Sabtu, 29 Agustus 2020
Serial Hadist Arbain#23
Jumat, 28 Agustus 2020
Serial Hadist Arbain#22
*๐๐ฅ๐ซSERIAL HADISTS SHAHIH*
*Hadits Arbain #22: Shalat, Puasa, Menghalalkan yang Halal, Mengharamkan yang Haram*
Oleh Ustad Muhammad Abduh Tuasikal, MSc
https://almanhajsalafiy.blogspot.com/?m=1
Jalan menuju surga, yaitu dengan shalat, puasa, menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang haram.
ุงูุญَุฏِْูุซُ ุงูุซَّุงِูู َูุงูุนِุดْุฑَُْูู
ุนَْู ุฃَุจْู ุนَุจْุฏِ ุงِููู ุฌَุงุจِุฑِ ุจِู ุนَุจْุฏِ ุงِููู ุงูุฃَْูุตَุงุฑِِّู ุฑَุถَِู ุงُููู ุนَُْูู ุฃََّู ุฑَุฌُูุงً ุณَุฃََู ุงَّููุจَِّู ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู َูุณََّูู َ ََููุงَู: “ุฃَุฑَุฃَْูุชَ ุฅِุฐุง ุตََّْููุชُ ุงูู َْูุชُูุจَุงุชِ، َูุตُู ْุชُ ุฑَู َุถَุงَู، َูุฃَุญَْْููุชُ ุงูุญَูุงََู، َูุญَุฑَّู ْุชُ ุงูุญَุฑَุงู َ، ََููู ْ ุฃَุฒِุฏْ ุนَูู ุฐََِูู ุดَูุฆุงً ุฃَุฏْุฎُُู ุงูุฌََّูุฉَ؟ َูุงَู: َูุนَู ْ”ุฑََูุงُู ู ُุณِْูู ٌ
َูู َุนَْูู ุญَุฑَّู ْุชُ ุงูุญَุฑَุงู َ ุงِุฌْุชََูุจْุชُُู، َูู َุนَْูู ุฃَุญَْْููุชُ ุงูุญَูุงَู َูุนَْูุชُُู ู ُุนْุชَِูุฏุงً ุญَُِّูู
๐Hadits Ke-22
Dari Abu ‘Abdillah Jarir bin ‘Abdillah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Bagaimana pendapat Anda (kabarkan padaku), apabila aku mengerjakan shalat-shalat fardhu, puasa di bulan Ramadhan, menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, dan aku tidak menambahnya sedikit pun dari itu, apakah aku akan masuk surga?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.” (HR. Muslim). [HR. Muslim, no. 15]
Makna “Aku mengharamkan yang haram”, ialah aku menjauhinya. Dan makna “Aku menghalalkan yang halal” ialah aku menghalalkannya lalu melakukannya dengan meyakini kehalalannya. Wallahu a’lam.
๐Penjelasan Hadits
Shiyam secara bahasa berarti menahan diri dari sesuatu. Menurut istilah syariat, shiyam adalah menahan diri dari berbagai pembatal dari terbit fajar hingga terbenam matahari dalam rangka beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla.
Menghalalkan yang halal maksudnya adalah: (1) meyakini kehalalannya, (2) mengamalkannya.
Mengharamkan yang haram maksudnya adalah menjauhi yang haram dengan meyakini keharamannya.
Surga adalah negeri yang penuh kenikmatan yang Allah sediakan bagi orang bertakwa. Tentang surga disebutkan dalam ayat,
ََููุง ุชَุนَْูู ُ َْููุณٌ ู َุง ุฃُุฎَِْูู َُููู ْ ู ِْู ُูุฑَّุฉِ ุฃَุนٍُْูู ุฌَุฒَุงุกً ุจِู َุง َูุงُููุง َูุนْู ََُููู
“Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17)
Dalam hadits qudsi, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,
ุฃَุนْุฏَุฏْุชُ ِูุนِุจَุงุฏِู ุงูุตَّุงِูุญَِูู ู َุง ูุงَ ุนََْูู ุฑَุฃَุชْ ، َููุงَ ุฃُุฐَُู ุณَู ِุนَุชْ ، َููุงَ ุฎَุทَุฑَ ุนََูู َْููุจِ ุจَุดَุฑٍ
َูุงْูุฑَุกُูุง ุฅِْู ุดِุฆْุชُู ْ ( َููุงَ ุชَุนَْูู ُ َْููุณٌ ู َุง ุฃُุฎَِْูู َُููู ْ ู ِْู ُูุฑَّุฉِ ุฃَุนٍُْูู )
“Aku telah sediakan pada hambaku yang saleh, sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik dalam hati manusia. Bacalah jika kalian mau: Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang.” (HR. Bukhari, no. 3244 dan Muslim, no. 2824)
Ada juga hadits yang menyebutkan bahwa sedikit amalan saja bisa membuat seseorang masuk surga yaitu ketika mencukupi dengan yang wajib.
Thalhah bin ‘Ubaidilah radhiyallahu ‘anhu berkata,
ุฌَุงุกَ ุฑَุฌٌُู ุฅَِูู ุฑَุณُِูู ุงَِّููู – ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู – ู ِْู ุฃَِْูู َูุฌْุฏٍ ، ุซَุงุฆِุฑُ ุงูุฑَّุฃْุณِ ، ُูุณْู َุนُ ุฏَُِّูู ุตَْูุชِِู ، َููุงَ َُُْูููู ู َุง َُُูููู ุญَุชَّู ุฏََูุง ، َูุฅِุฐَุง َُูู َูุณْุฃَُู ุนَِู ุงูุฅِุณْูุงَู ِ ََููุงَู ุฑَุณُُูู ุงَِّููู – – ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู – « ุฎَู ْุณُ ุตَََููุงุชٍ ِูู ุงَْْูููู ِ َูุงََّْููููุฉِ » . ََููุงَู َْูู ุนَََّูู ุบَْูุฑَُูุง َูุงَู « ูุงَ ، ุฅِูุงَّ ุฃَْู ุชَุทََّูุนَ » . َูุงَู ุฑَุณُُูู ุงَِّููู – ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู – « َูุตَِูุงู ُ ุฑَู َุถَุงَู » . َูุงَู َْูู ุนَََّูู ุบَْูุฑُُู َูุงَู « ูุงَ ، ุฅِูุงَّ ุฃَْู ุชَุทََّูุนَ » . َูุงَู َูุฐََูุฑَ َُูู ุฑَุณُُูู ุงَِّููู – ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู – ุงูุฒََّูุงุฉَ . َูุงَู َْูู ุนَََّูู ุบَْูุฑَُูุง َูุงَู « ูุงَ ، ุฅِูุงَّ ุฃَْู ุชَุทََّูุนَ » . َูุงَู َูุฃَุฏْุจَุฑَ ุงูุฑَّุฌُُู ََُููู َُُูููู َูุงَِّููู ูุงَ ุฃَุฒِูุฏُ ุนََูู َูุฐَุง َููุงَ ุฃَُْููุตُ . َูุงَู ุฑَุณُُูู ุงَِّููู – ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู – « ุฃََْููุญَ ุฅِْู ุตَุฏََู»
“Ada seorang lelaki yang beruban kepalanya dari Ahli Najd datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami dapat mendengar gema suaranya tetapi tidak memahami apa yang ia katakan, sampai ia berada dekat dengan beliau.
Ternyata ia bertanya tentang Islam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Islam itu mengerjakan shalat lima waktu sehari semalam.”
Laki-laki tersebut bertanya lagi, “Apakah ada kewajiban lain selain itu untukku?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin menambah dengan yang sunnah.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan lagi, “Islam juga mengerjakan puasa di bulan Ramadhan.”
Laki-laki tersebut bertanya lagi, “Apakah ada kewajiban lain selain itu untukku?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin menambah dengan yang sunnah.”
Thalhah melanjutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan lagi tentang masalah zakat. Laki-laki tersebut bertanya lagi, “Apakah ada kewajiban lain selain itu untukku?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin menambah dengan yang sunnah.”
Lalu lelaki tersebut berbalik pergi lalu berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menambahkan dan juga mengurangi sedikit pun darinya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Beruntunglah orang tersebut jika ia jujur.” (HR. Bukhari, no. 46 dan Muslim, no. 11)
๐Faedah Hadits
1.Para sahabat semangat dalam bertanya.
2.Tujuan para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah masuk surga, itu tujuan utamanya. Tujuan utama mereka hidup bukanlah untuk memperbanyak harta, memiliki banyak anak, tidak untuk bermegah-megahan dalam hal dunia.
3.Dalam hadits ini disebutkan empat macam ibadah yaitu shalat lima waktu, puasa Ramadhan, menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang haram.
4.Manusia jika mencukupkan dengan shalat lima waktu, maka ia dimudahkan masuk surga.
5.Shalat lima waktu dan puasa merupakan sebab masuk surga. Ada hadits yang menyebutkan bahwa siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan ihtisaban (berharap pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
6.Pengertian masuk surga karena sebagian amalan yang dikerjakan punya dua kemungkinan makna: (1) ia masuk surga selama terpenuhinya syarat dan tercegah dari penghalang; (2) ia masuk surga selama bertauhid karena tauhidlah yang membuat shalat, zakat, puasa, serta amalan lain diterima.
7.Pengertian masuk surga juga ada dua makna–menurut Syaikh Shalih Alu Syaikh hafizhahullah–yaitu masuk surga untuk pertama kali, atau yang penting masuk surga walaupun tertunda.
8.Tidak boleh mencegah seseorang dari yang halal.
9.Definisi Imam Nawawi rahimahullah, mengharamkan yang haram adalah menjauhi yang haram. Yang tepat adalah meyakini haramnya dan menjauhinya. Karena kalau tidak diyakini keharamannya berarti tidak meyakini hukum syar’i. Begitu pula menghalalkan yang halal adalah meyakini halalnya dan melakukan yang halal tersebut. Berarti pengertian dari Imam Nawawi ada kekurangan.
10.Zakat dan haji tidak disebutkan dalam hadits ini dan ia beramal hanya terbatas pada empat amalan saja membuatnya masuk surga. Ada dua alasan untuk menjawab hal ini: (1) zakat dan haji jika tidak dikerjakan sudah masuk dalam kalimat “mengharamkan yang haram”; (2) yang dimaksud masuk surga adalah jika terpenuhi syarat dan terlepas dari penghalang, atau masuk surganya tertunda.
Wallahul muwaffiq. Semoga Allah memberi taufik.
Referensi:Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Azzi bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh. Penerbit Darul ‘Ashimah.
Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com
๐ Chanel Grup WA Al Manhaj Salafiy GMS
Fanspage:https://www.facebook.com/AlManhajSalafiy/
Telegram :http://t.me/Salafiyyah_GMS
Website:https://almanhajsalafiygms.wordpress.com
*join grup khusus wanita Grup Manhaj salaf 4️⃣*
https://chat.whatsapp.com/5vHaP7zfQHrHjTCZiYLe4R
Kunjungi websit kami
Bagi anda yang berminat membeli buku2 cara menulis arab untuk anak2 tercinta di usia dini 4,5 tahun klik link⬇️
https://www.metodeabana.com/p/arin_25.html
✅ Silakan di-share
Selasa, 25 Agustus 2020
Serial Hadist Arbain#21
Senin, 24 Agustus 2020
SERIAL HADIST ARBAIN#20
๐๐ฅ๐ซSERI HADIST SHAHIH
Hadits Arbain #20: Keutamaan Memiliki Sifat Malu
Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc
https://almanhajsalafiy.blogspot.com/?m=1
Hadits Arbain #20 berikut berisi bahasan keutamaan memiliki sifat malu, karena ini jadi warisan dari nabi sebelum nabi kita.
ุงูุญَุฏِْูุซُ ุงูุนِุดْุฑَُْูู
ุนَْู ุฃَุจِู ู َุณْุนُْูุฏٍ ุนُْูุจَุฉَ ุจِْู ุนَู ْุฑٍู ุงูุฃَْูุตَุงุฑِู ุงูุจَุฏْุฑِู – ุฑَุถَِู ุงُููู ุนَُْูู – َูุงَู: َูุงَู ุฑَุณُُْูู ุงِููู ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู َูุณََّูู َ: “ุฅَِّู ู ِู َّุง ุฃَุฏْุฑََู ุงَّููุงุณُ ู ِْู َููุงَู ِ ุงُّููุจَُّูุฉِ ุงูุฃَُْููู: ุฅِุฐَุง َูู ْ ุชَุณْุชَุญِْู َูุงุตَْูุนْ ู َุง ุดِุฆْุชَ” ุฑََูุงُู ุงูุจُุฎَุงุฑِู.
Hadits Ke-20
Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, ‘Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang diketahui manusia ialah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!’”
(HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 3484, 6120]
๐Penilaian Hadits
Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari dari riwayat Manshur bin Al-Mu’tamar dari Rib’iy bin Hirasy dari Abu Mas’ud dari Hudzaifah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ada perbedaan dalam sanad hadits ini. Namun, sebagian besar ahli hadits mengatakan bahwa ini adalah perkataan Abu Mas’ud. Yang mengatakan demikian adalah Al-Bukhari, Abu Zur’ah, Ar-Raziy, Ad-Daruquthniy, dan lain-lain. Yang menunjukkan kebenaran hal ini adalah bahwa telah diriwayatkan dengan jalan lain, dari Abu Mas’ud pada riwayat Masruq. Dikeluarkan pula oleh Ath-Thabraniy dari hadits Abu Ath-Thufail dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga. Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:496.
๐Faedah Hadits
๐Pertama: Sifat malu adalah warisan para nabi terdahulu.
Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan mengenai perkataan dalam hadits tersebut “Sesungguhnya perkataan yang diwarisi oleh orang-orang dari perkataan nabi-nabi terdahulu.”
“Hadits ini menunjukkan bahwa sifat malu adalah sisa (atsar) dari ajaran Nabi terdahulu. Kemudian manusia menyebarkan dan mewariskan dari para Nabi tersebut pada setiap zaman. Maka hal ini menunjukkan bahwa kenabian terdahulu biasa menyampaikan perkataan ini sehingga tersebarlah di antara orang-orang hingga perkataan ini juga akhirnya sampai pada umat Islam.” (Jami’ Al-‘ulum wa Al-Hikam, 1:497)
Yang dimaksudkan dengan (ุงُّููุจَُّูุฉِ ุงูุฃَُْููู) adalah kenabian terdahulu yaitu (mulai dari) awal Rasul dan Nabi: Nuh, Ibrahim dan lain-lain. Lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Syaikh Shalih Alu Syaikh, hlm. 112.
Perkataan umat terdahulu bisa saja dinukil melalui jalan wahyu yaitu Al-Qur’an, As-Sunnah (hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) atau dinukil dari perkataan orang-orang terdahulu. Lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Syaikh Shalih Alu Syaikh, hlm. 207.
Karena hal ini adalah perkataan Nabi terdahulu maka hal ini menunjukkan bahwa perkataan ini memiliki faedah yang besar sehingga sangat penting sekali untuk diperhatikan.
๐Kedua: Ada pelajaran penting yang patut dipahami. Syariat sebelum Islam atau syariat yang dibawa oleh nabi sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terbagi menjadi tiga:
Ajaran yang dibenarkan oleh syariat Islam, maka ajaran ini shahih dan diterima.Ajaran yang dibatalkan oleh syariat Islam, maka ajaran ini bathil dan tertolak.Ajaran yang tidak diketahui dibenarkan atau disalahkan oleh syariat Islam, maka sikap kita adalah tawaqquf (berdiam diri, tidak berkomentar apa-apa). Namun, apabila perkataan semacam ini ingin disampaikan kepada manusia dalam rangka sebagai nasihat dan semacamnya maka hal ini tidaklah mengapa, dengan syarat tidak dianggap bahwa perkataan itu multak benar. (Lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, hlm. 231-232)
Keterangan lainnya diberikan oleh Syaikh Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdil ‘Aziz Asy-Syatsri bahwa syar’un man qablanaa (syariat sebelum kita) ada dua macam:
๐Pertama: Syariat yang disebutkan oleh umat sebelum kita, semisal ini tidak dijadikan hukum karena tidak terpercayanya pembawa berita.
๐Kedua: Syariat yang disebutkan oleh syariat kita dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, hal ini dibagi tiga:
Jika dihapus oleh syariat kita, maka tidak bisa dijadikan hukum. Seperti disebutkan dalam hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dihalalkan ghanimah (harta rampasan perang) dan tidak dihalalkan pada orang sebelum nabi.Jika disetujui oleh syariat kita, maka dijadikan hukum. Seperti syariat puasa diwajibkan bagi kita sebagaimana diwajibkan pula pada orang sebelum kita.Jika tidak diketahui dihapus oleh syariat kita ataukah disetujui, inilah yang terjadi perselisihan pendapat di antara para ulama. Madzhab Malikiyah dan Hambali menyatakan bisa dijadikan hukum, hal ini berbeda dengan madzhab Hanafiyah dan Syafi’iyah. Lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah Al-Mukhtashar, hlm. 153.
๐Ketiga: Rasa malu merupakan bentuk keimanan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
ุงْูุญََูุงุกُ ุดُุนْุจَุฉٌ ู َِู ุงูุฅِูู َุงِู
”Malu merupakan bagian dari keimanan.” (HR. Muslim, no. 161)
๐Rasa malu ini juga dipuji oleh Allah.๐
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
ุฅَِّู ุงََّููู ุนَุฒَّ َูุฌََّู ุญٌَِّูู ุณِุชِّูุฑٌ ُูุญِุจُّ ุงْูุญََูุงุกَ َูุงูุณَّุชْุฑَ َูุฅِุฐَุง ุงุบْุชَุณََู ุฃَุญَุฏُُูู ْ ََْูููุณْุชَุชِุฑْ
”Sesungguhnya Allah itu Mahamalu dan Maha Menutupi, Allah cinta kepada sifat malu dan tertutup, maka jika salah seorang di antara kalian itu mandi maka hendaklah menutupi diri.” (HR. Abu Daud, no. 4014, dikatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani).
๐Keempat: Malu ada dua macam yang berkaitan dengan hak Allah dan berkaitan dengan hak sesama.
Pertama, malu yang berkaitan dengan hak Allah. Seseorang harus memiliki rasa malu ini, dia harus mengetahui bahwa Allah mengetahui dan melihat setiap perbuatan yang dia lakukan, baik larangan yang diterjangnya maupun perintah yang dilakukannya.
Kedua, malu yang berkaitan dengan hak manusia. Seseorang juga harus memiliki rasa malu ini, agar ketika berinteraksi dengan sesama, ia tidak berperilaku yang tidak pantas (menyelisihi al-muru’ah) dan berakhlak jelek.
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah memberi contoh, dalam majelis ilmu, jika seseorang berada di shaf pertama, lalu dia menjulurkan kakinya, maka dia dinilai tidak memiliki rasa malu karena dia tidak menjaga al-muru’ah (kewibawaan). Jika dia duduk di antara teman-temannya, kemudian dia menjulurkan kaki, maka ini tidaklah meniadakan al-muru’ah. Namun, lebih baik lagi jika dia meminta izin pada temannya, “Bolehkah saya menjulurkan kaki?”. (Lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, hlm. 233-234).
๐Kelima: Malu juga ada yang merupakan bawaan, dan ada malu yang mesti diusahakan.
Sebagian manusia telah diberi kelebihan oleh Allah Ta’ala rasa malu. Ketika dia masih kecil saja sudah memiliki sifat demikian. Dia malu berbicara kecuali jika ada urusan mendesak atau tidak mau melakukan sesuatu kecuali jika terpaksa, karena dia adalah pemalu.
Sedangkan malu jenis kedua adalah malu karena hasil dilatih. Orang seperti ini biasa cekatan dalam berbicara, berbuat. Kemudian ia berteman dengan orang-orang yang memiliki sifat malu dan dia tertular sifat ini dari mereka. Rasa malu yang pertama di atas lebih utama dari yang kedua ini. (Lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, hlm. 234)
๐Bagaimana memupuk sifat malu?
Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah dalam Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam menerangkan bahwa malu yang mesti diusahakan bisa diperoleh dari mengenal Allah, mengenal keagungan Allah, merasa Allah dekat dengannya. Inilah tingkatan iman yang paling tinggi, bahkan derajat ihsan yang paling tinggi. Sifat malu bisa muncul pula dari Allah dengan memperhatikan berbagai nikmat-Nya dan melihat kekurangan dalam mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Jika rasa malu yang diusahakan ini pun tidak bisa diraih, maka seseorang tidak akan bisa tercegah dari melakukan keharaman, seakan-akan iman tidak ia miliki, wallahu a’lam.
Hal yang sama juga diterangkan oleh Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah Al-Mukhtashar, hlm. 155-156.
๐Keenam: Perlu diketahui bahwa malu adalah suatu akhlak yang terpuji kecuali jika rasa malu tersebut itu muncul karena enggan melakukan kebaikan atau dapat terjatuh dalam keharaman. Maka jika seseorang enggan untuk melakukan kebaikan seperti enggan untuk nahi mungkar (melarang kemungkaran) padahal ketika itu wajib, maka ini adalah sifat malu yang tercela.
Jadi ingat! Sifat malu itu terpuji jika seseorang yang memiliki sifat tersebut tidak menjadikannya meninggalkan kewajiban atau melakukan yang haram. Lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, hlm. 234.
๐Ketujuh: Jika tidak malu, lakukanlah sesukamu.
Para ulama mengatakan bahwa perkataan ini ada dua makna :
๐Pertama:
Kalimat tersebut bermakna perintah dan perintah ini bermakna mubah. Maknanya adalah jika perbuatan tersebut tidak membuatmu malu, maka lakukanlah sesukamu. Maka makna pertama ini kembali pada perbuatan.
๐Kedua:
Kalimat tersebut bukanlah bermakna perintah. Para ulama memiliki dua tinjauan dalam perkataan kedua ini:
1. Kalimat perintah tersebut bermakna ancaman. Jadi maknanya adalah: Jika kamu tidak memiliki rasa malu, maka lakukanlah sesukamu (ini maksudnya ancaman). Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,
ุงุนْู َُููุง ู َุง ุดِุฆْุชُู ْ ุฅَُِّูู ุจِู َุง ุชَุนْู ََُููู ุจَุตِูุฑٌ
”Lakukanlah sesukamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu lakukan.” (QS. Fushilat: 40).
Maksud ayat ini bukanlah maksudnya agar kita melakukan sesuka kita termasuk perkara maksiat. Namun, maksud ayat ini adalah ancaman: Jika kamu tidak memiliki rasa malu, lakukanlah sesukamu. Pasti engkau akan mendapatkan akibatnya.
2. Kalimat perintah tersebut bermakna berita. Jadi maknanya adalah: Jika kamu tidak memiliki rasa malu, maka lakukanlah sesukamu. Dan penghalangmu untuk melakukan kejelekan adalah rasa malu. Jadi bagi siapa yang tidak memiliki rasa malu, maka dia akan terjerumus dalam kejelekan dan kemungkaran. Dan yang menghalangi hal semacam ini adalah rasa malu. Kalimat semacam ini juga terdapat dalam hadits Nabi yang mutawatir,
ู َْู َูุฐَุจَ ุนَََّูู ู ُุชَุนَู ِّุฏًุง ََْูููุชَุจََّูุฃْ ู َْูุนَุฏَُู ู َِู ุงَّููุงุฑِ
“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka silakan ambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari, no. 110 dan Muslim, no. 3).
Kalimat ini adalah perintah, namun bermakna khabar (berita). Jadi jika tidak memiliki sifat malu, pasti engkau akan terjerumus dalam kemungkaran. Itu maksud perintah di sini bermakna berita. (Lihat Tawdhih Al-Ahkam, 4:794, Darul Atsar; Syarh Arba’in Syaikh Shalih Alu Syaikh, hlm. 113; Syarh Arba’in Al-Utsaimin, hlm. 207; Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, hlm. 255)
Semoga Allah beri taufik agar kita dihiasi dengan rasa malu.
Referensi:Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah Al-Mukhtashar. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syatsri. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya.Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh. Penerbit Darul ‘Ashimah.
Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com
๐ Chanel Grup WA Al Manhaj Salafiy GMS
Fanspage:https://www.facebook.com/AlManhajSalafiy/
Telegram :http://t.me/Salafiyyah_GMS
Website:https://almanhajsalafiygms.wordpress.com
*join grup khusus wanita Grup Manhaj salaf 4️⃣*
https://chat.whatsapp.com/5vHaP7zfQHrHjTCZiYLe4R
Kunjungi websit kami
Bagi anda yang berminat membeli buku2 cara menulis arab untuk anak2 tercinta di usia dini 4,5 tahun klik link⬇️
https://www.metodeabana.com/p/arin_25.html
✅ Silakan di-share
Kamis, 20 Agustus 2020
12 Lafaz istighfar sesuai sunnah
➡ 12 Macam Bacaan Istighfar Dan Kapan Disunnahkan Membaca Istighfar
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,
Istighfar memiliki beberapa redaksi yang termaktub di dalam al-Qur’an dan Sunnah. Di antara redaksi istighfar yang disebutkan dalam al-Qur’an;
➡ Pertama:
“ุฑุจََّูุง ุงุบِْูุฑْ ََููุง ุฐُُููุจََูุง َูุฅِุณْุฑَุงََููุง ِูู ุฃَู ْุฑَِูุง، َูุซَุจِّุชْ ุฃَْูุฏَุงู ََูุง، ูุงูุตُุฑَْูุง ุนََูู ุงَْْูููู ِ ุงَْููุงِูุฑَِูู“.
“Robbanรขghfirlanรข dzunรปbanรข wa isrรดfanรข fรฎ amrinรข, wa tsabbit aqdรขmanรข, wanshurnรข ‘alal qoumil kรขfirรฎn”.
Artinya: “Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan (dalam) urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami. Serta tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”. QS. Ali Imran (3): 147.
➡ Kedua:
“ุฑَุจََّูุง ุฅََِّููุง ุขู ََّูุง َูุงุบِْูุฑْ ََููุง ุฐُُููุจََูุง ََِูููุง ุนَุฐَุงุจَ ุงَّููุงุฑِ“.
“Robbanรข innanรข รขmannรข faghfirlanรข dzunรปbanรข wa qinรข ‘adzรขbannรขr”.
Artinya: “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari siksaan neraka”. QS. Ali Imran (3): 16.
➡ Ketiga:
“ุฑَุจََّูุง ุฅََِّููุง ุณَู ِุนَْูุง ู َُูุงุฏًِูุง َُููุงุฏِู ِููุฅِูู َุงِู ุฃَْู ุขู ُِููุง ุจِุฑَุจُِّูู ْ َูุขู ََّูุง، ุฑَุจََّูุง َูุงุบِْูุฑْ ََููุง ุฐُُููุจََูุง ََِّูููุฑْ ุนََّูุง ุณَِّูุฆَุงุชَِูุง، َูุชََََّูููุง ู َุนَ ุงูุฃุจْุฑَุงุฑِ“.
“Robbanรข innanรข sami’nรข munรขdiyan yunรขdรฎ lil รฎmรขni an รขminรป birabbikum fa รขmannรข. Robbanรข faghfir lanรข dzunรปbanรข wa kaffir ‘annรข sayyi’รขtinรข, wa tawaffanรข ma’al abrรดr”.
Artinya: “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman, (yaitu), “Berimanlah kalian kepada Rabbmu”, maka kami pun beriman. Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti”. QS. Ali Imran (3): 193.
➡ Keempat:
“ุฑَุจََّูุง ุขู ََّูุง َูุงุบِْูุฑْ ََููุง َูุงุฑْุญَู َْูุง َูุฃَูุชَ ุฎَْูุฑُ ุงูุฑَّุงุญِู َِูู“.
“Robbanรข รขmannรข faghfir lanรข warhamnรข wa Anta khoirur rรดhimรฎn”.
Artinya: “Wahai Rabb kami, sungguh kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, Engkau adalah pemberi rahmat yang terbaik”. QS. Al-Mu’minun (23): 109.
➡ Kelima:
“ุฑَุจََّูุง ุฃَุชْู ِู ْ ََููุง ُููุฑََูุง َูุงุบِْูุฑْ ََููุง، ุฅََِّูู ุนََูู ُِّูู ุดَْูุกٍ َูุฏِูุฑٌ“.
“Robbanรข atmim lanรข nรปronรข waghfirlanรข, innaka ‘alรข kulli syai’in qodรฎr”.
Artinya: “Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”. QS. At-Tahrim (66): 8.
Pada pertemuan lalu kita telah membahas beberapa redaksi istighfar yang termaktub di dalam al-Qur’an. Berikut ini beberapa redaksi istighfar yang disebutkan dalam Hadits;
➡ Keenam:
“ุงَُّูููู َّ ุฃَْูุชَ ุฑَุจِّู َูุง ุฅََِูู ุฅَِّูุง ุฃَْูุชَ ุฎََْููุชَِูู، َูุฃََูุง ุนَุจْุฏَُู، َูุฃََูุง ุนََูู ุนَْูุฏَِู ََููุนْุฏَِู ู َุง ุงุณْุชَุทَุนْุชُ. ุฃَุนُูุฐُ ุจَِู ู ِْู ุดَุฑِّ ู َุง ุตََูุนْุชُ، ุฃَุจُูุกُ ََูู ุจِِูุนْู َุชَِู ุนَََّูู َูุฃَุจُูุกُ ََูู ุจِุฐَْูุจِู، َูุงุบِْูุฑْ ِูู َูุฅَُِّูู َูุง َูุบِْูุฑُ ุงูุฐُُّููุจَ ุฅَِّูุง ุฃَْูุชَ”
“ALLรHUMMA ANTA RABBร Lร ILรHA ILLร ANTA KHOLAQTANร, WA ANA ‘ABDUKA, WA ANA ‘ALร ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHO’TU. A’รDZU BIKA MIN SYARRI Mร SHONA’TU, ABร`U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABร`U BIDZANBร, FAGHFIRLร FA INNAHU Lร YAGHFIRUDZ DZUNรBA ILLร ANTA”
(Ya Allรขh, Engkau adalah Rabbku, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau).
Ini merupakan redaksi istighfar yang paling istimewa, biasa diistilahkan dengan Sayyidul Istighfar. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan keutamaannya, “Barangsiapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore; maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi; maka ia termasuk penghuni surga”. HR. Bukhari dari Syaddad bin Aus radhiyallahu’anhu.
➡ Ketujuh:
“ุงَُّูููู َّ ุฅِِّูู ุธََูู ْุชُ َْููุณِู ุธُْูู ًุง َูุซِูุฑًุง ََููุง َูุบِْูุฑُ ุงูุฐُُّููุจَ ุฅَِّูุง ุฃَْูุชَ؛ َูุงุบِْูุฑْ ِูู ู َุบِْูุฑَุฉً ู ِْู ุนِْูุฏَِู َูุงุฑْุญَู ِْูู، ุฅَِّูู ุฃَْูุชَ ุงْูุบَُููุฑُ ุงูุฑَّุญِูู ُ”.
“ALLรHUMMA INNร DZOLAMTU NAFSร DZULMAN KATSรRON, WA Lร YAGHFIRUDZ DZUNรBA ILLร ANTA FAGHFIRLร MAGHFIROTAN MIN ‘INDIKA WARHAMNร, INNAKA ANTAL GHOFรRUR ROHรM”
(Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku sendiri dan tidak ada yang bisa mengampuni dosa melainkan hanya Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari-Mu dan sayangilah aku. Sesungguhnya Engkau Mahapengampun lagi Mahapenyayang).
Redaksi di atas diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam kepada Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu saat beliau meminta diajari doa untuk dibaca di dalam shalatnya. HR. Bukhari dan Muslim.
➡ Kedelapan:
ุฃَุณْุชَุบِْูุฑُ ุงََّููู ุงْูุนَุธِูู َ ุงَّูุฐِู ูุงَ ุฅََِูู ุฅِูุงَّ َُูู ุงْูุญَُّู ุงَُّْููููู ُ ، َูุฃَุชُูุจُ ุฅَِِْููู
“ASTAGHFIRULLรHAL ‘ADZรM ALLADZร Lร ILรHA ILLร HUWAL HAYYUL QOYYรM WA ATรBU ILAIHI”.
(Aku memohon ampunan kepada Allah yang Mahaagung. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia Yang Mahahidup dan Maha berdiri sendiri).
Barang siapa mengucapkannya, niscaya akan diampuni dosa-dosanya walaupun ia lari dari medan pertempuran. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau juga al-Albany.
Pada pertemuan lalu kita telah membahas beberapa redaksi istighfar yang termaktub di dalam Hadits. Berikut kelanjutannya;
➡ Kesembilan:
“ุงَُّูููู َّ ุงุบِْูุฑْ ََููุง َูุงุฑْุญَู َْูุง َูุชُุจْ ุนَََْูููุง ุฅََِّูู ุฃَْูุชَ ุงูุชََّّูุงุจُ ุงูุฑَّุญِْูู ُ“
“ALLรHUMMAGH FIRLANร WAR HAMNร WA TUB ‘ALAINร, INNAKA ANTAT TAWWรBUR ROHรM”
(Ya Allรขh, ampunilah kami dan sayangilah kami, serta terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). HR. An-Nasa’iy dalam al-Kubra.
➡ Kesepuluh:
“ุฃَุณْุชَุบِْูุฑُ ุงَููู َูุฃَุชُูุจُ ุฅَِِْููู”
“ASTAGHFIRULLรH WA ATรBU ILAIH”.
(Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya).
Dalam HR. Bukhari, Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihiwasallam dalam sehari membacanya lebih dari tujuhpuluh kali.
➡ Kesebelas:
“ุฑَุจِّ ุงุบِْูุฑْ ِูู َูุชُุจْ ุนَََّูู ุฅََِّูู ุฃَْูุชَ ุงูุชََّّูุงุจُ ุงูุฑَّุญِูู ُ”
“ROBBIGHFIRLร WA TUB ‘ALAYYA INNAKA ANTAT TAWWรBUR ROHรM”
(Ya Rabbi ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang).
Dalam HR. Abu Dawud yang dinilai sahih oleh al-Albany, Ibn Umar radhiyallahu’anhuma menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sering membaca istighfar di atas dalam sekali duduk sebanyak seratus kali.
Dalam berbagai redaksi di atas, istighfar digandengkan dengan permohonan taubat. Ibn al-Qayyim dalam Madรขrij as-Sรขlikรฎn menjelaskan bahwa jika istighfar disebutkan secara bersamaan dengan taubat, maka yang dimaksud dari istighfar adalah meminta perlindungan dari keburukan dosa yang telah terjadi. Sedangkan taubat adalah kembali dan meminta perlindungan dari keburukan yang dikhawatirkan terjadi di masa yang akan datang, berupa kejelekan amal yang dia perbuat. Maka istighfar adalah menghilangkan keburukan, sedangkan taubat adalah meminta adanya manfaat (kebaikan). Ampunan akan melindungi diri kita dari keburukan dosa yang telah terjadi. Adapun taubat, setelah adanya perlindungan tersebut, maka terwujudlah apa yang dia cintai atau dia harapkan berupa maslahat atau kebaikan.
➡ Keduabelas:
“ุฃَุณْุชَุบِْูุฑُ ุงَููู”
“ASTAGHFIRULLรH”.
(Aku memohon ampun kepada Allah).
Redaksi di atas dibaca antara lain setiap selesai shalat fardhu, sebanyak tiga kali. Sebagaimana dalam HR. Muslim dari Tsauban radhiyallahu’anhu.
=
➡ Pahala Istighfar
✅ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ,
๏ปญَ๏บ๏ปَّ๏บฌِ๏ปฏ ๏ปงَ๏ปْ๏บดِ๏ปฐ ๏บِ๏ปดَ๏บชِ๏ปฉِ ๏ปَ๏ปฎْ ๏ปَ๏ปขْ ๏บُ๏บฌْ๏ปงِ๏บُ๏ปฎ๏บ ๏ปَ๏บฌَ๏ปซَ๏บَ ๏บ๏ป๏ป َّ๏ปชُ ๏บِ๏ปُ๏ปขْ ๏ปญَ๏ปَ๏บ َ๏บ๏บَ ๏บِ๏ปَ๏ปฎْ๏ปกٍ ๏ปณُ๏บฌْ๏ปงِ๏บُ๏ปฎ๏ปฅَ๏ปَ๏ปดَ๏บดْ๏บَ๏ปْ๏ปِ๏บฎُ๏ปญ๏ปฅَ ๏บ๏ป๏ป َّ๏ปชَ ๏ปَ๏ปดَ๏ปْ๏ปِ๏บฎُ ๏ปَ๏ปฌُ๏ปขْ
“ Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak pernah berbuat dosa, niscaya Allah akan mengganti kalian dengan mendatangkan suatu kaum yang kemudian kaum tersebut berbuat dosa, kemudian mereka meminta ampun kepada Allah, dan Allah akan mengampuni mereka” (HR. Muslim)
=
➡Kapan Disunnahkan Membaca Istighfar
Sejatinya seorang hamba disyariatkan untuk memperbanyak istighfar kapan saja. Al-Hasan al-Bashry menjelaskan, “Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di meja makan kalian, di jalan-jalan kalian, di pasar dan di majlis-majlis kalian. Sungguh kalian itu tidak tahu kapankah ampunan Allah turun”.
Jadi, istighfar itu disyariatkan untuk dibaca kapan pun. Hanya saja hukumnya menjadi wajib saat kita melakukan perbuatan dosa. Dan hukumnya sunnah setelah kita selesai melakukan amal salih. Fungsinya adalah untuk menyempurnakan berbagai kekurangan yang ada di dalamnya.
Namun di sana ada beberapa momen yang mendapatkan penekanan khusus untuk kita baca di dalamnya istighfar. Antara lain:
➡ Pertama: Setelah berwudhu
Selain doa yang sudah makruf, kita juga disunnahkan untuk membaca doa yang termaktub dalam hadits berikut ini:
“ู َْู ุชََูุถَّุฃَ ََููุงَู: ุณُุจْุญَุงََูู ุงُّูููู َّ َูุจِุญَู ْุฏَِู ุฃَุดَْูุฏُ ุฃَْู ูุงَ ุฅَِูู ุฅِูุงَّ ุฃَْูุชَ ุฃَุณْุชَุบِْูุฑَُู َูุฃَุชُْูุจُ ุฅََِْููู؛ ُูุชِุจَ ِูู ุฑٍَّู ุซُู َّ ุทُุจِุนَ ุจِุทَุงุจِุนٍ ََููู ْ ُْููุณَุฑْ ุฅَِูู َْููู ِ ุงَِْูููุงู َุฉِ“.
“Barangsiapa berwudhu lalu ia mengucapkan, “Subhรขnakallรขhumma wa bihamdika asyhadu allรข ilรขha illรข Anta, astaghfiruka wa atรปbu ilaik”; niscaya akan ditulis di suatu lembaran lalu distempel dan tidak akan dihapus hingga hari kiamat”. HR. An-Nasa’i dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah dan al-Hakim. Hadits ini dinilai sahih oleh al-Albany.
➡ Kedua: Setelah shalat
ุนَْู ุซَْูุจَุงَู -ุฑَุถَِู ุงُููู ุนَُْูู- َูุงَู: َูุงَู ุฑَุณُُْูู ุงِููู ุฅِุฐَุง ุงْูุตَุฑََู ู ِْู ุตَูุงَุชِِู ุงุณْุชَุบَْูุฑَ ุซَูุงَุซًุง، ََููุงَู: “ุงُّูููู َّ ุฃَْูุชَ ุงูุณَّูุงَู ُ، َูู َِْูู ุงูุณَّูุงَู ُ، ุชَุจَุงุฑَْูุชَ َูุง ุฐَุง ุงْูุฌََูุงِู َูุงْูุฅِْูุฑَุงู ِ”، ูุงََู ุงَِْْููููุฏُ: َُْูููุชُ ِْููุฃَْูุฒَุงุนِู: ََْููู؟ َูุงَู: ุชَُُْููู:”ุฃَุณْุชَุบِْูุฑُ ุงَููู، ุฃَุณْุชَุบِْูุฑُ ุงَููู“.
Dari Tsauban radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bila selesai shalat beliau beristighfar tiga kali, lalu membaca, “Allรดhumma Antas salรขm wa minkas salรขm, tabรขrokta yรข Dzal jalรขli wal ikrรดm”. Al-Walid (salah satu perawi hadits) bertanya kepada al-Auza’i, “Bagaimanakah cara istighfarnya?”. Beliau menjawab, “Ucapkanlah astaghfirullah, astaghfirullah”. HR. Muslim.
➡ Ketiga: Setelah selesai wukuf di Arafah
✅ Allah ta’ala berfirman,
“ุซُู َّ ุฃَِููุถُูุง ู ِْู ุญَْูุซُ ุฃََูุงุถَ ุงَّููุงุณُ َูุงุณْุชَุบِْูุฑُูุง ุงََّููู ุฅَِّู ุงََّููู ุบَُููุฑٌ ุฑَุญِูู ٌ“
Artinya: “Kemudian berangkatlah kalian meninggalkan Arafah sebagaimana orang lain berangkat meninggalkannya dan beristighfarlah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. QS. Al-Baqarah (2): 199.
Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang beberapa momen khusus disunnahkan membaca istighfar. Berikut kelanjutannya:
➡ Keempat: Di waktu sahur
Ini adalah salah satu waktu yang amat dianjurkan bagi kita untuk memperbanyak bacaan istighfar. Allah ta’ala menjelaskan salah satu sifat kaum mukminin, “Di waktu sahur mereka memohon ampunan (kepada Allah)”. QS. Adz-Dzariyat (51): 18.
Waktu sahur menurut sebagian ulama adalah akhir malam menjelang waktu subuh. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa waktu sahur dimulai dari sepertiga malam terakhir hingga terbitnya fajar. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda,
“َْููุฒُِู ุฑَุจُّูุงَ -ุชَุจَุงุฑََู َูุชَุนَุงَูู- َُّูู ََْูููุฉٍ ุฅَِูู ุณَู َุงุกِ ุงูุฏَُّْููุง، ุญَِْูู َูุจَْูู ุซُُูุซُ ุงَِّْูููู ุงْูุฃَุฎِْูุฑِ، ََُُْููููู: “ู َْู َูุฏْุนُِْููู َูุฃَุณْุชَุฌِْูุจُ َُูู؟ ู َْู َูุณْุฃَُِููู َูุฃُุนْุทَُِูู؟ ู َْู َูุณْุชَุบِْูุฑُِูู َูุฃَุบِْูุฑ َُูู؟”.
“Allah tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia setiap malam saat tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, “Adakah yang berdoa pada-Ku; niscaya akan Kukabulkan? Adakah yang meminta pada-Ku; niscaya akan Kuberi? Adakah yang beristighfar pada-Ku, niscaya akan Kuampuni?”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.
➡ Kelima: Di akhir majlis
✅ Nabi shallallahu’alaihiwasallam menerangkan,
“ู َْู ุฌََูุณَ ِูู ู َุฌِْูุณٍ ََููุซُุฑَ ِِููู َูุบَุทُُู ََููุงَู َูุจَْู ุฃَْู َُูููู َ ู ِْู ู َุฌِْูุณِِู ุฐََِูู: “ุณُุจْุญَุงََูู ุงَُّูููู َّ َูุจِุญَู ْุฏَِู، ุฃَุดَْูุฏُ ุฃَْู ูุงَ ุฅََِูู ุฅِูุงَّ ุฃَْูุชَ ุฃَุณْุชَุบِْูุฑَُู َูุฃَุชُูุจُ ุฅََِْููู”؛ ุฅِูุงَّ ุบُِูุฑَ َُูู ู َุง َูุงَู ِูู ู َุฌِْูุณِِู ุฐََِูู”.
“Barang siapa duduk di suatu majlis dan di dalamnya banyak hal-hal yang tidak bermanfaat, lalu sebelum meninggalkan majlis tersebut ia membaca “Subhรขnakallรขhumma wa bihamdika, asyhadu allรข ilรขha illรข anta astaghfiruka wa atรปbu ilaik” (Maha suci Engkau ya Allah dan pujian hanya untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat pada-Mu); niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang ada di majlis tersebut”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany.
Doa ini bukan hanya disunnahkan untuk dibaca di majlis yang banyak kenegatifannya saja, namun di majlis kebajikan, seperti pengajian pun, disunnahkan untuk membacanya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,
“ู َْู َูุงَู: “ุณُุจْุญَุงَู ุงِููู َูุจِุญَู ْุฏِِู، ุณُุจْุญَุงََูู ุงَُّูููู َّ َูุจِุญَู ْุฏَِู، ุฃَุดَْูุฏُ ุฃَْู ูุงَ ุฅََِูู ุฅِูุงَّ ุฃَْูุชَ ุฃَุณْุชَุบِْูุฑَُู َูุฃَุชُูุจُ ุฅََِْููู”؛ ََููุงََููุง ِูู ู َุฌِْูุณِ ุฐِْูุฑٍ َูุงَูุชْ َูุงูุทَّุงุจِุนِ ُูุทْุจَุนُ ุนََِْููู، َูู َْู َูุงََููุง ِูู ู َุฌِْูุณِ َูุบٍْู َูุงَูุชْ ََّููุงุฑَุฉً َُูู”.
“Barang siapa mengucapkan “Subhรขnallah wa bihamdih, subhรขnakallรขhumma wa bihamdika, asyhadu allรข ilรขha illรข anta astaghfiruka wa atรปbu ilaik” (Maha suci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya. Maha suci Engkau ya Allah dan pujian hanya untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat pada-Mu), bila ia mengucapkannya di majlis dzikir niscaya kalimat tersebut akan menjadi stempel majlis tersebut. Bila ia mengucapkannya di majlis yang tak berguna; niscaya kalimat tersebut akan menghapuskan dosa-dosa”. HR. Al-Hakim dari Jubair bin Muth’im dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga al-Albany.
➡ Keenam: Di akhir hidup menjelang wafat
Dalam Madarij as-Sรขlikรฎn, Imam Ibn al-Qayyim menjelaskan, “Taubat adalah penutup hidup orang-orang yang mengenal Allah. Sebagaimana istighfar diperlukan di awal, ia juga diperlukan di akhir. Malah kebutuhan terhadap istighfar di akhir lebih tinggi dibandingkan di awal. Bahkan ia merupakan kebutuhan mendesak di akhir hidup. Perhatikan apa perintah Allah kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam di akhir-akhir hidup beliau. Lalu lihatlah bagaimana beliau di akhir hidupnya semakin memperbanyak istighfar”.
✅ Allah ta’ala berfirman,
“َูุณَุจِّุญْ ุจِุญَู ْุฏِ ุฑَุจَِّู َูุงุณْุชَุบِْูุฑُْู ุฅَُِّูู َูุงَู ุชََّูุงุจًุง“
Artinya: “Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh Dia Maha Penerima tobat”. QS. An-Nashr (110): 3.
Ayat di atas merupakan penutup surat an-Nashr. Sebuah surat yang berisikan pemberitaan mengenai kemenangan kaum muslimin atas musuh-musuhnya. Ayat terakhirnya berisi perintah untuk memperbanyak tasbih, tahmid dan istighfar. Hikmahnya antara lain: peringatan bahwa manakala datang pertolongan besar Allah, penaklukan kota Mekah dan berbondong-bondongnya umat manusia untuk masuk Islam, maka itu pertanda bahwa ajal Nabi shallallahu’alaihiwasallam telah dekat. Yang tersisa adalah memperbanyak kalimat-kalimat mulia tersebut di atas; tasbih, tahmid dan istighfar.[1]
Jadi, surat ini merupakan isyarat akan semakin dekatnya ajal beliau. Penaklukan kota Mekah terjadi di bulan Ramadhan tahun 8 H, sedangkan beliau shallallahu’alaihi wasallam wafat pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 10 H.[2]
Perintah Allah ta’ala kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam untuk memperbanyak istighfar dalam waktu itu, merupakan pertanda bahwa kehidupannya akan berakhir. Maka hendaklah beliau bersiap untuk menemui Rabbnya serta menutup umurnya dengan amalan yang paling mulia, yakni tasbih, tahmid dan istighfar.[3] Makanya setelah turunnya surat ini, Nabi shallallahu’alaihiwasallam semakin memperbanyak membaca tasbih, tahmid dan istighfar.[4]
✅ Aisyah radhiyallahu’anha bercerita, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memperbanyak membaca di ruku’ dan sujud beliau “Subhรขnakallรดhumma robbanรข wa bihamdika allohummaghfirlรฎ (Maha suci Engkau ya Allah Rabb kami dan segala pujian untuk-Mu. Ya Allah ampunilah aku)”. Beliau mengamalkan perintah al-Qur’an”. HR. Bukhari dan Muslim.
✅ Beliau juga menuturkan,
“ุณَู ِุนْุชُ ุงَّููุจَِّู ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู َูุณََّูู َ َูุฃَุตْุบَْูุชُ ุฅَِِْููู َูุจَْู ุฃَْู َูู ُْูุชَ -ََُููู ู ُุณِْูุฏٌ ุฅََِّูู ุธَْูุฑَُู- َُُْูููู: “ุงُّูููู َّ ุงุบِْูุฑْ ِูู َูุงุฑْุญَู ِْูู، َูุฃَْูุญِِْููู ุจِุงูุฑَِِّْููู ุงْูุฃَุนَْูู”.
“Aku mendengar Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan memperhatikan beliau sebelum wafatnya sambil menyandarkan pundaknya ke tubuhku, beliau mengucapkan, “Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku dan pertemukan aku dengan para nabi dan rasul di atas sana”. HR. Bukhari dan Muslim.
Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ dengan beberapa tambahan.
[1] Lihat: Tafsรฎr Juz ‘Amma (hal. 340-341).
[2] Tafsรฎr al-Jalรขlain (hal. 614).
[3] Baca: Tafsรฎr Sรปrah an-Nashr (hal. 75, 90-91) dan Tafsรฎr as-Sa’dy (hal. 866).
[4] Tafsรฎr Sรปrah an-Nashr (hal. 86)
Di nukil dari
•••••••••••••••••••••••
๐ Chanel Grup WA Al Manhaj Salafiy GMS
Fanspage:https://www.facebook.com/AlManhajSalafiy/
Telegram :http://t.me/Salafiyyah_GMS
Website:https://almanhajsalafiygms.wordpress.com
*join grup khusus wanita Grup Manhaj salaf 4️⃣*
https://chat.whatsapp.com/5vHaP7zfQHrHjTCZiYLe4R
Kunjungi websit kami
Bagi anda yang berminat membeli buku2 cara menulis arab untuk anak2 tercinta di usia dini 4,5 tahun klik link⬇️
https://www.metodeabana.com/p/arin_25.html
✅ Silakan di-share
https://www.google.com/amp/s/assunahsalafushshalih.wordpress.com/2019/03/25/12-macam-bacaan-istighfar-dan-kapan-disunnahkan-membaca-istighfar/amp/
SERIAL HADIST ARBAIN#19
๐๐ฅ๐ซSERI HADTS SHAHIH
Hadits Arbain #19: Menjaga Hak Allah dan Memahami Takdir
Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc
Kali ini adalah hadits Arbain #19, faedahnya begitu luar biasa yang dikaji adalah menjaga hak Allah, dan seputar masalah takdir.
ุงูุญَุฏِْูุซُ ุงูุชَّุงุณِุนَ ุนَุดَุฑَ
ุนَْู ุฃَุจِู ุงูุนَุจَّุงุณِ ุนَุจْุฏِ ุงِููู ุจِْู ุนَุจَّุงุณٍ ุฑَุถَِู ุงُููู ุชَุนَุงَูู ุนَُْููู َุง َูุงَู ُْููุชُ: ุฎََْูู ุงَّููุจِِّู ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู َูุณََّูู َ َْููู ุงً ََููุงَู ِูู: (( َูุง ุบُูุงَู ُ! ุฅِِّูู ุฃُุนَِّูู َُู َِููู َุงุชٍ: ุงุญَْูุธِ ุงَููู َูุญَْูุธَْู، ุงِุญَْูุธِ ุงَููู ุชَุฌِุฏُْู ุชُุฌَุงََูู، ุฅِุฐَุง ุณَุฃَْูุชَ َูุงุณْุฃَِู ุงَููู، َูุฅِุฐَุง ุงุณْุชَุนَْูุชَ َูุงุณْุชَุนِْู ุจุงِِููู، َูุงุนَْูู ْ ุฃََّู ุงูุฃُู َّุฉَ َِูู ุงุฌْุชَู َุนَุชْ ุนََูู ุฃَْู ََْูููุนَُْูู ุจِุดَْูุกٍ َูู ْ ََْูููุนَُْูู ุฅِูุงَّ ุจِุดَْูุกٍ َูุฏْ َูุชَุจَُู ุงُููู ََูู، َูุฅِِู ุงุฌْุชَู َุนُูุง ุนََูู ุฃَْู َูุถُุฑَُّْูู ุจِุดَْูุกٍ َูู ْ َูุถُุฑَُّْูู ุฅِูุงَّ ุจِุดَْูุกٍ َูุฏْ َูุชَุจَُู ุงُููู ุนَََْููู، ุฑُِูุนَุชِ ุงูุฃَْููุงَู ُ َูุฌََّูุชِ ุงูุตُّุญُُู )) ุฑََูุงُู ุงูุชِّุฑْู ِุฐِู ََููุงَู: (( ุญَุฏِْูุซٌ ุญَุณٌَู ุตَุญِْูุญٌ ))، َِููู ุฑَِูุงَูุฉِ ุบَْูุฑِ ุงูุชِّุฑْู ِุฐِِّู: (( ุงِุญَْูุธِ ุงَููู ุชَุฌِุฏُْู ุฃَู َุงู ََู، ุชَุนَุฑَّْู ุฅَِูู ุงِููู ِูู ุงูุฑَّุฎَุงุกِ َูุนْุฑَِْูู ِูู ุงูุดِّุฏَّุฉِ، َูุงุนَْูู ْ ุฃََّู ู َุง ุฃَุฎْุทَุฃََู َูู ْ َُْููู ُِููุตِْูุจََู، َูู َุง ุฃَุตَุงุจََู َูู َُْููู ُِููุฎْุทِุฆََู، َูุงุนَْูู ْ ุฃََّู ุงَّููุตْุฑَ ู َุนَ ุงูุตَّุจْุฑِ، َูุฃََّู ุงَููุฑَุฌَ ู َุนَ ุงَููุฑْุจِ، َูุฃََّู ู َุนَ ุงูุนُุณْุฑِ ُูุณْุฑุงً )).
๐Hadits Ke-19
Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Pada suatu hari aku pernah berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, ‘Wahai anak muda! Sesungguhnya aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau mau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau mau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.’” (HR. Tirmidzi, dan ia berkata bahwa hadits ini hasan shahih).
Dalam riwayat selain riwayat Tirmidzi, “Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah di saat senang, niscaya Allah mengenalmu di saat susah. Ketahuilah, bahwa apa saja yang luput darimu, maka tidak akan pernah menimpamu. Dan apa yang menimpamu, maka tidak akan pernah luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesulitan, dan bersama kesulitan itu ada kemudahan.”
[HR. Tirmidzi, no. 2516; Ahmad, 1:293; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 14:408. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam tahqiqnya terhadap Musnad Imam Ahmad menyatakan bahwa hadits ini sanadnya kuat].
๐Penjelasan Hadits
Yang dimaksud menjaga hak Allah di sini adalah menjaga batasan-batasan, hak-hak, perintah, dan larangan-larangan Allah.
Bentuk menjaga hak Allah seperti:
Menjalankan shalat, bahkan ini adalah bentuk perkara yang paling penting untuk dijaga.Menjaga bersuci, karena bersuci adalah pembuka shalat.Menjaga kepala dan perut. Bentuk menjaga kepala adalah menjaga pendengaran, penglihatan dan lisan dari berbagai keharaman. Sedangkan bentuk menjaga perut adalah menjaga apa yang ada di dalamnya yaitu menjaga hati dari perkara haram, serta menjaga perut dari dimasuki makanan dan minuman yang haram.Menjaga lisan dan kemaluan.Belajar ilmu agama sehingga bisa menjalankan ibadah dan muamalah dengan baik, serta berdakwah dengan ilmu untuk diajarkan pada yang lain.
Balasan dari menjaga hak Allah adalah akan mendapatkan penjagaan dari Allah, di antara bentuknya:
Allah akan menjaga untuk urusan dunianya, akan diberi penjagaan pada badan, anak, keluarga, dan harta.Jika ia menjaga hak Allah pada waktu muda dan kuat, Allah akan menjaganya pada waktu tua dan lemah.Keturunannya akan dijaga.Akan dijaga dari gangguan jahat.Allah akan menjaga agama dan iman, serta diselamatkan dari syubhat dan syahwat.
Kalimat hadits “Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu”, maksudnya adalah siapa yang menjaga aturan Allah dan memperhatikan hak-Nya, ia akan mendapati Allah dalam setiap keadaan, di mana Allah akan menolong, menjaga, dan memberi taufik padanya. Hal ini sebagaimana ayat,
ุฅَِّู ุงََّููู ู َุนَ ุงَّูุฐَِูู ุงุชََّْููุง َูุงَّูุฐَِูู ُูู ْ ู ُุญْุณَُِููู
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl: 128). Yang dimaksud di sini adalah ma’iyah khashshah yaitu kebersamaan yang khusus, konsekuensinya Allah beri pertolongan dan penjagaan.
Adapun bagian hadits “Kenalilah Allah di saat senang, niscaya Allah mengenalmu di saat susah”, maka ada bentuk mengenal Allah terbagi dua:
Mengenal Allah secara umum yaitu membenarkan dan beriman sebagaimana yang dilakukan umumnya orang beriman.Mengenal Allah secara khusus yaitu segala kecondongan hati hanya kepada Allah.
Adapun balasannya dengan Allah mengenal kita, ada dua macam:
Allah mengenal secara umum dengan mengilmui dan mengetahui kita secara lahir dan batin.Allah mengenal secara khusus dengan mencintai, mengabulkan doa, menyelamatkan kita kala mengalami kesulitan.
Adapun bagian hadits “Jika engkau mau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau mau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”, ini sama maknanya dengan ayat,
ุฅَِّูุงَู َูุนْุจُุฏُ َูุฅَِّูุงَู َูุณْุชَุนُِูู
“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)
Kalimat ini “Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering” menunjukkan bahwa takdir sudah dicatat seluruhnya.
Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menerangkan ada dua tingkatan seorang mukmin dalam menghadapi musibah: (1) ridha pada takdir, (2) sabar dalam menghadapi musibah. Bedanya, sabar itu menahan diri dari murka, namun tetap masih merasakan sakit; sedangkan ridha itu hatinya lapang dalam menerima takdir, dan rasa yakinnya begitu besar hingga mengalahkan rasa sakitnya. Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:488.
⛔Faedah Hadits
๐Pertama: Siapa yang menjaga batasan Allah, maka Allah akan menjaga dunia dan agamanya.
๐Kedua: Siapa saja yang tidak memperhatikan batasan dan aturan Allah, maka ia tidak mendapatkan penjagaan dari Allah, sebagaimana dalam ayat disebutkan,
َูุณُูุง ุงََّููู ََููุณَُِููู ْ
“Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan (artinya: meninggalkan) mereka.” (QS. At-Taubah: 67)
๐Ketiga: Al-jazaa’ min jinsil ‘amal, balasan itu sesuai dengan amal perbuatan. Artinya, amalan menjaga hak Allah, dibalas pula dengan penjagaan dari Allah.
๐Keempat: Hamba hendaklah mengkhususkan ibadah dan isti’anah (meminta pertolongan) hanya kepada Allah.
๐Kelima: Hadits ini mengajarkan bagaimanakah mengimani takdir.
๐Keenam: Hamba atau makhluk tidak bisa memberi manfaat dan tidak bisa mendatangkan mudarat kecuali manfaat dan mudarat tadi ditetapkan oleh Allah.
๐Ketujuh: Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi, maa sya-a Allah kaana, wa maa lam yasya’ lam yakun.
Allah Ta’ala berfirman,
َูู َุง ุชَุดَุงุกَُูู ุฅَِّูุง ุฃَْู َูุดَุงุกَ ุงَُّููู ุۚฅَِّู ุงََّููู َูุงَู ุนَِููู ًุง ุญَِููู ًุง
“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insan: 30)
๐Kedelapan: Akibat dari sabar adalah datang kemenangan.
๐Kesembilan: Di balik kesulitan ada kelapangan dan kemudahan.
Allah Ta’ala berfirman,
َูุฅَِّู ู َุนَ ุงْูุนُุณْุฑِ ُูุณْุฑًุง (5) ุฅَِّู ู َุนَ ุงْูุนُุณْุฑِ ُูุณْุฑًุง (6)
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5-6)
๐Para ulama mengatakan,
َْูู ุฌَุงุกَ ุงูุนُุณْุฑُ َูุฏَุฎََู َูุฐَุง ุงูุญُุฌْุฑَ َูุฌَุงุกَ ุงُููุณْุฑُ ุญَุชَّู َูุฏْุฎَُู ุนََِْููู َُููุฎْุฑِุฌُُู
“Seandainya kesulitan itu datang dan masuk dalam lubang ini, maka akan datang kemudahan dan ia turut masuk ke dalam lubang tersebut sampai ia mengeluarkan kesulitan tadi.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:597)
๐Kesepuluh: Hadits ini menunjukkan bagaimanakah tawadhu’ (rendah hati) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mau bergaul dengan anak muda, juga hadits ini menunjukkan sikap baik beliau pada Ibnu ‘Abbas yang masih muda.
๐Kesebelas: Yang disampaikan adalah suatu yang penting karenanya di awal hadits disebutkan kepada Ibnu ‘Abbas “Sesungguhnya aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu”.
Referensi:Fath Al-Qawi Al-Matin fi Syarh Al-Arba’in wa Tatimmah Al-Khamsin li An-Nawawi wa Ibni Rajab rahimahumallah. Cetakan kedua, Tahun 1430 H. Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamad Al-‘Abbad Al-Badr. Penerbit Dar Ibnul Qayyim dan Dar Ibnu ‘Affan.Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim.Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com
๐ Chanel Grup WA Al Manhaj Salafiy GMS
Fanspage:https://www.facebook.com/AlManhajSalafiy/
Telegram :http://t.me/Salafiyyah_GMS
Website:https://almanhajsalafiygms.wordpress.com
*join grup khusus wanita Grup Manhaj salaf 4️⃣*
https://chat.whatsapp.com/5vHaP7zfQHrHjTCZiYLe4R
Kunjungi websit kami
Bagi anda yang berminat membeli buku2 cara menulis arab untuk anak2 tercinta di usia dini 4,5 tahun klik link⬇️
https://www.metodeabana.com/p/arin_25.html
✅ Silakan di-share