salafiyyah_GMS
Website:https://almanhajsalafiygms.wordpress.com
*join grup khusus wanita Grup Manhaj salaf 4️⃣*
https://chat.whatsapp.com/5vHaP7zfQHrHjTCZiYLe4R
Kunjungi websit kami
Bagi anda yang berminat  membeli buku2 cara menulis arab untuk anak2 tercinta di usia dini 4,5 tahun klik link⬇️
https://www.metodeabana.com/p/arin_25.html

✅ Silakan di-share

https://www.google.com/amp/s/assunahsalafushshalih.wordpress.com/2019/03/25/12-macam-bacaan-istighfar-dan-kapan-disunnahkan-membaca-istighfar/amp/

SERIAL HADIST ARBAIN#19

๐Ÿ’๐Ÿ’ฅ๐Ÿ’ซSERI HADTS SHAHIH

Hadits Arbain #19: Menjaga Hak Allah dan Memahami Takdir

Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Kali ini adalah hadits Arbain #19, faedahnya begitu luar biasa yang dikaji adalah menjaga hak Allah, dan seputar masalah takdir.

 

ุงู„ุญَุฏِูŠْุซُ ุงู„ุชَّุงุณِุนَ ุนَุดَุฑَ

ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ุงู„ุนَุจَّุงุณِ ุนَุจْุฏِ ุงู„ู„ู‡ِ ุจْู†ِ ุนَุจَّุงุณٍ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„ู‡ُ ุชَุนَุงู„َู‰ ุนَู†ْู‡ُู…َุง ู‚َุงู„َ ูƒُู†ْุชُ: ุฎَู„ْูَ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูŠَูˆْู…ุงً ูَู‚َุงู„َ ู„ِูŠ: (( ูŠَุง ุบُู„ุงَู…ُ! ุฅِู†ِّูŠ ุฃُุนَู„ِّู…ُูƒَ ูƒَู„ِู…َุงุชٍ: ุงุญْูَุธِ ุงู„ู„ู‡َ ูŠَุญْูَุธْูƒَ، ุงِุญْูَุธِ ุงู„ู„ู‡َ ุชَุฌِุฏْู‡ُ ุชُุฌَุงู‡َูƒَ، ุฅِุฐَุง ุณَุฃَู„ْุชَ ูَุงุณْุฃَู„ِ ุงู„ู„ู‡َ، ูˆَุฅِุฐَุง ุงุณْุชَุนَู†ْุชَ ูَุงุณْุชَุนِู†ْ ุจุงِู„ู„ู‡ِ، ูˆَุงุนْู„َู…ْ ุฃَู†َّ ุงู„ุฃُู…َّุฉَ ู„َูˆِ ุงุฌْุชَู…َุนَุชْ ุนَู„َู‰ ุฃَู†ْ ูŠَู†ْูَุนُูˆْูƒَ ุจِุดَูŠْุกٍ ู„َู…ْ ูŠَู†ْูَุนُูˆْูƒَ ุฅِู„ุงَّ ุจِุดَูŠْุกٍ ู‚َุฏْ ูƒَุชَุจَู‡ُ ุงู„ู„ู‡ُ ู„َูƒَ، ูˆَุฅِู†ِ ุงุฌْุชَู…َุนُูˆุง ุนَู„َู‰ ุฃَู†ْ ูŠَุถُุฑُّูˆْูƒَ ุจِุดَูŠْุกٍ ู„َู…ْ ูŠَุถُุฑُّูˆْูƒَ ุฅِู„ุงَّ ุจِุดَูŠْุกٍ ู‚َุฏْ ูƒَุชَุจَู‡ُ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْูƒَ، ุฑُูِุนَุชِ ุงู„ุฃَู‚ْู„ุงَู…ُ ูˆَุฌَูَّุชِ ุงู„ุตُّุญُูُ )) ุฑَูˆَุงู‡ُ ุงู„ุชِّุฑْู…ِุฐِูŠ ูˆَู‚َุงู„َ: (( ุญَุฏِูŠْุซٌ ุญَุณَู†ٌ ุตَุญِูŠْุญٌ ))، ูˆَูِูŠ ุฑِูˆَุงูŠَุฉِ ุบَูŠْุฑِ ุงู„ุชِّุฑْู…ِุฐِูŠِّ: (( ุงِุญْูَุธِ ุงู„ู„ู‡َ ุชَุฌِุฏْู‡ُ ุฃَู…َุงู…َูƒَ، ุชَุนَุฑَّูْ ุฅِู„َู‰ ุงู„ู„ู‡ِ ูِูŠ ุงู„ุฑَّุฎَุงุกِ ูŠَุนْุฑِูْูƒَ ูِูŠ ุงู„ุดِّุฏَّุฉِ، ูˆَุงุนْู„َู…ْ ุฃَู†َّ ู…َุง ุฃَุฎْุทَุฃَูƒَ ู„َู…ْ ูŠَูƒُู†ْ ู„ِูŠُุตِูŠْุจَูƒَ، ูˆَู…َุง ุฃَุตَุงุจَูƒَ ู„َู… ูŠَูƒُู†ْ ู„ِูŠُุฎْุทِุฆَูƒَ، ูˆَุงุนْู„َู…ْ ุฃَู†َّ ุงู„ู†َّุตْุฑَ ู…َุนَ ุงู„ุตَّุจْุฑِ، ูˆَุฃَู†َّ ุงู„ูَุฑَุฌَ ู…َุนَ ุงู„ูƒَุฑْุจِ، ูˆَุฃَู†َّ ู…َุนَ ุงู„ุนُุณْุฑِ ูŠُุณْุฑุงً )).

๐Ÿ“ŒHadits Ke-19

Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Pada suatu hari aku pernah berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, ‘Wahai anak muda! Sesungguhnya aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau mau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau mau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.’” (HR. Tirmidzi, dan ia berkata bahwa hadits ini hasan shahih).

Dalam riwayat selain riwayat Tirmidzi, “Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah di saat senang, niscaya Allah mengenalmu di saat susah. Ketahuilah, bahwa apa saja yang luput darimu, maka tidak akan pernah menimpamu. Dan apa yang menimpamu, maka tidak akan pernah luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesulitan, dan bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

[HR. Tirmidzi, no. 2516; Ahmad, 1:293; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 14:408. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam tahqiqnya terhadap Musnad Imam Ahmad menyatakan bahwa hadits ini sanadnya kuat].

๐Ÿ“ŒPenjelasan Hadits

Yang dimaksud menjaga hak Allah di sini adalah menjaga batasan-batasan, hak-hak, perintah, dan larangan-larangan Allah.

Bentuk menjaga hak Allah seperti:

Menjalankan shalat, bahkan ini adalah bentuk perkara yang paling penting untuk dijaga.Menjaga bersuci, karena bersuci adalah pembuka shalat.Menjaga kepala dan perut. Bentuk menjaga kepala adalah menjaga pendengaran, penglihatan dan lisan dari berbagai keharaman. Sedangkan bentuk menjaga perut adalah menjaga apa yang ada di dalamnya yaitu menjaga hati dari perkara haram, serta menjaga perut dari dimasuki makanan dan minuman yang haram.Menjaga lisan dan kemaluan.Belajar ilmu agama sehingga bisa menjalankan ibadah dan muamalah dengan baik, serta berdakwah dengan ilmu untuk diajarkan pada yang lain.

Balasan dari menjaga hak Allah adalah akan mendapatkan penjagaan dari Allah, di antara bentuknya:

Allah akan menjaga untuk urusan dunianya, akan diberi penjagaan pada badan, anak, keluarga, dan harta.Jika ia menjaga hak Allah pada waktu muda dan kuat, Allah akan menjaganya pada waktu tua dan lemah.Keturunannya akan dijaga.Akan dijaga dari gangguan jahat.Allah akan menjaga agama dan iman, serta diselamatkan dari syubhat dan syahwat.

Kalimat hadits “Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu”, maksudnya adalah siapa yang menjaga aturan Allah dan memperhatikan hak-Nya, ia akan mendapati Allah dalam setiap keadaan, di mana Allah akan menolong, menjaga, dan memberi taufik padanya. Hal ini sebagaimana ayat,

ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ู…َุนَ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุงุชَّู‚َูˆْุง ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ู‡ُู…ْ ู…ُุญْุณِู†ُูˆู†َ

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl: 128). Yang dimaksud di sini adalah ma’iyah khashshah yaitu kebersamaan yang khusus, konsekuensinya Allah beri pertolongan dan penjagaan.

Adapun bagian hadits “Kenalilah Allah di saat senang, niscaya Allah mengenalmu di saat susah”, maka ada bentuk mengenal Allah terbagi dua:

Mengenal Allah secara umum yaitu membenarkan dan beriman sebagaimana yang dilakukan umumnya orang beriman.Mengenal Allah secara khusus yaitu segala kecondongan hati hanya kepada Allah.

Adapun balasannya dengan Allah mengenal kita, ada dua macam:

Allah mengenal secara umum dengan mengilmui dan mengetahui kita secara lahir dan batin.Allah mengenal secara khusus dengan mencintai, mengabulkan doa, menyelamatkan kita kala mengalami kesulitan.

Adapun bagian hadits “Jika engkau mau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau mau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”, ini sama maknanya dengan ayat,

ุฅِูŠَّุงูƒَ ู†َุนْุจُุฏُ ูˆَุฅِูŠَّุงูƒَ ู†َุณْุชَุนِูŠู†ُ

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)

Kalimat ini “Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering” menunjukkan bahwa takdir sudah dicatat seluruhnya.

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menerangkan ada dua tingkatan seorang mukmin dalam menghadapi musibah: (1) ridha pada takdir, (2) sabar dalam menghadapi musibah. Bedanya, sabar itu menahan diri dari murka, namun tetap masih merasakan sakit; sedangkan ridha itu hatinya lapang dalam menerima takdir, dan rasa yakinnya begitu besar hingga mengalahkan rasa sakitnya. Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:488.

⛔Faedah Hadits

๐Ÿ“ŒPertama: Siapa yang menjaga batasan Allah, maka Allah akan menjaga dunia dan agamanya.

๐Ÿ“ŒKedua: Siapa saja yang tidak memperhatikan batasan dan aturan Allah, maka ia tidak mendapatkan penjagaan dari Allah, sebagaimana dalam ayat disebutkan,

ู†َุณُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ูَู†َุณِูŠَู‡ُู…ْ

“Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan (artinya: meninggalkan) mereka.” (QS. At-Taubah: 67)

๐Ÿ“ŒKetiga: Al-jazaa’ min jinsil ‘amal, balasan itu sesuai dengan amal perbuatan. Artinya, amalan menjaga hak Allah, dibalas pula dengan penjagaan dari Allah.

๐Ÿ“ŒKeempat: Hamba hendaklah mengkhususkan ibadah dan isti’anah (meminta pertolongan) hanya kepada Allah.

๐Ÿ“ŒKelima: Hadits ini mengajarkan bagaimanakah mengimani takdir.

๐Ÿ“ŒKeenam: Hamba atau makhluk tidak bisa memberi manfaat dan tidak bisa mendatangkan mudarat kecuali manfaat dan mudarat tadi ditetapkan oleh Allah.

๐Ÿ“ŒKetujuh: Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi, maa sya-a Allah kaana, wa maa lam yasya’ lam yakun.

Allah Ta’ala berfirman,

ูˆَู…َุง ุชَุดَุงุกُูˆู†َ ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْ ูŠَุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุۚฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูƒَุงู†َ ุนَู„ِูŠู…ًุง ุญَูƒِูŠู…ًุง

“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insan: 30)

๐Ÿ“ŒKedelapan: Akibat dari sabar adalah datang kemenangan.

๐Ÿ“ŒKesembilan: Di balik kesulitan ada kelapangan dan kemudahan.

Allah Ta’ala berfirman,

ูَุฅِู†َّ ู…َุนَ ุงู„ْุนُุณْุฑِ ูŠُุณْุฑًุง (5) ุฅِู†َّ ู…َุนَ ุงู„ْุนُุณْุฑِ ูŠُุณْุฑًุง (6)

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5-6)

๐Ÿ“ŒPara ulama mengatakan,

ู„َูˆْ ุฌَุงุกَ ุงู„ุนُุณْุฑُ ูَุฏَุฎَู„َ ู‡َุฐَุง ุงู„ุญُุฌْุฑَ ู„َุฌَุงุกَ ุงู„ูŠُุณْุฑُ ุญَุชَّู‰ ูŠَุฏْุฎُู„َ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูَูŠُุฎْุฑِุฌُู‡ُ

“Seandainya kesulitan itu datang dan masuk dalam lubang ini, maka akan datang kemudahan dan ia turut masuk ke dalam lubang tersebut sampai ia mengeluarkan kesulitan tadi.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:597)

๐Ÿ“ŒKesepuluh: Hadits ini menunjukkan bagaimanakah tawadhu’ (rendah hati) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mau bergaul dengan anak muda, juga hadits ini menunjukkan sikap baik beliau pada Ibnu ‘Abbas yang masih muda.

๐Ÿ“ŒKesebelas: Yang disampaikan adalah suatu yang penting karenanya di awal hadits disebutkan kepada Ibnu ‘Abbas “Sesungguhnya aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu”.

Referensi:Fath Al-Qawi Al-Matin fi Syarh Al-Arba’in wa Tatimmah Al-Khamsin li An-Nawawi wa Ibni Rajab rahimahumallah. Cetakan kedua, Tahun 1430 H. Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamad Al-‘Abbad Al-Badr. Penerbit Dar Ibnul Qayyim dan Dar Ibnu ‘Affan.Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim.Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.

Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

 ๐Ÿ”€ Chanel Grup WA Al Manhaj Salafiy GMS

Fanspage:https://www.facebook.com/AlManhajSalafiy/
Telegram :http://t.me/Salafiyyah_GMS
Website:https://almanhajsalafiygms.wordpress.com
*join grup khusus wanita Grup Manhaj salaf 4️⃣*
https://chat.whatsapp.com/5vHaP7zfQHrHjTCZiYLe4R
Kunjungi websit kami
Bagi anda yang berminat  membeli buku2 cara menulis arab untuk anak2 tercinta di usia dini 4,5 tahun klik link⬇️
https://www.metodeabana.com/p/arin_25.html

✅ Silakan di-share

Senin, 17 Agustus 2020

SERIAL HADIST ARBAIN#18

*๐Ÿ’๐Ÿ’ฅ๐Ÿ’ซSERIAL HADIST ARBAIN#18*
   
* Hadits Arbain #18: Takwa, Mengikutkan Kejelekan dengan Kebaikan, dan Berakhlak Mulia*

Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Website: https://almanhajsalafiy.blogspot.com/?m=1

Kita diperintahkan bertakwa di mana saja, mengikutkan kejelekan dengan kebaikan, dan berakhlak mulia.

 

ุงู„ุญَุฏِูŠْุซُ ุงู„ุซَّุงู…ِู†ُ ุนَุดَุฑَ

ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠْ ุฐَุฑٍّ ุฌُู†ْุฏُุจِ ุจู†ِ ุฌُู†َุงุฏَุฉَ ูˆَุฃَุจِูŠ ุนَุจْุฏِ ุงู„ุฑَّุญْู…َู†ِ ู…ُุนَุงุฐِ ุจْู†ِ ุฌَุจَู„ٍ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู†ْู‡ُู…َุง ุนَู†ْ ุฑَุณُูˆู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู‚َุงู„َ: (ุงุชَّู‚ِ ุงู„ู„ู‡َ ุญَูŠْุซُู…َุง ูƒُู†ْุชَ، ูˆَุฃَุชْุจِุนِ ุงู„ุณَّูŠِّุฆَุฉَ ุงู„ุญَุณَู†َุฉَ ุชَู…ْุญُู‡َุง، ูˆَุฎَุงู„ِู‚ِ ุงู„ู†َّุงุณَ ุจِุฎُู„ُู‚ٍ ุญَุณَู†ٍ) ุฑَูˆَุงู‡ُ ุงู„ุชِّุฑْู…ِุฐِูŠ ูˆَู‚َุงู„َ: ุญَุฏِูŠْุซٌ ุญَุณَู†ٌ. ูˆَูِูŠ ุจَุนْุถِ ุงู„ู†ُّุณَุฎِ: ุญَุณَู†ٌ ุตَุญِูŠْุญٌ.

Hadits Ke-18

Dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdirrahman Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada; iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu; dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan haditsnya itu hasan dalam sebagian naskah disebutkan bahwa hadits ini hasan shahih) [HR. Tirmidzi, no. 1987 dan Ahmad, 5:153. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan]

*Penjelasan Hadits*

๐Ÿ“ŒPertama: Takwa

Bertakwa dan berakhlak mulia, itulah yang paling menyebabkan banyak yang masuk surga.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

ุณُุฆِู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุนَู†ْ ุฃَูƒْุซَุฑِ ู…َุง ูŠُุฏْุฎِู„ُ ุงู„ู†َّุงุณَ ุงู„ْุฌَู†َّุฉَ ูَู‚َุงู„َ « ุชَู‚ْูˆَู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَุญُุณْู†ُ ุงู„ْุฎُู„ُู‚ِ ». ูˆَุณُุฆِู„َ ุนَู†ْ ุฃَูƒْุซَุฑِ ู…َุง ูŠُุฏْุฎِู„ُ ุงู„ู†َّุงุณَ ุงู„ู†َّุงุฑَ ูَู‚َุงู„َ « ุงู„ْูَู…ُ ูˆَุงู„ْูَุฑْุฌُ»

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi no. 2004 dan Ibnu Majah no. 4246. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Takwa asalnya adalah menjadikan antara seorang hamba dan seseutu yang ditakuti suatu penghalang. Sehingga takwa kepada Allah berarti menjadikan antara hamba dan Allah suatu benteng yang dapat menghalangi dari kemarahan, murka dan siksa Allah. Takwa ini dilakukan dengan melaksanakan perintah dan menjauhi maksiat.

Namun takwa yang sempurna kata Ibnu Rajab Al Hambali adalah dengan mengerjakan kewajiban, meninggalkan keharaman dan perkara syubhat, juga mengerjakan perkara sunnah, dan meninggalkan yang makruh. Inilah derajat takwa yang paling tinggi.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

ุงู„ู…ُุชَّู‚ُูˆْู†َ ุงุชَّู‚َูˆุง ู…َุง ุญُุฑِّู…َ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ، ูˆَุฃุฏَّูˆْุง ู…َุง ุงูْุชُุฑِุถَ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ

“Orang yang bertakwa adalah mereka yang menjauhi hal-hal yang diharamkan dan menunaikan berbagai kewajiban.”

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata,

ู„َูŠْุณَ ุชَู‚ْูˆَู‰ ุงู„ู„ู‡ِ ุจِุตِูŠَุงู…ِ ุงู„ู†َّู‡َุงุฑِ ، ูˆَู„ุงَ ุจِู‚ِูŠَุงู…ِ ุงู„ู„َّูŠْู„ِ ، ูˆَุงู„ุชَّุฎْู„ِูŠْุทِ ูِูŠْู…َุง ุจَูŠْู†َ ุฐَู„ِูƒَ ، ูˆَู„َูƒِู†ْ ุชَู‚ْูˆَู‰ ุงู„ู„ู‡ِ ุชَุฑْูƒُ ู…َุง ุญَุฑَّู…َ ุงู„ู„ู‡ُ ، ูˆَุฃَุฏَุงุกُ ู…َุง ุงูْุชَุฑَุถَ ุงู„ู„ู‡ُ ،ูَู…َู†ْ ุฑُุฒِู‚َ ุจَุนْุฏَ ุฐَู„ِูƒَ ุฎَูŠْุฑุงً ، ูَู‡ُูˆَ ุฎَูŠْุฑٌ ุฅِู„َู‰ ุฎَูŠْุฑٍ

“Takwa bukanlah hanya dengan puasa di siang hari atau mendirikan shalat malam, atau melakukan kedua-duanya. Namun takwa adalah meninggalkan yang Allah haramkan dan menunaikan yang Allah wajibkan. Siapa yang setelah itu dianugerahkan kebaikan, maka itu adalah kebaikan pada kebaikan.”

Thalq bin Habib rahimahullah mengatakan,

ุงู„ุชَّู‚ْูˆَู‰ ุฃَู†ْ ุชَุนْู…َู„َ ุจِุทَุงุนَุฉِ ุงู„ู„ู‡ِ ، ุนَู„َู‰ ู†ُูˆْุฑٍ ู…ِู†َ ุงู„ู„ู‡ِ ، ุชَุฑْุฌُูˆْ ุซَูˆَุงุจَ ุงู„ู„ู‡ِ ، ูˆَุฃَู†ْ ุชَุชْุฑُูƒَ ู…َุนْุตِูŠَุฉَ ุงู„ู„ู‡ِ ุนَู„َู‰ ู†ُูˆْุฑٍ ู…ِู†َ ุงู„ู„ู‡ِ ุชَุฎَุงูُ ุนِู‚َุงุจَ ุงู„ู„ู‡ِ

“Takwa berarti engkau menjalankan ketaatan pada Allah atas petunjuk cahaya dari Allah dan engkau mengharap pahala dari-Nya. Termasuk dalam takwa pula adalah menjauhi maksiat atas petunjuk cahaya dari Allah dan engkau takut akan siksa-Nya.”

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ketika menafsirkan ayat “bertakwalah pada Allah dengan sebenar-benarnya takwa” yang terdapat dalam surah Ali Imran ayat 102, beliau berkata,

ุฃَู†ْ ูŠُุทَุงุนَ ูَู„ุงَ ูŠُุนْุตَู‰ ، ูˆَูŠُุฐْูƒَุฑُ ูَู„ุงَ ูŠُู†ْุณَู‰ ، ูˆَุฃَู†ْ ูŠُุดْูƒَุฑَ ูَู„ุงَ ูŠُูƒَูَّุฑُ

“Maksud ayat tersebut adalah Allah itu ditaati, tidak bermaksiat pada-Nya. Allah itu terus diingat, tidak melupakan-Nya. Nikmat Allah itu disyukuri, tidak diingkari.” (HR. Al-Hakim secara marfu’, namun mauquf lebih shahih, berarti hanya perkataan Ibnu Mas’ud). Yang dimaksud bersyukur kepada Allah di sini adalah dengan melakukan segala ketaatan pada-Nya.

Adapun maksud mengingat Allah dan tidak melupakan-Nya adalah selalu mengingat Allah dengan hati pada setiap gerakan dan diamnya, begitu saat berucap. Semuanya dilakukan hanya untuk meraih pahala dari Allah. Begitu pula larangan-Nya pun dijauhi. (LihatJami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:397-402)

๐Ÿ“ŒKedua: Mengikutkan kejelekan dengan kebaikan

Yang dimaksud di sini adalah mengikuti kejelekan dengan taubat. Bisa juga maksudnya adalah kebaikan di sini bukan hanya taubat saja yang mengikuti kejelekan, namun lebih umum. Sebagaimana disebutkan dalam ayat,

ูˆَุฃَู‚ِู…ِ ุงู„ุตَّู„َุงุฉَ ุทَุฑَูَูŠِ ุงู„ู†َّู‡َุงุฑِ ูˆَุฒُู„َูًุง ู…ِู†َ ุงู„ู„َّูŠْู„ِ ุۚฅِู†َّ ุงู„ْุญَุณَู†َุงุชِ ูŠُุฐْู‡ِุจْู†َ ุงู„ุณَّูŠِّุฆَุงุชِ

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)

Ada hadits dari Mu’adz yang menyatakan bahwa ada orang yang ayat ini turun karenanya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan dia untuk wudhu dan shalat. (HR. Tirmidzi, no. 3113. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif).

Para ulama berselisih pendapat apakah amalan shalih bisa menghapuskan dosa besar (al-kabair) dan dosa kecil (ash-shaghair) sekaligus atau amalan shalih hanya menghapuskan dosa kecil saja.

Yang jelas jika itu dosa besar, maka menghapusnya mesti dengan taubat. Karena Allah perintahkan untuk bertaubat kalau tidak masih berstatus orang yang zalim. Allah Ta’ala berfirman,

ูˆَู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَุชُุจْ ูَุฃُูˆู„َٰุฆِูƒَ ู‡ُู…ُ ุงู„ุธَّุงู„ِู…ُูˆู†َ

“Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11). Yang menjadi pendapat jumhur ulama, dosa besar hanya bisa dihapus dengan taubat.

Jadi amalan shalih seperti amalan wajib hanya khusus menghapus dosa kecil saja. Dari Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ูِุชْู†َุฉُ ุงู„ุฑَّุฌُู„ِ ูِูŠ ุฃَู‡ْู„ِู‡ِ ูˆَู…َุงู„ِู‡ِ ูˆَูˆَู„َุฏِู‡ِ ุชُูƒَูِّุฑُู‡َุง ุงู„ุตَّู„َุงุฉُ ูˆَุงู„ุตِّูŠَุงู…ُ ูˆَุงู„ุตَّุฏَู‚َุฉُ ูˆَุงู„ْุฃَู…ْุฑُ ุจِุงู„ْู…َุนْุฑُูˆูِ ูˆَุงู„ู†َّู‡ْูŠُ ุนَู†ْ ุงู„ْู…ُู†ْูƒَุฑِ

“Keluarga, harta, dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan shalat, shaum, shadaqah, amr ma’ruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran).” (HR. Bukhari, no. 525 dan Muslim, no. 144).

Kata Ibnu Baththol, hadits ini semakna dengan firman Allah Ta’ala,

ุฅِู†َّู…َุง ุฃَู…ْูˆَุงู„ُูƒُู…ْ ูˆَุฃَูˆْู„َุงุฏُูƒُู…ْ ูِุชْู†َุฉٌ ูۚˆَุงู„ู„َّู‡ُ ุนِู†ْุฏَู‡ُ ุฃَุฌْุฑٌ ุนَุธِูŠู…ٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Ath-Taghabun: 15) (Lihat Syarh Al-Bukhari karya Ibnu Baththal, 3:194, Asy-Syamilah)

๐Ÿ“ŒKetiga: Akhlak mulia

Ibnu Rajab mengatakan bahwa berakhlak yang baik termasuk bagian dari takwa. Akhlak disebutkan secara bersendirian karena ingin ditunjukkan pentingnya akhlak. Sebab banyak yang menyangka bahwa takwa hanyalah menunaikan hak Allah tanpa memperhatikan hak sesama. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:454).

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan akhlak yang baik sebagai tanda kesempurnaan iman. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุฃَูƒْู…َู„ُ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠู†َ ุฅِูŠู…َุงู†ًุง ุฃَุญْุณَู†ُู‡ُู…ْ ุฎُู„ُู‚ًุง

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Daud, no. 4682 dan Ibnu Majah, no. 1162. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Akhlak yang baik (husnul khuluq) ditafsirkan oleh para salaf dengan menyebutkan beberapa contoh.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan,

ุญُุณْู†ُ ุงู„ุฎُู„ُู‚ِ : ุงู„ูƒَุฑَู…ُ ูˆَุงู„ุจَุฐْู„َุฉُ ูˆَุงู„ุงِุญْุชِู…َุงู„ُ

“Akhlak yang baik adalah ramah, dermawan, dan bisa menahan amarah.”

Asy-Sya’bi berkata bahwa akhlak yang baik adalah,

ุงู„ุจَุฐْู„َุฉُ ูˆَุงู„ุนَุทِูŠَّุฉُ ูˆَุงู„ุจِุดุฑُ ุงู„ุญَุณَู†ُ ، ูˆَูƒَุงู†َ ุงู„ุดَّุนْุจِูŠ ูƒَุฐَู„ِูƒَ

“Bersikap dermawan, suka memberi, dan memberi kegembiraan pada orang lain.” Demikianlah Asy-Sya’bi, ia gemar melakukan hal itu.

Ibnul Mubarak mengatakan bahwa akhlak yang baik adalah,

ู‡ُูˆَ ุจَุณْุทُ ุงู„ูˆَุฌْู‡ِ ، ูˆَุจَุฐْู„ُ ุงู„ู…َุนْุฑُูˆْูِ ، ูˆَูƒَูُّ ุงู„ุฃَุฐَู‰

“Bermuka manis, gemar melakukan kebaikan, dan menahan diri dari menyakiti orang lain.”

Imam Ahmad berkata,

ุญُุณْู†ُ ุงู„ุฎُู„ُู‚ِ ุฃَู†ْ ู„ุงَ ุชَุบْุถَุจَ ูˆَู„ุงَ ุชَุญْุชَุฏَّ ، ูˆَุนَู†ْู‡ُ ุฃู†َّู‡ُ ู‚َุงู„َ : ุญُุณْู†ُ ุงู„ุฎُู„ُู‚ِ ุฃَู†ْ ุชَุญْุชَู…ِู„َ ู…َุง ูŠَูƒُูˆْู†ُ ู…ِู†َ ุงู„ู†َّุงุณِ

“Akhlak yang baik adalah tidak mudah marah dan cepat naik darah.” Beliau juga berkata, “Berakhlak yang baik adalah bisa menahan amarah di hadapan manusia.”

Ishaq bin Rohuwyah berkata tentang akhlak yang baik,

ู‡ُูˆَ ุจَุณْุทُ ุงู„ูˆَุฌْู‡ِ ، ูˆَุฃَู†ْ ู„ุงَ ุชَุบْุถَุจَ

“Bermuka manis dan tidak marah.” (Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:457-458)

๐Ÿ“ŒFaedah Hadits
Pertama: Wajib bertakwa kepada Allah di mana saja kita berada dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan, baik ketika saat di keramaian dan ketika saat di kesepian.

Bahkan ada peringatan bagi yang tidak takut kepada Allah hingga berbuat maksiat di kesepian. Dalam hadits dalam salah satu kitab sunan disebutkan,

ุนَู†ْ ุซَูˆْุจَุงู†َ ุนَู†ِ ุงู„ู†َّุจِู‰ِّ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุฃَู†َّู‡ُ ู‚َุงู„َ : « ู„ุฃَุนْู„َู…َู†َّ ุฃَู‚ْูˆَุงู…ًุง ู…ِู†ْ ุฃُู…َّุชِู‰ ูŠَุฃْุชُูˆู†َ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ ุจِุญَุณَู†َุงุชٍ ุฃَู…ْุซَุงู„ِ ุฌِุจَุงู„ِ ุชِู‡َุงู…َุฉَ ุจِูŠุถًุง ูَูŠَุฌْุนَู„ُู‡َุง ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَุฒَّ ูˆَุฌَู„َّ ู‡َุจَุงุกً ู…َู†ْุซُูˆุฑًุง ». ู‚َุงู„َ ุซَูˆْุจَุงู†ُ : ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตِูْู‡ُู…ْ ู„َู†َุง ุฌَู„ِّู‡ِู…ْ ู„َู†َุง ุฃَู†ْ ู„ุงَ ู†َูƒُูˆู†َ ู…ِู†ْู‡ُู…ْ ูˆَู†َุญْู†ُ ู„ุงَ ู†َุนْู„َู…ُ. ู‚َุงู„َ : « ุฃَู…َุง ุฅِู†َّู‡ُู…ْ ุฅِุฎْูˆَุงู†ُูƒُู…ْ ูˆَู…ِู†ْ ุฌِู„ْุฏَุชِูƒُู…ْ ูˆَูŠَุฃْุฎُุฐُูˆู†َ ู…ِู†َ ุงู„ู„َّูŠْู„ِ ูƒَู…َุง ุชَุฃْุฎُุฐُูˆู†َ ูˆَู„َูƒِู†َّู‡ُู…ْ ุฃَู‚ْูˆَุงู…ٌ ุฅِุฐَุง ุฎَู„َูˆْุง ุจِู…َุญَุงุฑِู…ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุงู†ْุชَู‡َูƒُูˆู‡َุง»

Dari Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah, no. 4245. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Ibnu Majah membawakan hadits di atas dalam Bab “Mengingat Dosa”.

Hadits di atas semakna dengan ayat,

ูŠَุณْุชَุฎْูُูˆู†َ ู…ِู†َ ุงู„ู†َّุงุณِ ูˆَู„َุง ูŠَุณْุชَุฎْูُูˆู†َ ู…ِู†َ ุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَู‡ُูˆَ ู…َุนَู‡ُู…ْ ุฅِุฐْ ูŠُุจَูŠِّุชُูˆู†َ ู…َุง ู„َุง ูŠَุฑْุถَู‰ ู…ِู†َ ุงู„ْู‚َูˆْู„ِ ูˆَูƒَุงู†َ ุงู„ู„َّู‡ُ ุจِู…َุง ูŠَุนْู…َู„ُูˆู†َ ู…ُุญِูŠุทًุง

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nisa’: 108). Walaupun dalam ayat tidak disebutkan tentang hancurnya amalan.

Kedua: Amalan kebaikan akan menghapus kejelekan. Bisa jadi yang dimaksud dengan kebaikan adalah taubat, bisa pula yang dimaksud adalah amal shalih lainnya

Ketiga: Kita diperintahkan untuk berakhlak mulia terhadap sesama. Namun hal ini tidak menafikan pada suatu keadaan kita bersikap keras dan tegas.

Contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti terlihat dalam riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Ada seorang Yahudi melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia mengucapkan ‘as-saamu ‘alaik’ (celaka engkau).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas membalas ‘wa ‘alaik’ (engkau yang celaka). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Apakah kalian mengetahui bahwa Yahudi tadi mengucapkan ‘assaamu ‘alaik’ (celaka engkau)?” Para sahabat lantas berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami membunuhnya saja?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan. Jika mereka mengucapkan salam pada kalian, maka ucapkanlah ‘wa ‘alaikum’.” (HR. Bukhari, no. 6926)

Namun kalau ada dua keadaan yaitu perintah bersikap lemah lembut ataukah keras, kita tetap memilih lemah lembut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan kepada Aisyah,

ูŠَุง ุนَุงุฆِุดَุฉُ ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ุฑَูِูŠู‚ٌ ูŠُุญِุจُّ ุงู„ุฑِّูْู‚َ ูˆَูŠُุนْุทِู‰ ุนَู„َู‰ ุงู„ุฑِّูْู‚ِ ู…َุง ู„ุงَ ูŠُุนْุทِู‰ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุนُู†ْูِ ูˆَู…َุง ู„ุงَ ูŠُุนْุทِู‰ ุนَู„َู‰ ู…َุง ุณِูˆَุงู‡ُ

“Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu lemah lembut dan menyukai kelemah lembutan. Allah memberi kepada kelembutan suatu kebaikan yang tidak diberi pada sikap keras dan tidak diberi pada lainnya.” (HR. Bukhari, no. 6024 dan Muslim, no. 2593. Lafazhnya adalah lafazh Muslim)

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

Referensi:
Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.

Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

๐Ÿ”€ Chanel Grup WA Al Manhaj Salafiy GMS

Fanspage:https://www.facebook.com/AlManhajSalafiy/
Telegram :http://t.me/Salafiyyah_GMS
Website:https://almanhajsalafiygms.wordpress.com
*join grup khusus wanita Grup Manhaj salaf 4️⃣* 
https://chat.whatsapp.com/5vHaP7zfQHrHjTCZiYLe4R
Kunjungi websit kami
Bagi anda yang berminat  membeli buku2 cara menulis arab untuk anak2 tercinta di usia dini 4,5 tahun klik link⬇️
https://www.metodeabana.com/p/arin_25.html

✅ Silakan di-share

Minggu, 16 Agustus 2020

Serial Hadist Arbain#17

*๐Ÿ•‹๐Ÿ”ด๐ŸŒดSERI HADIST SHAHIH*

*Hadits Arbain #17: Berbuat Ihsan pada Segala Sesuatu*

Oleh.Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

 Fanspage:https://www.facebook.com/AlManhajSalafiy/
 ~~~~~~~~~~~~

Kita diperintahkan berbuat ihsan pada segala sesuatu. Ini bahasan hadits Al-Arbain An-Nawawiyah no. 17 karya Imam Nawawi. Lihat penjelasannya.

 

Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูƒَุชَุจَ ุงู„ุฅِุญْุณَุงู†َ ุนَู„َู‰ ูƒُู„ِّ ุดَู‰ْุกٍ ูَุฅِุฐَุง ู‚َุชَู„ْุชُู…ْ ูَุฃَุญْุณِู†ُูˆุง ุงู„ْู‚ِุชْู„َุฉَ ูˆَุฅِุฐَุง ุฐَุจَุญْุชُู…ْ ูَุฃَุญْุณِู†ُูˆุง ุงู„ุฐَّุจْุญَุฉَ ูˆَู„ْูŠُุญِุฏَّ ุฃَุญَุฏُูƒُู…ْ ุดَูْุฑَุชَู‡ُ ูˆَู„ْูŠُุฑِุญْ ุฐَุจِูŠุญَุชَู‡ُ

“Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian hendak menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian menajamkan pisaunya dan senangkanlah hewan yang akan disembelih.”  (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 1955, Bab “Perintah untuk berbuat baik ketika menyembelih dan membunuh dan perintah untuk menajamkan pisau”]

๐Ÿ“ŒPenjelasan

Ibnul ‘Atthar Asy-Syafi’i rahimahullah yang makruf dengan sebutan Mukhtashar An-Nawawi—sebagaimana julukan ini disebut oleh Ibnu Katsir—menyatakan tentang hadits Arba’in nomor urut 17 ini, bahwa hadits tersebut termasuk hadits singkat namun sarat makna, juga berisi kaedah pokok dalam agama ini. Hadits tersebut berisi perintah untuk berbuat baik pada diri sendiri, juga pada setiap makhluk, sampai pada saat menyembelih dengan berbuat baik pada hewan yang akan disembelih, dan perintah untuk menyenangkannya. (Lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah karya Ibnul ‘Atthar, hlm. 112)

Yang dimaksud, membunuh dan menyembelih dengan cara yang baik adalah dilihat dari sisi cara dan keadaan. Bentuk berbuat baik ketika membunuh misalnya ketika melaksanakan eksekusi hukum qishash (hukum mati pada pembunuh, pen.). Lihat Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 13:98.

Yang dimaksud menyenangkan hewan yang akan disembelih ada beberapa bentuk yang dicontohkan oleh Imam Nawawi rahimahullah:

Menajamkan pisau sehingga hewan cepat untuk menyembelih.Dianjurkan tidak mengasah pisau di hadapan hewan yang akan disembelih.Tidak boleh menyembelih hewan lantas ditonton oleh hewan lainnya.Tidak boleh melewatkan hewan yang akan disembelih di tempat penyembelihannya. (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 13:98)

Salah satu yang dimaksudkan oleh Imam Nawawi rahimahullah disebutkan dalam hadits berikut ini.

Dari Ibnu ’Abbas radhiyallaahu ’anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengamati seseorang yang meletakkan kakinya di atas pipi (sisi) kambing dalam keadaan ia mengasah pisaunya, sedangkan kambing itu memandang kepadanya. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

ุฃَุชُุฑِูŠْุฏُ ุฃَู†ْ ุชَู…ِูŠْุชَู‡َุง ู…َูˆْุชَุงุช ู‡َู„ุงَ ุญَุฏَุฏْุชَ ุดَูْุฑَุชَูƒَ ู‚َุจْู„َ ุฃَู†ْ ุชَุถْุฌَุนَู‡َุง

“Apakah sebelum ini kamu hendak mematikannya dengan beberapa kali kematian?! Hendaklah pisaumu diasah terlebih dahulu sebelum engkau membaringkannya.” (HR. Al-Hakim, 4: 257, Al-Baihaqi, 9: 280, ‘Abdur Razaq, no. 8608.  Al-Hakim mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits shahih sesuai syarat Al-Bukhari. Adz-Dzahabi dalam At-Talkhis mengatakan bahwa sesuai syarat Bukhari. Ibnu Hajar dalam At-Talkhis Al-Habir, 4: 1493 mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan secara mursal. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib, no. 2265 mengatakan bahwa hadits ini shahih.)

๐Ÿ“ŒFaedah Hadits

1- Hadits ini menjelaskan bahwa Allah sangat menyayangi hamba-Nya yaitu Allah menetapkan berbuat baik pada sesama. Contoh dalam hal ini adalah memberi petunjuk jalan pada orang yang tersesat, juga memberi makan pada orang yang butuh makan.

2- Hadits ini menunjukkan dorongan untuk berbuat ihsan pada segala sesuatu.

3- Dalam membunuh atau menyembelih diperintahkan dengan cara yang baik, yaitu dengan mengikuti tuntunan syari’at.

4- Dalam hadits ini digunakan kata kataba atau kitabah yaitu menetapkan. Sedangkan kitabah itu dijelaskan oleh para ulama ada dua macam yaitu kitabah qadariyyah dan kitabah syar’iyyah. Kitabah qadariyyah adalah ketetapan yang pasti terjadi. Sedangkan kitabah syar’iyyah adalah ketetapan yang kadang manusia kerjakan dan kadang tidak dikerjakan.

Contoh kitabah qadariyyah seperti dalam ayat,

ูˆَู„َู‚َุฏْ ูƒَุชَุจْู†َุง ูِูŠ ุงู„ุฒَّุจُูˆุฑِ ู…ِู†ْ ุจَุนْุฏِ ุงู„ุฐِّูƒْุฑِ ุฃَู†َّ ุงู„ْุฃَุฑْุถَ ูŠَุฑِุซُู‡َุง ุนِุจَุงุฏِูŠَ ุงู„ุตَّุงู„ِุญُูˆู†َ

“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh.” (QS. Al-Anbiya’: 105)

Contoh kitabah syar’iyyah seperti dalam ayat,

ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขَู…َู†ُูˆุง ูƒُุชِุจَ ุนَู„َูŠْูƒُู…ُ ุงู„ุตِّูŠَุงู…ُ ูƒَู…َุง ูƒُุชِุจَ ุนَู„َู‰ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ู…ِู†ْ ู‚َุจْู„ِูƒُู…ْ ู„َุนَู„َّูƒُู…ْ ุชَุชَّู‚ُูˆู†َ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

5- Wajib berbuat ihsan pada segala sesuatu dan bentuknya bermacam-macam, bisa pada amalan seperti:

Dalam hal yang wajib yaitu menjalankan kewajiban secara sempurna sebagaimana yang dituntut. Sedangkan berbuat ihsan dalam hal menyempurnakan yang sunnah tidaklah wajib.Meninggalkan yang haram.Sabar terhadap takdir yang tidak menyenangkan, tanpa menggerutu atau mengeluh pada takdir.Berbuat baik dalam muamalah dengan manusia lainnya.Berbuat baik ketika membunuh sesuatu yang dibolehkan untuk dibunuh.

6- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memberikan contoh dalam menjelaskan sesuatu. Dalam hadits ini disebutkan contoh ihsan yaitu dalam hal menyembelih.

7- Bagaimana cara berbuat baik ketika menyembelih? Caranya adalah dengan mengikuti tuntunan syari’at Islam saat menyembelih.

Aturan-aturan penting yang jadi syarat yang mesti dipenuhi:

a- Yang menyembelih adalah seorang muslim atau ahli kitab (Yahudi dan Nashrani). Oleh karena itu, tidak halal hasil sembelihan dari seorang penyembah berhala, seorang yang murtad (keluar dari Islam) dan orang Majusi. Begitu pula orang yang meninggalkan shalat tidak sah dalam menyembelih qurban karena orang yang meninggalkan shalat bukan termasuk muslim, bukan pula termasuk ahli kitab.

Sembelihan ahli kitab masih halal bagi seorang muslim sebagaimana firman Allah Ta’ala,

ูˆَุทَุนَุงู…ُ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุฃُูˆุชُูˆุง ุงู„ْูƒِุชَุงุจَ ุญِู„ٌّ ู„َูƒُู…ْ ูˆَุทَุนَุงู…ُูƒُู…ْ ุญِู„ٌّ ู„َู‡ُู…ْ

“Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka.” (QS. Al-Maidah: 5). Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan lainnya menafsirkan bahwa yang dimaksudkan makanan di sini adalah sembelihan mereka. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3:328)

๐Ÿ“ŒSiapakah ahli kitab?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah membawakan ayat berikut ini,

ูˆَู‚ُู„ْ ู„ِู„َّุฐِูŠู†َ ุฃُูˆุชُูˆุง ุงู„ْูƒِุชَุงุจَ

“Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab.” (QS. Ali Imran: 20)

Lalu beliau menjelaskan, ayat ini ditujukan pada Ahli Kitab di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal ajaran ahli kitab yang hidup di zaman beliau sudah mengalami naskh wa tabdiil (penghapusan dan penggantian). Maka ayat ini menunjukkan bahwa siapa saja yang menisbatkan dirinya pada Yahudi dan Nashrani, merekalah ahli kitab. Ayat ini bukan khusus membicarakan ahli kitab yang betul-betul berpegang teguh dengan Al-Kitab (tanpa penghapusan dan penggantian). Begitu pula tidak ada beda antara anak Yahudi dan Nashrani yang hidup setelah adanya penggantian Injil-Taurat di sana-sini dan yang hidup sebelumnya. Jika setelah adanya perubahan Injil-Taurat di sana-sini, anak Yahudi dan Nashrani disebut ahli kitab, begitu pula ketika anak Yahudi dan Nashrani tersebut hidup sebelum adanya perubahan Taurat-Injil, mereka juga disebut Ahli Kitab dan mereka kafir jika tidak mengimani Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihat Al-Iman karya Ibnu Taimiyah, hlm. 49.

b- Menggunakan alat pemotong, baik tajam atau tumpul asalkan bisa memotong (mengalirkan darah), baik berbahan stainless, perak, emas, tongkat atau kayu. Dalam hadits dari Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ู…َุง ุฃَู†ْู‡َุฑَ ุงู„ุฏَّู…َ ูˆَุฐُูƒِุฑَ ุงุณْู…ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุนَู„َูŠْู‡ِ ، ูَูƒُู„ُูˆู‡ُ ، ู„َูŠْุณَ ุงู„ุณِّู†َّ ูˆَุงู„ุธُّูُุฑَ ، ูˆَุณَุฃُุญَุฏِّุซُูƒُู…ْ ุนَู†ْ ุฐَู„ِูƒَ ، ุฃَู…َّุง ุงู„ุณِّู†ُّ ูَุนَุธْู…ٌ ูˆَุฃَู…َّุง ุงู„ุธُّูُุฑُ ูَู…ُุฏَู‰ ุงู„ْุญَุจَุดَุฉِ

“Segala sesuatu yang mengalirkan darah dan disebut nama Allah ketika menyembelihnya, silakan kalian makan, asalkan yang digunakan bukanlah gigi dan kuku. Aku akan memberitahukan pada kalian mengapa hal ini dilarang. Adapun gigi, ia termasuk tulang (tulang tidak boleh digunakan untuk menyembelih, -pen). Sedangkan kuku adalah alat penyembelihan yang dipakai penduduk Habasyah.” (HR. Bukhari, no. 2488 dan lihat Fath Al-Bari, 15:447)

c- Yang dipotong adalah empat bagian yaitu dua urat leher, saluran nafas, dan saluran makan. Namun kalau memotong dua urat leher atau saluran nafas dan saluran makan saja, tetap sah dan halal, sebagaimana penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Al-Arba’in, hlm. 214.

d- Menyebut nama Allah ketika menyembelih (membaca bismillah). Allah Ta’ala berfirman,

ูˆَู„َุง ุชَุฃْูƒُู„ُูˆุง ู…ِู…َّุง ู„َู…ْ ูŠُุฐْูƒَุฑِ ุงุณْู…ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุฅِู†َّู‡ُ ู„َูِุณْู‚ٌ

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.” (QS. Al-An’am: 121)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Ada suatu kaum berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ada sekelompok orang yang mendatangi kami dengan hasil sembelihan. Kami tidak tahu apakah sembelihan itu disebut nama Allah ataukah tidak saat disembelih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

ุณَู…ُّูˆุง ุนَู„َูŠْู‡ِ ุฃَู†ْุชُู…ْ ูˆَูƒُู„ُูˆู‡ُ

“Kalian hendaklah menyebut nama Allah dan makanlah daging tersebut.” ’Aisyah berkata bahwa mereka sebenarnya baru saja masuk Islam.” (HR. Bukhari, no. 5507)

8- Wajib menajamkan pisau atau alat pemotong ketika menyembelih.

9- Wajib menyenangkan hewan yang akan disembelih, caranya adalah dengan mempercepat cara menyembelih.

Di antara adab-adab yang bisa dipenuhi saat menyembelih qurban adalah sebagai berikut.

a- Membaringkan hewan di sisi sebelah kiri, memegang pisau dengan tangan kanan, dan menahan kepala hewan ketika menyembelih. Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

ุฃَู†َّ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุฃَู…َุฑَ ุจِูƒَุจْุดٍ ุฃَู‚ْุฑَู†َ ูŠَุทَุฃُ ูِู‰ ุณَูˆَุงุฏٍ ูˆَูŠَุจْุฑُูƒُ ูِู‰ ุณَูˆَุงุฏٍ ูˆَูŠَู†ْุธُุฑُ ูِู‰ ุณَูˆَุงุฏٍ ูَุฃُุชِู‰َ ุจِู‡ِ ู„ِูŠُุถَุญِّู‰َ ุจِู‡ِ ูَู‚َุงู„َ ู„َู‡َุง « ูŠَุง ุนَุงุฆِุดَุฉُ ู‡َู„ُู…ِّู‰ ุงู„ْู…ُุฏْูŠَุฉَ ».ุซُู…َّ ู‚َุงู„َ « ุงุดْุญَุฐِูŠู‡َุง ุจِุญَุฌَุฑٍ ». ูَูَุนَู„َุชْ ุซُู…َّ ุฃَุฎَุฐَู‡َุง ูˆَุฃَุฎَุฐَ ุงู„ْูƒَุจْุดَ ูَุฃَุถْุฌَุนَู‡ُ ุซُู…َّ ุฐَุจَุญَู‡ُ ุซُู…َّ ู‚َุงู„َ « ุจِุงุณْู…ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุชَู‚َุจَّู„ْ ู…ِู†ْ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุขู„ِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَู…ِู†ْ ุฃُู…َّุฉِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ». ุซُู…َّ ุถَุญَّู‰ ุจِู‡ِ

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam meminta diambilkan seekor kambing kibasy (domba jantan, gibas). Beliau berjalan dan berdiri serta melepas pandangannya di tengah orang banyak. Kemudian beliau dibawakan seekor kambing kibasy untuk beliau buat qurban. Beliau berkata kepada ‘Aisyah, “Wahai ‘Aisyah, bawakan kepadaku pisau.” Beliau melanjutkan, “Asahlah pisau itu dengan batu.” ‘Aisyah pun mengasahnya. Lalu beliau membaringkan kambing itu, kemudian beliau bersiap menyembelihnya, lalu mengucapkan, “Bismillah. Ya Allah, terimalah qurban ini dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan umat Muhammad.” Kemudian beliau menyembelihnya. (HR. Muslim, no. 1967)

b- Meletakkan kaki di sisi leher hewan. Hal ini berdasarkan hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

ุถَุญَّู‰ ุงู„ู†َّุจِู‰ُّ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ุจِูƒَุจْุดَูŠْู†ِ ุฃَู…ْู„َุญَูŠْู†ِ ، ูَุฑَุฃَูŠْุชُู‡ُ ูˆَุงุถِุนًุง ู‚َุฏَู…َู‡ُ ุนَู„َู‰ ุตِูَุงุญِู‡ِู…َุง ูŠُุณَู…ِّู‰ ูˆَูŠُูƒَุจِّุฑُ ، ูَุฐَุจَุญَู‡ُู…َุง ุจِูŠَุฏِู‡ِ

“Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam berqurban dengan dua ekor kambing kibasy (gibas) putih. Aku melihat beliau menginjak kakinya di pangkal leher dua kambing itu. Lalu beliau membaca bismillah dan bertakbir, kemudian beliau menyembelih keduanya.” (HR. Bukhari, no. 5558)

c- Menghadapkan hewan ke arah kiblat. Dari Nafi’ rahimahullah, ia berkata,

ุฃَู†َّ ุงِุจْู†َ ุนُู…َุฑَ ูƒَุงู†َ ูŠَูƒْุฑَู‡ُ ุฃَู†ْ ูŠَุฃْูƒُู„َ ุฐَุจِูŠْุญَุฉَ ุฐَุจْุญِู‡ِ ู„ِุบَูŠْุฑِ ุงู„ู‚ِุจْู„َุฉِ

“Sesungguhnya Ibnu Umar tidak suka memakan daging hewan yang disembelih dengan tidak menghadap kiblat.” (HR. ‘Abdur Razaq, no. 8585 dengan sanad yang shahih)

Semoga bermanfaat.

Referensi:Al-Iman. Cetakan kelima, tahun 1416 H. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Ahmad bin ‘Abdul Halim Al-Harani. Penerbit Al-Maktab Al-Islami.Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan Pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm.Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetakan Keempat, Tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al-Asqalani, Penerbit Dar Thiybah.Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Al-Imam ‘Ali bin Daud Al-‘Atthar Asy-Syafi’i. Penerbit Dar Al-Basyair Al-Islamiyyah.Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.

Referensi Terjemahan:

Panduan Qurban. Cetakan pertama, tahun 1436 H. Muhammad Abduh Tuasikal. Penerbit Pustaka Muslim

Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

๐Ÿ”€ Chanel Grup WA Al Manhaj Salafiy GMS

Fanspage:https://www.facebook.com/AlManhajSalafiy/
Telegram :http://t.me/Salafiyyah_GMS
Website:https://almanhajsalafiygms.wordpress.com
*join grup khusus wanita Grup Manhaj salaf 4️⃣* 
https://chat.whatsapp.com/5vHaP7zfQHrHjTCZiYLe4R
Kunjungi websit kami
Bagi anda yang berminat  membeli buku2 cara menulis arab untuk anak2 tercinta di usia dini 4,5 tahun klik link⬇️
https://www.metodeabana.com/p/arin_25.html

✅ Silakan di-share