Rabu, 25 November 2020

Seri Hadist Arbain#38

*๐Ÿ•‹๐Ÿ”ด๐ŸŒดSERI HADIST SHAHIH*

*Hadits Arbain #38: Menjadi Wali Allah dengan Amalan Wajib dan Sunnah*

Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Menjadi wali Allah ternyata bisa dengan amalan wajib maupun amalan sunnah. Begini penjelasannya dalam hadits Arbain #38

๐Ÿ“ŒHadits Arbain #38

ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ู‡ُุฑَูŠْุฑَุฉَ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู†ْู‡ُ، ู‚َุงู„َ: ู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ๏ทบ : «ุฅِู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ุชَุนَุงู„َู‰ ู‚َุงู„َ: ู…َู†ْ ุนَุงุฏَู‰ ู„ِูŠ ูˆَู„ِูŠّุงً ูَู‚َุฏْ ุขุฐَู†ْุชُู‡ُ ุจِุงู„ุญَุฑْุจِ. ูˆَู…َุง ุชَู‚َุฑَّุจَ ุฅِู„َูŠَّ ุนَุจْุฏِูŠْ ุจِุดَูŠْุกٍ ุฃَุญَุจَّ ุฅِู„َูŠَّ ู…ِู…َّุง ุงูْุชَุฑَุถْุชُ ุนَู„َูŠْู‡ِ. ูˆَู…َุง ูŠَุฒَุงู„ُ ุนَุจْุฏِูŠْ ูŠَุชَู‚َุฑَّุจُ ุฅِู„َูŠَّ ุจِุงู„ู†َّูˆَุงูِู„ِ ุญَุชَّู‰ ุฃُุญِุจَّู‡ُ، ูَุฅِุฐَุง ุฃَุญْุจَุจْุชُู‡ُ ูƒُู†ْุชُ ุณَู…ْุนَู‡ُ ุงู„َّุฐِูŠ ูŠَุณْู…َุนُ ุจِู‡ِ، ูˆَุจَุตَุฑَู‡ُ ุงู„َّุฐِูŠ ูŠُุจْุตِุฑُ ุจِู‡ِ، ูˆَูŠَุฏَู‡ُ ุงู„َّุชِูŠ ูŠَุจْุทِุดُ ุจِู‡َุง، ูˆَุฑِุฌْู„َู‡ُ ุงู„َّุชِูŠ ูŠَู…ْุดِูŠ ุจِู‡َุง. ูˆَู„َุฆِู†ْ ุณَุฃَู„َู†ِูŠ ู„َุฃُุนْุทِูŠَู†َّู‡ُ، ูˆَู„َุฆِู†ْ ุงุณْุชَุนَุงุฐَู†ِูŠ ู„َุฃُุนِูŠْุฐَู†َّู‡ُ» ุฑَูˆَุงู‡ُ ุงู„ุจُุฎَุงุฑِูŠُّ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘slaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa yang menyakiti waliku, maka Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku cintai selain apa yang Aku wajibkan baginya. Hamba-Ku senantiasa mendekat diri kepada-Ku dengan amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepadaku, pasti aku beri. Jika dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti aku lindungi.’” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6502]

๐Ÿ“ŒApa itu wali Allah?

Secara bahasa wali berarti “al-qorib”, yaitu dekat.

Dalam ayat disebutkan,

ุฃَู„َุง ุฅِู†َّ ุฃَูˆْู„ِูŠَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ِ ู„َุง ุฎَูˆْูٌ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ูˆَู„َุง ู‡ُู…ْ ูŠَุญْุฒَู†ُูˆู†َ (62) ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขَู…َู†ُูˆุง ูˆَูƒَุงู†ُูˆุง ูŠَุชَّู‚ُูˆู†َ (63)

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 62-63).

Dari ayat di atas, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata tentang wali Allah,

ูَุฃَูˆْู„ِูŠَุงุกُ ุงู„ู„ู‡ِ ู‡ُู…ُ ุงู„ู…ُุคْู…ِู†ُูˆْู†َ ุงู„ู…ُุชَّู‚ُูˆْู†َ

“Wali Allah adalah mereka yang beriman dan bertakwa” (Al-Furqan bayna Awliya’ Ar-Rahman wa Awliya’ Asy-Syaithan, hlm. 25)

๐Ÿ“ŒSebagian ulama lainnya menyebutkan bahwa wali Allah adalah,

ูƒُู„ُّ ู…ُุคْู…ِู†ٍ ุชَู‚ِูŠٍّ ู„َูŠْุณَ ุจِู†َุจِูŠٍّ

“Setiap orang beriman dan bertakwa selain dari nabi.” (Disebutkan dalam Minhaj As-Sunnah, 7:28 dan Fatawa Muhimmah li ‘Umum Al-Ummah karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, hlm. 84)

๐Ÿ“ŒAl-wali secara bahasa berarti al-qarib, artinya dekat. Sebagaimana penyebutan dalam hadits berikut ini,

ุฃَู„ْุญِู‚ُูˆุง ุงู„ْูَุฑَุงุฆِุถَ ุจِุฃَู‡ْู„ِู‡َุง ูَู…َุง ุจَู‚ِูŠَ ูَู‡ُูˆَ ِู„ุฃَูˆْู„َู‰ ุฑَุฌُู„ٍ ุฐَูƒَุฑٍ.

“Berikan bagian warisan kepada ahli warisnya, selebihnya adalah milik laki-laki yang paling dekat dengan mayit.” (HR. Bukhari, no. 6746 dan Muslim, no. 1615)

๐Ÿ“ŒSyaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Yang benar-benar termasuk wali Allah adalah orang yang beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beriman dengan ajaran yang beliau bawa, serta mengikuti ajaran tersebut secara lahir dan batin. Barangsiapa yang mengaku mencintai Allah dan wali-Nya, tetapi tidak mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah termasuk wali Allah. Bahkan jika menyelisihi Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia termasuk musuh Allah dan wali setan. Allah Ta’ala berfirman,

ู‚ُู„ْ ุฅِู†ْ ูƒُู†ْุชُู…ْ ุชُุญِุจُّูˆู†َ ุงู„ู„َّู‡َ ูَุงุชَّุจِุนُูˆู†ِูŠ ูŠُุญْุจِุจْูƒُู…ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ูˆَูŠَุบْูِุฑْ ู„َูƒُู…ْ ุฐُู†ُูˆุจَูƒُู…ْ ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ุบَูُูˆุฑٌ ุฑَุญِูŠู…ٌ

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’ Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran : 31)

๐Ÿ“ŒAl-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

ุงِุฏَّุนَู‰ ู‚َูˆْู…ٌ ุฃَู†َّู‡ُู…ْ ูŠُุญِุจُّูˆْู†َ ุงู„ู„ู‡َ ูَุฃَู†ْุฒَู„َ ุงู„ู„ู‡ُ ู‡َุฐِู‡ِ ุงู„ุขูŠَุฉَ ู…ِุญْู†َุฉً ู„َู‡ُู…ْ

“Suatu kaum mengklaim mencintai Allah, lantas Allah turunkan ayat ini sebagai ujian bagi mereka”. Allah sungguh telah menjelaskan dalam ayat tersebut, barangsiapa yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah akan mencintainya. Namun, siapa yang mengklaim mencintai Allah, tetapi tidak mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia tidaklah termasuk wali Allah. Banyak orang menyangka dirinya atau selainnya sebagai wali Allah, tetapi kenyataannya mereka bukan wali-Nya. Bisa dilihat, Yahudi dan Nashrani mengklaim bahwa mereka adalah wali Allah, yang masuk surga hanyalah dari golongan mereka saja, mengaku bahwa mereka adalah anak Allah dan kekasih-Nya, ternyata hanya klaim semata.” (Al-Furqan Bayna Awliya’ Ar-Rahman wa Awliya’ Asy-Syaithan, hlm. 30)

๐Ÿ“ŒWali Allah yang paling utama

Wali Allah yang paling utama adalah para nabi. Lantas dari nabi dan rasul yang paling utama adalah ‘ulul ‘azmi. Disebut ulul ‘azmi karena mereka itu paling sabar dan memikul beban berat. ‘Azmi itu artinya sabar sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh dalam syarh beliau terhadap kitab Al-Furqan (hlm. 36). Ulul ‘azmi ini adalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad shalawaatullahu ‘alaihim ajma’in. Ulul ‘azmi yang paling utama adalah nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, penutup para nabi, imamnya orang-orang bertakwa, sayyid anak adam, dan pemimpin para nabi. Lihat bahasan ini dalam Al-Furqan, hlm. 28 dan 29.

๐Ÿ“ŒTingkatan Wali Allah

๐Ÿ“ŒPatut dipahami, wali Allah itu ada dua macam:

1.As-saabiquun al-muqorrobun (wali Allah terdepan);
2.Al-abror ash-habul yamin (wali Allah pertengahan).

As-saabiquun al-muqorrobun adalah hamba Allah yang selalu mendekatkan diri pada Allah dengan amalan sunnah, di samping melakukan yang wajib, serta dia meninggalkan yang haram sekaligus yang makruh.

Al-abror ash-habul yamin adalah hamba Allah yang hanya mendekatkan diri pada Allah dengan amalan yang wajib dan meninggalkan yang haram, ia tidak membebani dirinya dengan amalan sunnah dan tidak menahan diri dari berlebihan dalam yang mubah.

๐Ÿ“ŒMereka inilah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

ุฅِุฐَุง ูˆَู‚َุนَุชِ ุงู„ْูˆَุงู‚ِุนَุฉُ (1) ู„َูŠْุณَ ู„ِูˆَู‚ْุนَุชِู‡َุง ูƒَุงุฐِุจَุฉٌ (2) ุฎَุงูِุถَุฉٌ ุฑَุงูِุนَุฉٌ (3) ุฅِุฐَุง ุฑُุฌَّุชِ ุงู„ْุฃَุฑْุถُ ุฑَุฌًّุง (4) ูˆَุจُุณَّุชِ ุงู„ْุฌِุจَุงู„ُ ุจَุณًّุง (5) ูَูƒَุงู†َุชْ ู‡َุจَุงุกً ู…ُู†ْุจَุซًّุง (6) ูˆَูƒُู†ْุชُู…ْ ุฃَุฒْูˆَุงุฌًุง ุซَู„َุงุซَุฉً (7) ูَุฃَุตْุญَุงุจُ ุงู„ْู…َูŠْู…َู†َุฉِ ู…َุง ุฃَุตْุญَุงุจُ ุงู„ْู…َูŠْู…َู†َุฉِ (8) ูˆَุฃَุตْุญَุงุจُ ุงู„ْู…َุดْุฃَู…َุฉِ ู…َุง ุฃَุตْุญَุงุจُ ุงู„ْู…َุดْุฃَู…َุฉِ (9) ูˆَุงู„ุณَّุงุจِู‚ُูˆู†َ ุงู„ุณَّุงุจِู‚ُูˆู†َ (10) ุฃُูˆู„َุฆِูƒَ ุงู„ْู…ُู‚َุฑَّุจُูˆู†َ (11) ูِูŠ ุฌَู†َّุงุชِ ุงู„ู†َّุนِูŠู…ِ (12) ุซُู„َّุฉٌ ู…ِู†َ ุงู„ْุฃَูˆَّู„ِูŠู†َ (13) ูˆَู‚َู„ِูŠู„ٌ ู…ِู†َ ุงู„ْุขَุฎِุฑِูŠู†َ (14)

“Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan, dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” (QS. Al-Waqi’ah: 1-14).

Penyebutan dua macam wali ini juga ada dalam hadits qudsi yang dikaji kali ini. Lihat Al-Furqan, hlm. 47 dan 51.

๐Ÿ“ŒSifat wali Allah As-Saabiquun Al-Muqorrobun (Wali Allah Terdepan)

Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Mereka itu mendekatkan diri kepada Allah dengan menjadikan amalan mubah (yang hukumnya boleh) menjadi suatu ketaatan, mereka menjadikan amalan tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga amalan mereka semuanya bernilai ibadah.” Lihat Al-Furqan, hlm. 52.

๐Ÿ“ŒTingkatan Makrifat Menurut Sufi

Tentang firman Allah,

ูˆَุงุนْุจُุฏْ ุฑَุจَّูƒَ ุญَุชَّู‰ ูŠَุฃْุชِูŠَูƒَ ุงู„ْูŠَู‚ِูŠู†ُ

“Dan beribadahlah pada Allah sampai datang kepada kalian yakin (ajal atau kematian).” (QS. Al-Hijr: 99).

Ibnu Katsir rahimahullah mengkritisi pemahaman kaum sufi mengenai ayat ini, “Beribadahlah sampai yakin”, yaitu beribadahlah sampai pada tingkatan makrifat. Ketika sudah sampai tingkatan makrifat, maka tidak ada lagi beban syariat. Tidak lagi wajib shalat dan ibadah lainnya. Ibnu Katsir menyatakan bahwa keyakinan semacam itu adalah kufur, sesat, dan jahil. Karena para Nabi ‘alaihimush shalaatu was salaam, begitu pula para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling mengenal Allah. Mereka tahu cara menunaikan kewajiban pada Allah. Mereka juga tahu bagaimanakah sifat Allah yang mulia. Mereka tahu bagaimanakah mengagungkan Allah dengan benar.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4:666)

Walau mereka sudah sampai tingkatan makrifat (mengenal Allah seperti itu, pen.), mereka ternyata paling rajin dan paling banyak ibadahnya pada Allah Ta’ala. Mereka terus beribadah pada Allah hingga mereka meninggalkan dunia. Jadi yang benar, makna al-yaqin di sini adalah al-maut (kematian) sebagaimana dikemukakan sebelumnya.”

๐Ÿ“ŒMukjizat, Karamah, dan Ilmu Magis

Ada empat hal yang mesti dibedakan yaitu mukjizat, karamah, ilmu magis (black magic), dan kejadian luar biasa pada para pendusta. Keempat hal ini adalah kejadian luar biasa di luar kemampuan manusia.

๐Ÿ“ŒPertama, mukjizat

Mukjizat (aayatun nabi) adalah perkara di luar kebiasaan yang Allah tampakkan pada nabi untuk mengokohkan dan membuktikan kebenaran mereka sebagai seorang nabi. Contoh mukjizat adalah pada Nabi Isa. Nabi Isa menghidupkan yang mati, bahkan mengeluarkannya dari kubur setelah dimakamkan. Sebagaimana disebutkan dalam ayat,

ุฅِุฐْ ู‚َุงู„َ ุงู„ู„َّู‡ُ ูŠَุง ุนِูŠุณَู‰ ุงุจْู†َ ู…َุฑْูŠَู…َ ุงุฐْูƒُุฑْ ู†ِุนْู…َุชِูŠ ุนَู„َูŠْูƒَ ูˆَุนَู„َู‰ٰ ูˆَุงู„ِุฏَุชِูƒَ ุฅِุฐْ ุฃَูŠَّุฏْุชُูƒَ ุจِุฑُูˆุญِ ุงู„ْู‚ُุฏُุณِ ุชُูƒَู„ِّู…ُ ุงู„ู†َّุงุณَ ูِูŠ ุงู„ْู…َู‡ْุฏِ ูˆَูƒَู‡ْู„ًุง ۖ ูˆَุฅِุฐْ ุนَู„َّู…ْุชُูƒَ ุงู„ْูƒِุชَุงุจَ ูˆَุงู„ْุญِูƒْู…َุฉَ ูˆَุงู„ุชَّูˆْุฑَุงุฉَ ูˆَุงู„ْุฅِู†ْุฌِูŠู„َ ۖ ูˆَุฅِุฐْ ุชَุฎْู„ُู‚ُ ู…ِู†َ ุงู„ุทِّูŠู†ِ ูƒَู‡َูŠْุฆَุฉِ ุงู„ุทَّูŠْุฑِ ุจِุฅِุฐْู†ِูŠ ูَุชَู†ْูُุฎُ ูِูŠู‡َุง ูَุชَูƒُูˆู†ُ ุทَูŠْุฑًุง ุจِุฅِุฐْู†ِูŠ ۖ ูˆَุชُุจْุฑِุฆُ ุงู„ْุฃَูƒْู…َู‡َ ูˆَุงู„ْุฃَุจْุฑَุตَ ุจِุฅِุฐْู†ِูŠ ۖ ูˆَุฅِุฐْ ุชُุฎْุฑِุฌُ ุงู„ْู…َูˆْุชَู‰ٰ ุจِุฅِุฐْู†ِูŠ ۖ ูˆَุฅِุฐْ ูƒَูَูْุชُ ุจَู†ِูŠ ุฅِุณْุฑَุงุฆِูŠู„َ ุนَู†ْูƒَ ุฅِุฐْ ุฌِุฆْุชَู‡ُู…ْ ุจِุงู„ْุจَูŠِّู†َุงุชِ ูَู‚َุงู„َ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ูƒَูَุฑُูˆุง ู…ِู†ْู‡ُู…ْ ุฅِู†ْ ู‡َٰุฐَุง ุฅِู„َّุง ุณِุญْุฑٌ ู…ُุจِูŠู†ٌ

“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata”.” (QS. Al-Maidah: 110)

๐Ÿ“ŒKedua, karamah

Karamah adalah perkara luar biasa, tetapi bukan dari para nabi, yakni dari pengikut para nabi atau dari kalangan wali Allah. Contohnya adalah pada Maryam yang menggoyangkan batang kurma. Dalam ayat disebutkan,

ูˆَู‡ُุฒِّูŠ ุฅِู„َูŠْูƒِ ุจِุฌِุฐْุนِ ุงู„ู†َّุฎْู„َุฉِ ุชُุณَุงู‚ِุทْ ุนَู„َูŠْูƒِ ุฑُุทَุจًุง ุฌَู†ِูŠًّุง

“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 25). Buah kurma yang masak itu tidak hancur. Ini namanya karamah. Begitu juga Maryam bisa hamil (tanpa suami) hingga melahirkan adalah suatu karamah. Dalam ayat disebutkan,

ูˆَุงู„َّุชِูŠ ุฃَุญْุตَู†َุชْ ูَุฑْุฌَู‡َุง ูَู†َูَุฎْู†َุง ูِูŠู‡َุง ู…ِู†ْ ุฑُูˆุญِู†َุง ูˆَุฌَุนَู„ْู†َุงู‡َุง ูˆَุงุจْู†َู‡َุง ุขูŠَุฉً ู„ِู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ

“Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 91)

๐Ÿ“ŒKetiga, ilmu magis (ilmu hitam)

Ilmu magis (sya’wadzah) adalah sesuatu yang Allah tampakkan pada orang yang mengabdi pada jin. Ini sebagai bentuk ujian bagi dirinya dan orang lain, yang membuat tukang sihir itu semakin sesat. Ilmunya datang dari setan, sehingga yang memilikinya tidak disebut wali Allah, apalagi seorang nabi.

๐Ÿ“ŒKeempat, kejadian luar biasa pada para pendusta

Kejadian ini untuk membuat orang yang memilikinya semakin hina dan menunjukkan kedustaannya. Ini seperti yang ada pada Musailamah Al-Kadzdzab. Ia mengaku sebagai nabi di akhir-akhir hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan punya banyak pengikut. Suatu hari ada petani yang mendatangi Musailamah, mereka mengadukan padanya bahwa sumur mereka kering, airnya hanya tersisa sedikit sekali. Mereka meminta kepada Musailamah supaya mendatangi sumur tersebut lantas ia meludah ke dalam sumur, seakan-akan ia mengembalikan air. Ia pun pergi, mereka lantas memberikan pada Musailamah air, ia pun berkumur-kumur dengan air tersebut kemudian ia memuntahkannya ke dalam sumur. Akhirnya di sumur itu terdapat air. Ketika ia meludah lagi, air tersebut jadi kering lagi dan tidak tersisa sedikit pun.

๐Ÿ“ŒKaramah wali itu asalnya dari mana?

Ibnu Taimiyah dalam Al-Furqan (hlm. 158) menyatakan bahwa karamah wali Allah diperoleh dari keberkahan karena mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, secara hakiki itu masuk dalam mukjizat yang ada para Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di halaman sebelumnya (hlm. 157) disebutkan bahwa wali Allah yang bertakwa adalah yang mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mengerjakan setiap perintah beliau dan meninggalkan apa yang beliau larang.

๐Ÿ“ŒFaedah hadits

1.Memusuhi wali Allah termasuk dosa besar.
2.Wali Allah itu ada dan tidak bisa diingkari.
3.Adanya peperangan dari dan terhadap Allah Ta’ala.
4.Hadits ini jadi dalil keutamaan wali Allah.
5.Adanya karamah wali, karena siapa saja yang memusuhi wali Allah, Allah mengumumkan perang terhadapnya.
6.Allah memiliki sifat cinta, dan cinta Allah itu bertingkat-tingkat.
7.Amal saleh merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.
8.Perintah Allah berupa amalan wajib dan amalan sunnah.
9.Amalan itu bertingkat-tingkat.
10.Yang Allah cintai adalah amalan wajib, kemudian amalan sunnah.
11.Yang mesti didahulukan adalah amalan wajib, kemudian amalan sunnah, inilah asalnya.
12.Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa semua bentuk maksiat berarti menyatakan perang kepada Allah ‘azza wa jalla.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:335)
13.Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Kewajiban badan yang paling agung adalah menunaikan shalat.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:336).
14.Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Amalan sunnah yang paling mendekatkan diri kepada Allah adalah memperbanyak membaca, mendengarkan, merenungkan, dan memahami Al-Qur’an.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:342).
15.Manfaat amalan sunnah:
16.mendapatkan cinta Allah
17.mendapatkan ma’iyatullah (pertolongan Allah pada pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki)
18.doanya mudah dikabulkan.

๐Ÿ“ŒKaedah dari hadits

1.Amalan wajib lebih didahulukan dari amalan tawaabi’ (amalan sunnah).
2.Cinta Allah itu bertingkat-tingkat.

๐Ÿ“ŒReferensi:
1.Al-Furqan bayna Awliya’ Ar-Rahman wa Awliya’ Asy-Syaithan. Cetakan kedua, Tahun 1424 H. Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Taqiyuddin Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdus Salam (Ibnu Taimiyyah). Penerbit Maktabah Ar-Rusyd.
2.Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kedua.
3.Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
4.Khulashah Al-Fawaid wa Al-Qawa’id min 5.Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Syaikh ‘Abdullah Al-Farih.
6.Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.
7.Syarh Kitab Al-Furqan bayna Awliya’ Ar-Rahman wa Awliya’ Asy-Syaithan. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh. Penerbit Maktabah Darul Hijaz.Syarh Riyadh Ash–Shalihin. Cetakan kedua, Tahun 1427 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan li An-Nasyr.
8.Tafsir Al–Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

https://rumaysho.com/24997-hadits-arbain-38-menjadi-wali-allah-dengan-amalan-wajib-dan-sunnah.html

๐Ÿ”€ Chanel Grup WA Al Manhaj Salafiy GMS

Fanspage:https://www.facebook.com/AlManhajSalafiy/
Telegram :http://t.me/Salafiyyah_GMS
Website:https://almanhajsalafiygms.wordpress.com
Website:https://almanhajsalafiy.blogspot.com/?m=1
*join grup khusus wanita Grup Manhaj salaf 5️⃣*
https://chat.whatsapp.com/KXGiW1ilW6UJhLVAeymQKh

✅ Silakan di-share
     

Selasa, 24 November 2020

Seri Hadist Arbain#37

*๐Ÿ•‹๐Ÿ”ด๐ŸŒดLANJUTAN SERI HADIST ARBAIN

*Hadits Arbain #37: Berniat Baik dan Jelek, Namun Tidak Terlaksana*

Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Ada yang berniat baik, namun tidak kesampaian, Ada yang berniat jelek, juga sama tidak terwujud. Apakah seperti ini mendapatkan pahala?

๐Ÿ“ŒHadits Al-Arbain An-Nawawiyah #37

ุนَู†ِ ุงุจْู†ِ ุนَุจَّุงุณٍ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู†ْู‡ُู…َุง، ุนَู†ِ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ๏ทบ -ูِูŠْู…َุง ูŠَุฑْูˆِูŠ ุนَู†ْ ุฑَุจِّู‡ِ ุชَุจَุงุฑَูƒَ ูˆَุชَุนَุงู„َู‰-، ู‚َุงู„َ: «ุฅِู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ูƒَุชَุจَ ุงู„ุญَุณَู†َุงุชِ ูˆَุงู„ุณَّูŠุฆَุงุชِ، ุซُู…َّ ุจَูŠَّู†َ ุฐَู„ِูƒَ: ูَู…َู†ْ ู‡َู…َّ ุจِุญَุณَู†َุฉٍ ูَู„َู…ْ ูŠَุนْู…َู„ْู‡َุง ูƒَุชَุจَู‡َุง ุงู„ู„ู‡ُ ุนِู†ْุฏَู‡ُ ุญَุณَู†َุฉً ูƒَุงู…ِู„َุฉً، ูˆَุฅِู†ْ ู‡َู…َّ ุจِู‡َุง ูَุนَู…ِู„َู‡َุง ูƒَุชَุจَู‡َุง ุงู„ู„ู‡ُ ุนِู†ْุฏَู‡ُ ุนَุดْุฑَ ุญَุณَู†َุงุชٍ ุฅِู„َู‰ ุณَุจْุนِู…ِุงุฆَุฉِ ุถِุนْูٍ ุฅِู„َู‰ ุฃَุถْุนَุงูٍ ูƒَุซِูŠْุฑَุฉٍ.

ูˆَุฅِู†ْ ู‡َู…َّ ุจِุณَูŠِّุฆَุฉٍ ูَู„َู…ْ ูŠَุนْู…َู„ْู‡َุง ูƒَุชَุจَู‡َุง ุงู„ู„ู‡ُ ุนِู†ْุฏَู‡ُ ุญَุณَู†َุฉً ูƒَุงู…ِู„َุฉً، ูˆَุฅِู†ْ ู‡َู…َّ ุจِู‡َุง ูَุนَู…ِู„َู‡َุง ูƒَุชَุจَู‡َุง ุงู„ู„ู‡ُ ุณَูŠِّุฆَุฉً ูˆَุงุญِุฏَุฉً» ุฑَูˆَุงู‡ُ ุงู„ุจُุฎَุงุฑِูŠُّ ูˆَู…ُุณْู„ِู…ٌ ูِูŠ ุตَุญِูŠْุญَูŠْู‡ِู…َุง ุจِู‡َุฐِู‡ِ ุงู„ุญُุฑُูˆْูِ.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Tabaraka wa Ta’ala. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa yang berniat melakukan kebaikan lalu tidak mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna, dan jika dia berniat mengerjakan kebaikan lalu mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus lipat hingga perlipatan yang banyak. Jika dia berniat melakukan keburukan lalu tidak jadi mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna, dan jika dia berniat melakukan keburukan lalu mengerjakannya, maka Allah menulis itu sebagai satu keburukan.” (HR. Bukhari, no. 6491 dan Muslim, no. 131 di kitab sahih keduanya dengan lafaz ini).

๐Ÿ“ŒKeterangan hadits:

Hamma: berniat (bertekad)

Ingatlah, pembicaraan hati tidaklah dicatat dan tidaklah dikenakan hukuman. Sehingga pembicaraan hati tidaklah termasuk hamma. Yang dimaksud dengan hamma adalah bertekad untuk mengerjakan, akan tetapi datang kemalasan, lantas ia tidak melakukan, seperti ini dicatat kebaikan yang sempurna.

๐Ÿ“ŒBagaimana bisa dapat balasan padahal tidak beramal?

Ia diberi balasan karena azam disertai niat yang jujur, maka ia dicatat mendapatkan kebaikan yang sempurna.

๐Ÿ“ŒOrang yang punya hamm dalam kebaikan lantas tidak dilakukan ada beberapa bentuk:

Melakukan sebab, namun tidak mendapatinya. Orang seperti ini mendapatkan kebaikan yang sempurna.Sudah punya hamm dan azam, namun ditinggalkan karena ada kebaikan yang lebih afdal. Orang seperti ini akan mendapatkan pahala kebaikan yang lebih tinggi (lebih sempurna). Sedangkan untuk amalan yang ditinggalkan (yang lebih rendah) dicatat mendapatkan pahala dari hamm.Jika meninggalkan amalan karena kemalasan. Misalnya, sudah berniat mau mengerjakan shalat sunnah Dhuha. Lantas ada teman yang mengajak untuk jalan. Ia diberi ganjaran sebatas niatannya saja, tetapi tidak diberi balasan untuk perbuatan karena tidak dilakukan tanpa ada uzur.

๐Ÿ“ŒOrang yang punya hamm dalam kejelekan itu ada dua bentuk:

Berkeinginan melakukan kejelekan, ia sudah bertekad dalam hati (bukan sekadar pembicaraan hati), kemudian ia menariknya, ia meninggalkan kejelekan tersebut karena Allah. Inilah orang yang mendapatkan ganjaran. Ia dicatat mendapatkan kebaikan sempurna. Sebabnya, ia meninggalkan kejelekan tersebut karena Allah dan tidak sempat melakukannya yang bisa membuatnya tercatat melakukan kejelekan.Berkeinginan melakukan kejelekan, sudah bertekad (berazam), akan tetapi tidak mampu melakukannya dan tidak berusaha melakukan berbagai sebab. Hal ini seperti seseorang yang berkeinginan untuk kaya lantas ingin bermaksiat dengan hartanya, namun sayangnya ia tidak dianugerahi harta. Ia dicatat mendapatkan dosa dari sisi niat.

๐Ÿ“ŒDari Abu Kabsyah Al-Anmari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุฅِู†َّู…َุง ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ู„ِุฃَุฑْุจَุนَุฉِ ู†َูَุฑٍ، ุนَุจْุฏٍ ุฑَุฒَู‚َู‡ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ู…َุงู„ًุง ูˆَุนِู„ْู…ًุง ูَู‡ُูˆَ ูŠَุชَّู‚ِูŠ ูِูŠู‡ِ ุฑَุจَّู‡ُ، ูˆَูŠَุตِู„ُ ูِูŠู‡ِ ุฑَุญِู…َู‡ُ، ูˆَูŠَุนْู„َู…ُ ู„ِู„َّู‡ِ ูِูŠู‡ِ ุญَู‚ًّุง، ูَู‡َุฐَุง ุจِุฃَูْุถَู„ِ ุงู„ู…َู†َุงุฒِู„ِ، ูˆَุนَุจْุฏٍ ุฑَุฒَู‚َู‡ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนِู„ْู…ًุง ูˆَู„َู…ْ ูŠَุฑْุฒُู‚ْู‡ُ ู…َุงู„ًุง ูَู‡ُูˆَ ุตَุงุฏِู‚ُ ุงู„ู†ِّูŠَّุฉِ ูŠَู‚ُูˆู„ُ: ู„َูˆْ ุฃَู†َّ ู„ِูŠ ู…َุงู„ًุง ู„َุนَู…ِู„ْุชُ ุจِุนَู…َู„ِ ูُู„َุงู†ٍ ูَู‡ُูˆَ ุจِู†ِูŠَّุชِู‡ِ ูَุฃَุฌْุฑُู‡ُู…َุง ุณَูˆَุงุกٌ، ูˆَุนَุจْุฏٍ ุฑَุฒَู‚َู‡ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ู…َุงู„ًุง ูˆَู„َู…ْ ูŠَุฑْุฒُู‚ْู‡ُ ุนِู„ْู…ًุง، ูَู‡ُูˆَ ูŠَุฎْุจِุทُ ูِูŠ ู…َุงู„ِู‡ِ ุจِุบَูŠْุฑِ ุนِู„ْู…ٍ ู„َุง ูŠَุชَّู‚ِูŠ ูِูŠู‡ِ ุฑَุจَّู‡ُ، ูˆَู„َุง ูŠَุตِู„ُ ูِูŠู‡ِ ุฑَุญِู…َู‡ُ، ูˆَู„َุง ูŠَุนْู„َู…ُ ู„ِู„َّู‡ِ ูِูŠู‡ِ ุญَู‚ًّุง، ูَู‡َุฐَุง ุจِุฃَุฎْุจَุซِ ุงู„ู…َู†َุงุฒِู„ِ، ูˆَุนَุจْุฏٍ ู„َู…ْ ูŠَุฑْุฒُู‚ْู‡ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ู…َุงู„ًุง ูˆَู„َุง ุนِู„ْู…ًุง ูَู‡ُูˆَ ูŠَู‚ُูˆู„ُ: ู„َูˆْ ุฃَู†َّ ู„ِูŠ ู…َุงู„ًุง ู„َุนَู…ِู„ْุชُ ูِูŠู‡ِ ุจِุนَู…َู„ِ ูُู„َุงู†ٍ ูَู‡ُูˆَ ุจِู†ِูŠَّุชِู‡ِ ูَูˆِุฒْุฑُู‡ُู…َุง ุณَูˆَุงุกٌ

๐Ÿ“Œ“Dunia itu milik empat golongan, yaitu:

(1) Seseorang yang Allah beri ilmu dan harta lalu dia bertakwa kepada Allah, menyambung silaturahim (hubungan dengan kerabat), dan mengetahui hak Allah pada harta tersebut. Orang ini yang paling utama kedudukannya di sisi Allah.

(2)  Seseorang yang Allah beri ilmu tetapi tidak diberi harta, lalu dia berkata, ‘Andai aku punya harta, aku akan melakukan seperti amalan si polan.’ Karena niat baiknya itu, dia dan orang pertama sama dalam pahala.

(3) Seseorang yang Allah beri harta tetapi tidak diberi ilmu, lalu dia menghabiskan harta tersebut tanpa bertakwa kepada Allah, tidak menyambung silaturahim, dan tidak tahu hak Allah pada harta itu. Orang ini kedudukannya paling buruk di sisi Allah.

(4) Seseorang yang tidak diberi Allah harta dan ilmu, lalu berkata, ‘Andai aku punya harta, aku akan melakukan seperti amalan si polan.’ Karena niat buruknya itu, keduanya sama dalam dosa.’” (HR. Tirmidzi, no. 2325 dan Ahmad, 4:231. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Berkeinginan melakukan kejelekan, dan berusaha untuk menggapainya, tetapi tidak mampu. Orang seperti ini mendapatkan dosa yang sempurna.

Abu Bakrah Nufa’i bin Harits Ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุฅِุฐَุง ุงู„ْุชَู‚َู‰ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…َุงู†ِ ุจِุณَูŠْูَูŠْู‡ِู…َุง ูَุงู„ْู‚َุงุชِู„ُ ูˆَุงู„ْู…َู‚ْุชُูˆู„ُ ูِู‰ ุงู„ู†َّุงุฑِ » . ูَู‚ُู„ْุชُ ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ู‡َุฐَุง ุงู„ْู‚َุงุชِู„ُ ูَู…َุง ุจَุงู„ُ ุงู„ْู…َู‚ْุชُูˆู„ِ ู‚َุงู„َ « ุฅِู†َّู‡ُ ูƒَุงู†َ ุญَุฑِูŠุตًุง ุนَู„َู‰ ู‚َุชْู„ِ ุตَุงุญِุจِู‡ِ

“Apabila dua orang Islam bertengkar dengan pedangnya, maka orang yang membunuh dan yang terbunuh sama-sama berada di dalam neraka.” Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, sudah wajar yang membunuh masuk neraka, lantas bagaimana gerangan yang terbunuh?” Beliau menjawab, “Karena ia juga sangat berambisi untuk membunuh sahabatnya.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 31 dan Muslim, no. 2888).

Bertekad melakukan suatu kejelekan, kemudian menjauhkan diri darinya, bukan karena Allah, bukan karena tidak mampu,maka seperti itu tidak diberi pahala karena ia tidak meninggalkan maksiat karena Allah dan ia tidak dihukum karena tidak melakukan hal-hal yang mewajibkan mendapatkan hukuman.

๐Ÿ“ŒBerarti hadits,

ูˆَุฅِู†ْ ู‡َู…َّ ุจِุณَูŠِّุฆَุฉٍ ูَู„َู…ْ ูŠَุนْู…َู„ْู‡َุง ูƒَุชَุจَู‡َุง ุงู„ู„ู‡ُ ุนِู†ْุฏَู‡ُ ุญَุณَู†َุฉً ูƒَุงู…ِู„َุฉً

“Jika dia berniat melakukan keburukan lalu tidak jadi mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna”, maksudnya jika meninggalkan kejelekan karena Allah.

๐Ÿ“ŒFaedah hadits:

Kebaikan itu ada empat tingkatan:

– berniat melakukan kebaikan dan mengamalkannya, akan mendapatkan satu kebaikan sempurna hingga sepuluh kebaikan hingga 700 kali lipat.

– berniat melakukan kebaikan dan tidak mengamalkannya karena tidak mampu (‘ajez), maka dapat pahala satu kebaikan yang sempurna.

– ada yang sudah punya kebiasaan pada kebaikan lalu ia meninggalkannya karena ada uzur (karena sakit atau safar), ia tetap dicatat pahala yang sempurna.

– jika ia berniat (bertekad) namun tidak mengamalkannya dan diakhirkan (diundur), bukan karena ‘ajez (tidak mampu) dan bukan karena uzur, Allah catat baginya satu kebaikan yang sempurna.

๐Ÿ“ŒKejelekan itu ada empat tingkatan:

– berniat melakukan kejelekan dan mengamalkannya, maka dicatat satu kejelekan.

– berniat melakukan kejelekan dan akhirnya meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka dicatat baginya satu kebaikan yang sempurna.

–  berniat melakukan kejelekan dan meninggalkannya karena tidak mampu (‘ajez), maka dicatat baginya satu kejelekan.

– berniat melakukan kejelekan dan meninggalkannya bukan karena takut kepada Allah, bukan karena ‘ajez (tidak mampu), maka tidak dicatat baginya apa pun.

3.Rahmat Allah bagi hamba-Nya berlipat-lipat untuk kebaikan.

4.Baiknya pengajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menyebut sesuatu secara mujmal (global), lalu dirinci, innallaha katabal hasanaati was sayyiaati.

5.Berlipat-lipatnya pahala kebaikan. Asalnya, kebaikan dibalas dengan minimal sepuluh kebaikan yang semisal. Pahala tadi bisa berlipat hingga 700 kali lipat, hingga berlipat-lipat lebih dari itu. Pahala itu bisa berlipat-lipat karena beberapa sebab:

– waktu

– tempat

– jenis amal, amalan wajib ataukah sunnah

– pelaku amal

6.Kejelekan yang dimaksudkan dalam hadits di antaranya adalah dosa besar dan dosa kecil. Sebagaimana kebaikan yang dimaksudkan dalam hadits adalah amalan wajib dan sunnah.Kejelekan dibalas satu kejelekan. Ishaq bin Manshur mengatakan bahwa ia berkata kepada Imam Ahmad, “Manakah hadits yang menyebutkan kejelekan dicatat dengan dibalas lebih dari satu?” Imam Ahmad menjawab, “Tidak ada. Yang pernah kami dengar hanyalah di Makkah, karena keagungan negeri Makkah.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:318)

๐Ÿ“ŒReferensi:
Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.Khulashah Al-Fawaid wa Al-Qawa’id min Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Syaikh ‘Abdullah Al-Farih.Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.

Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumasyho.Com

๐Ÿ”€ Chanel Grup WA Al Manhaj Salafiy GMS

Fanspage:https://www.facebook.com/AlManhajSalafiy/
Telegram :http://t.me/Salafiyyah_GMS
Website:https://almanhajsalafiygms.wordpress.com
Website:https://almanhajsalafiy.blogspot.com/?m=1
*join grup khusus wanita Grup Manhaj salaf 5️⃣*
https://chat.whatsapp.com/KXGiW1ilW6UJhLVAeymQKh

✅ Silakan di-share